Key Issue: Distribusi Makanan Jemaah Haji Belum Merata Saat Sidak Jelang Armuzna
Key Issue – Jakarta, Pemeriksaan cepat yang dilakukan oleh Tim Pengawas Haji dari DPR RI sebelum penyelenggaraan ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) mengungkap adanya ketidakseimbangan dalam distribusi makanan kepada jemaah. Inspeksi ini mencakup sektor transportasi, akomodasi, kesehatan, dan konsumsi di Makkah. Temuan mengenai ketidakmerataan penyediaan makanan menjadi sorotan utama karena kesiapan jemaah haji dinilai krusial sebelum mereka menghadapi aktivitas fisik berat selama Armuzna.
Analisis Pola Penyaluran Makanan
Siti Mukaromah, anggota Timwas dari Fraksi PKB, menjelaskan bahwa sektor konsumsi menjadi fokus utama dalam Key Issue ini. “Makanan merupakan bagian penting yang harus siap sebelum jemaah menghadapi berbagai aktivitas selama Armuzna,” kata dia. Selama sidak, ditemukan bahwa di beberapa kloter, asupan makanan tidak terdistribusi secara merata, terutama pada malam hari saat jemaah mempersiapkan diri untuk beribadah. Ini memicu kekhawatiran karena penggunaan energi dan nutrisi menjadi faktor kunci dalam menjaga kesehatan jemaah.
“Pengadaan makanan yang tidak merata bisa mengurangi kenyamanan jemaah dan meningkatkan risiko kelelahan,” ujarnya dalam pernyataan yang diterima pada hari Minggu (24 Mei 2026).
Erma, sapaan akrab Siti Mukaromah, menekankan bahwa distribusi makanan harus sesuai dengan jadwal keberangkatan jemaah. Dalam inspeksi terhadap sektor 7, di Hotel 702, empat kloter yang menginap hanya menerima makanan siap saji untuk satu kloter. “Kloter lainnya masih menunggu, padahal distribusi seharusnya dilakukan secara bertahap sejak pagi hari,” tambahnya. Hal ini menunjukkan adanya kurangnya koordinasi dalam penyelenggaraan logistik haji.
Kesulitan Koordinasi Logistik
Kendala komunikasi dalam distribusi makanan dianggap sebagai Key Issue utama. Erma menyatakan bahwa jadwal kedatangan logistik konsumsi terkesan tidak jelas, sehingga menyulitkan Timwas untuk memastikan semua jemaah mendapatkan bahan makanan tepat waktu. “Ketidaknyamanan ini berpotensi mengganggu kualitas ibadah haji karena jemaah mungkin terlambat makan atau kekurangan energi,” jelas Erma.
“Kami menemukan adanya ketidakseimbangan distribusi. Dalam satu malam inspeksi, hanya satu kloter yang menerima makanan, sementara tiga kloter lainnya masih dalam penantian. Ini menjadi masalah serius dalam Key Issue layanan konsumsi jemaah haji,” ujarnya.
Erma menyoroti bahwa pola penyaluran makanan harus lebih adaptif. “Jemaah haji membutuhkan makanan yang disebarkan secara berkala, sesuai dengan jadwal keberangkatan mereka, agar tidak ada yang ketinggalan,” tambahnya. Persoalan ini menunjukkan bahwa sistem logistik haji perlu diperbaiki untuk menghindari ketidaknyamanan yang terjadi saat kegiatan ibadah berlangsung.
Pola Penyaluran yang Perlu Diperbaiki
Timwas DPR juga mengungkapkan bahwa pengaturan distribusi makanan masih kurang optimal. “Key Issue utama adalah ketidakmerataan asupan makanan, terutama pada kloter yang berangkat di malam hari,” kata Erma. Menurutnya, sistem saat ini hanya mempersiapkan stok makanan untuk kloter yang berangkat pagi, sementara kloter lain masih menunggu. “Ini berdampak pada kelelahan dan ketidaknyamanan jemaah selama Armuzna,” lanjutnya.
“Kami berharap pemerintah dan penyelenggara haji dapat memperbaiki pola distribusi makanan agar semua jemaah terlayani secara merata, sesuai dengan kebutuhan mereka saat menjalani ibadah,” ujarnya.
Persoalan ini menjadi indikasi bahwa manajemen logistik haji masih memerlukan perbaikan. Erma mengingatkan bahwa makanan harus terdistribusi secara berkala, bukan hanya untuk satu kloter, tetapi untuk seluruh jemaah haji. “Ketidakseimbangan dalam Key Issue distribusi makanan bisa memengaruhi kualitas ibadah dan kepuasan jemaah secara keseluruhan,” pungkasnya.
Langkah Peningkatan Kesiapan
Erma menyatakan bahwa Timwas DPR akan terus memantau kondisi distribusi makanan sebagai bagian dari Key Issue pengawasan haji. “Kami harap semua pihak dapat berkoordinasi lebih baik agar makanan tersedia tepat waktu,” tegasnya. Dalam inspeksi terakhir, ditemukan bahwa beberapa kloter masih mengalami keterlambatan dalam menerima asupan makanan, meski pihak penyelenggara sudah berupaya memperbaiki sistem.
“Distribusi makanan yang tidak merata adalah masalah utama dalam Key Issue ini. Jika tidak diperbaiki, risiko keluhan dari jemaah haji akan meningkat,” ujarnya.
Siti Mukaromah menegaskan bahwa kesiapan jemaah haji harus dipastikan dengan semua aspek, termasuk kebutuhan makanan yang cukup. “Key Issue terkait distribusi makanan menjadi bagian dari evaluasi yang terus dilakukan Timwas untuk memastikan penyelenggaraan haji berjalan lancar dan aman,” katanya. Erma berharap masalah ini dapat segera diperbaiki sebelum jemaah menghadapi aktivitas fisik berat di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
