Latest Program: Di cobek raksasa, kota bercerita
Di cobek raksasa, kota bercerita
Latest Program – Surabaya, kota yang selalu dinamis, kembali menghadirkan suasana tak terlupakan dalam Festival Rujak Uleg 2026. Malam Sabtu (9/5) di Surabaya Expo Center, ruang luas yang sebelumnya kosong berubah menjadi tempat berkumpulnya ratusan warga. Cobek-cobek raksasa, sebagai simbol utama acara, menjadi pusat perhatian setiap orang yang hadir. Aroma terasi, petis, dan buah segar bercampur dengan antusiasme penonton yang riuh berteriak dan menggoyang tangan. Kehadiran kostum-kostum berwarna-warni yang menggambarkan dunia sepak bola membuat suasana semakin hidup. Festival ini bukan sekadar perayaan rasa, tetapi juga cerminan perubahan sosial dan budaya yang terjadi di Kota Pahlawan.
Tema “Rujak Phoria” menghadirkan dimensi baru dalam narasi kebudayaan Surabaya. Frasa ini tidak hanya sekadar jenaka dari kata “euforia”, tetapi juga strategi kreatif untuk menyatukan tradisi lokal dengan imajinasi global. Dengan konsep ini, rujak cingur yang sudah ada sejak lama tidak lagi dianggap sebagai makanan biasa, melainkan representasi identitas kota yang terus berkembang. Dalam era modernisasi, cobek raksasa menjadi alat untuk menyampaikan pesan bahwa kearifan lokal harus tetap relevan, sekaligus terbuka terhadap perubahan.
Interaksi yang Berarti
Pengunjung beragam latar belakang—dari warga sekitar hingga pengusaha—berinteraksi secara langsung dengan para pelaku festival. Bukan hanya sebagai penonton, mereka terlibat dalam proses menciptakan suasana yang hangat. Pengurus RW, komunitas kampus, dan pemilik usaha kecil mengambil peran aktif, memastikan bahwa acara ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga ruang dialog. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, yang hadir di tengah kerumunan, memperkuat pandangan bahwa festival ini adalah wujud kebersamaan, bukan sekadar panggung formal.
Kehadiran Eri Cahyadi di sela-sela kegiatan menunjukkan komitmen pemerintah kota untuk menyatukan kepentingan publik dalam penyelenggaraan acara budaya. Ia tidak memperlihatkan jarak formal, melainkan turut merasakan semangat warga. Aktivitas ini menggambarkan upaya membuat ruang publik Surabaya lebih inklusif, tempat di mana semua kalangan bisa merasakan manfaatnya. Festival ini menjadi cerminan kota yang terus beradaptasi, mencari keseimbangan antara tradisi dan inovasi.
Tradisi yang Terus Berkembang
Rujak cingur, yang sebelumnya hanya dijual di pasar tradisional, kini dipresentasikan dalam bentuk yang lebih megah. Acara ini menunjukkan bagaimana budaya lokal bisa diangkat sebagai isu nasional bahkan internasional. Dengan cobek raksasa sebagai simbol, festival ini menciptakan ruang dialog antara generasi muda dan tua, antara kehidupan sehari-hari dan imajinasi masa depan. Selain itu, acara ini juga memperkenalkan cara baru dalam menikmati makanan tradisional—sebagai pengalaman sensorik dan sosial.
Menghadirkan tema “Rujak Phoria” adalah langkah strategis untuk memperkaya identitas kota. Ini bukan sekadar penamaan, tetapi juga metafora tentang semangat rakyat yang tetap berjaya meski menghadapi tantangan modernisasi. Cobek raksasa menjadi pengingat bahwa meski kota semakin berkembang, nilai-nilai tradisi tetap harus dijaga. Pemilihan waktu acara selama HJKS ke-733 juga memberi kesan bahwa festival ini adalah bagian dari perayaan kolektif, bukan sekadar hiburan sementara.
Dalam suasana yang penuh semangat, keberadaan cobek raksasa menyampaikan pesan bahwa tradisi bisa menjadi alat untuk menyampaikan narasi baru. Tidak hanya sebagai makanan, cobek ini menjadi pembawa pesan tentang identitas kota yang terus bergerak. Prosesnya membutuhkan partisipasi aktif warga, mengubah festival menjadi ruang makna yang berkelanjutan. Hal ini menantang pertanyaan: apakah sebuah festival bisa bertahan sebagai ruang budaya yang hidup, atau hanya menjadi acara rutin?
Sebagai contoh, keberhasilan Festival Rujak Uleg 2026 menggambarkan bagaimana tradisi bisa diadaptasi untuk memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi. Rujak cingur yang dipadukan dengan seni pertunjukan memberi nilai tambah, menjadikannya lebih dari sekadar makanan. Dalam konteks kota yang semakin urban, acara ini menjadi pembuktian bahwa tradisi tidak harus mati, tetapi bisa diubah menjadi elemen yang membangun.
Banyak warga menyampaikan bahwa festival ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi kesadaran tentang pentingnya menjaga budaya lokal. Seorang ibu rumah tangga, misalnya, menyatakan,
“Acara ini memberi kesan bahwa makanan tradisional tetap relevan. Saya kagum bagaimana cobek raksasa bisa menjadi simbol kebersamaan.”
Hal ini menunjukkan bahwa festival bukan hanya kesenangan semata, tetapi juga alat untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam.
Kehadiran pembicara dari berbagai latar belakang juga memperkaya dinamika acara. Mereka membicarakan bagaimana festival bisa menjadi ruang untuk mengeksplorasi identitas kota, serta bagaimana inovasi bisa diintegrasikan tanpa mengorbankan keaslian. Dalam debat kecil yang terjadi, terlihat bahwa ada upaya untuk membangun konsensus tentang nilai-nilai yang diinginkan oleh masyarakat Surabaya.
Wali Kota Eri Cahyadi menekankan bahwa Festival Rujak Uleg adalah ruang yang dirancang untuk mewujudkan hubungan antara pemerintah dan warga. Ia berharap acara ini bisa menjadi model bagi kota-kota lain, agar tradisi bisa tetap hidup dalam konteks modern. Dengan pengaturan yang menyenangkan, festival ini juga menjadi sarana untuk membangun rasa bangga terhadap budaya lokal.
Meski begitu, di balik kesuksesan acara tersebut, ada pertanyaan tentang konsistensi dan dampak jangka panjang. Apakah festival ini akan terus menjadi simbol kebudayaan, atau hanya menjadi penampilan rutin yang mengandalkan keterlibatan warga setiap tahun? Jika keberhasilan ini bisa diulang, maka akan menjadi bukti bahwa tradisi bisa bertahan dan berkembang di tengah arus perubahan.