Zakat Penghasilan: Pengertian dan Cara Menghitungnya
Pengertian Zakat Penghasilan
Zakat penghasilan merupakan bagian dari tiga jenis zakat dalam Islam, yaitu zakat mal, zakat fitrah, dan zakat penghasilan. Zakat ini berlaku untuk pendapatan yang telah mencapai nisab (batas minimal kekayaan) dan telah disimpan selama hijrah (waktu tertentu yang ditentukan). Zakat penghasilan dikenakan pada pendapatan yang diperoleh dari aktivitas ekonomi, seperti gaji, bisnis, investasi, atau hasil pertanian.
Secara umum, zakat penghasilan adalah kewajiban memberikan 10% dari pendapatan yang telah memenuhi syarat, sebagai bentuk syukur kepada Allah dan bagi hasil kekayaan kepada sesama masyarakat yang membutuhkan. Zakat ini tidak hanya berlaku untuk keuntungan yang diperoleh dari usaha atau investasi, tetapi juga untuk penghasilan tetap seperti gaji atau upah.
Dalam ajaran Islam, zakat diwajibkan sebagai salah satu rukun Islam yang membantu mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan umat. Zakat penghasilan memiliki prinsip dasar yang sama dengan zakat harta, yaitu mengambil sebagian dari kekayaan yang berlebihan untuk dibagi kepada kelompok yang berhak seperti fakir miskin, orang yang sedang dalam perjalanan, dan orang yang berhenti bekerja.
Jenis Pendapatan yang Dikenai Zakat Penghasilan
Untuk menghitung zakat penghasilan, terlebih dahulu perlu mengetahui jenis pendapatan yang memenuhi syarat. Dalam sistem zakat, beberapa sumber penghasilan bisa menjadi objek zakat, termasuk:
Pendapatan dari Usaha atau Bisnis
Jika seseorang memiliki bisnis atau aktivitas usaha, maka keuntungan usaha yang diperoleh setiap tahun bisa menjadi objek zakat. Misalnya, seorang pengusaha yang menghasilkan keuntungan bisnis setelah memenuhi nisab wajib memberikan 10% dari keuntungan tersebut sebagai zakat.
Pendapatan Gaji atau Upah
Pendapatan gaji atau upah yang diterima dari pekerjaan atau pekerjaan tetap juga bisa menjadi objek zakat penghasilan. Selama pendapatan ini telah mencapai nisab, maka 10% dari pendapatan bulanan atau tahunan harus dibayarkan sebagai zakat.
Pendapatan Sewa atau Bunga
Pendapatan sewa (rent) atau bungan (interest) yang diperoleh dari pinjaman atau investasi juga termasuk dalam zakat penghasilan. Contohnya, seorang pemilik properti yang menerima sewa dari tanah atau bangunan bisa wajib membayar zakat sebesar 10% dari pendapatan sewa setelah memenuhi nisab.
Pendapatan Khusus dari Harta Bergerak
Selain itu, pendapatan dari harta bergerak seperti emas, perak, atau saham juga bisa menjadi objek zakat. Jika harta tersebut diperoleh dalam bentuk pendapatan yang tidak langsung menjadi bagian dari kekayaan, maka zakat penghasilan dikenakan terhadap keuntungan yang diperoleh dari harta tersebut.
Cara Menghitung Zakat Penghasilan
Menghitung zakat penghasilan memerlukan beberapa langkah penting yang harus dipahami oleh pengusaha, pekerja, atau investor. Berikut adalah cara menghitung zakat penghasilan secara detail:
Menentukan Nisab Zakat Penghasilan
Sebelum menghitung zakat, pertama-tama perlu mengetahui nisab yang menjadi batas minimal. Nisab zakat penghasilan biasanya diukur berdasarkan nilai harta yang diperoleh. Dalam sistem zakat, nisab untuk zakat penghasilan sama dengan nisab zakat harta, yaitu sekitar 20 dinar atau 85 gram emas.
Namun, dalam praktik sehari-hari, nisab sering dihitung berdasarkan nilai uang yang berlaku. Misalnya, jika nilai 1 dinar emas adalah Rp 3.000.000, maka nisab zakat penghasilan adalah Rp 60.000.000. Jika pendapatan atau keuntungan seseorang melebihi nisab ini, maka ia wajib memberikan zakat sebesar 10% dari pendapatan yang memenuhi syarat.
Menentukan Hijrah Zakat
Hijrah adalah waktu yang diperlukan agar harta atau keuntungan mencapai nisab. Hijrah zakat penghasilan biasanya satu tahun untuk pendapatan tetap seperti gaji atau upah. Namun, untuk keuntungan usaha, hijrah bisa berbeda tergantung jenis usaha.
Misalnya, untuk usaha perdagangan, hijrah adalah satu tahun. Namun, untuk usaha pertanian, hijrah bisa lebih singkat, yaitu sebulan setelah panen. Jadi, ketika penghasilan dari usaha pertanian mencapai nisab setelah satu bulan, maka zakat penghasilan dikenakan.
Menghitung Pendapatan yang Memenuhi Syarat
Setelah menentukan nisab dan hijrah, langkah selanjutnya adalah menghitung pendapatan yang memenuhi syarat. Jika seseorang memiliki pendapatan bulanan yang mencapai nisab, maka zakat penghasilan dikenakan setiap bulan. Namun, jika pendapatan tidak teratur, maka zakat dikenakan setiap tahun.
Contohnya, jika seseorang menerima gaji bulanan sebesar Rp 10.000.000, dan nisab zakat adalah Rp 60.000.000, maka ia tidak wajib membayar zakat penghasilan setiap bulan. Namun, jika gajinya mencapai nisab dalam satu tahun, maka ia harus menghitung 10% dari total pendapatan yang melebihi nisab.
Menggunakan Rumus Zakat Penghasilan
Rumus dasar untuk menghitung zakat penghasilan adalah: Zakat Penghasilan = 10% x (Total Pendapatan – Pengeluaran Harian)
Namun, dalam praktik, beberapa syariat memperbolehkan penyesuaian rumus ini tergantung jenis pendapatan. Misalnya, untuk keuntungan usaha, zakat dikenakan hanya pada keuntungan bersih, bukan pada total pendapatan.
Langkah-Langkah Membayar Zakat Penghasilan
Setelah mengetahui cara menghitung zakat penghasilan, langkah berikutnya adalah membayar zakat secara tepat waktu dan sesuai aturan. Berikut adalah proses pembayaran zakat penghasilan yang perlu diikuti:
Mengidentifikasi Pendapatan yang Wajib Zakat
Pertama, lakukan pengidentifikasian pendapatan yang memenuhi syarat. Misalnya, jika seseorang memiliki pendapatan bulanan yang mencapai nisab, maka zakat dikenakan setiap bulan. Jika pendapatan dari usaha atau investasi mencapai nisab setelah satu tahun, maka zakat dikenakan setahun sekali.
Mencatat Pendapatan dan Pengeluaran Harian
Setelah mengetahui pendapatan yang wajib zakat, langkah selanjutnya adalah mencatat pendapatan dan pengeluaran harian. Catatan ini penting untuk menghitung keuntungan bersih yang akan dikenai zakat. Misalnya, jika pendapatan bulanan adalah Rp 10.000.000 dan pengeluaran harian adalah Rp 3.000.000, maka keuntungan bersih adalah Rp 7.000.000.

Menghitung Zakat Berdasarkan Keuntungan Bersih
Dengan menggunakan keuntungan bersih, hitung zakat penghasilan sebesar 10% dari total keuntungan. Jadi, jika keuntungan bersih adalah Rp 7.000.000, maka zakat yang harus dibayar adalah Rp 700.000.
Menyalurkan Zakat ke Kelompok yang Berhak
Setelah menghitung jumlah zakat, langkah terakhir adalah menyalurkan zakat kepada kelompok yang berhak. Zakat penghasilan biasanya diberikan kepada fakir miskin, orang yang sedang dalam perjalanan, orang yang berhenti bekerja, atau keluarga yang membutuhkan bantuan.
Manfaat Zakat Penghasilan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Zakat penghasilan tidak hanya menjadi kewajiban agama, tetapi juga memiliki manfaat praktis dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah beberapa manfaat utama dari zakat penghasilan:
Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Dengan memberikan 10% dari pendapatan kepada yang membutuhkan, zakat penghasilan membantu mengurangi kesenjangan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan umat. Zakat ini menjadi sumber pendapatan bagi fakir miskin dan orang yang kurang mampu, sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam perekonomian.
Mengatur Distribusi Kekayaan
Zakat penghasilan berperan dalam mengatur distribusi kekayaan secara adil. Dengan memberikan bagian dari pendapatan kepada sesama, zakat membantu menyeimbangkan antara pengusaha dan pekerja. Ini menjadi mechanisme keadilan sosial dalam sistem perekonomian Islam.
Mendorong Pertumbuhan Ekonomi
Zakat penghasilan juga mendorong pertumbuhan ekonomi karena menambah jumlah kekayaan yang tersedia bagi masyarakat. Dengan adanya sumber pendapatan tambahan, banyak orang miskin dapat berkembang secara ekonomi dan membantu ekosistem perdagangan.
Meningkatkan Kesadaran akan Kewajiban Agama
Membayar zakat penghasilan secara rutin meningkatkan kesadaran akan kewajiban agama. Ini membantu memperkuat iman dan ketaatan terhadap ajaran Islam, serta membentuk karakter sosial yang peduli kepada sesama.
Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan
Untuk lebih memahami cara menghitung zakat penghasilan, berikut adalah contoh perhitungan yang bisa digunakan sebagai referensi:
Contoh 1: Zakat Gaji
Misalnya, seseorang menerima gaji bulanan sebesar Rp 10.000.000, dan nisab zakat adalah Rp 60.000.000. Jika ia bekerja selama 12 bulan dan total gajinya mencapai Rp 120.000.000, maka zakat dikenakan 10% dari total gaji. Namun, jika pengeluaran harian adalah Rp 3.000.000 per bulan, maka keuntungan bersih adalah Rp 7.000.000 per bulan.
Jadi, total zakat penghasilan yang wajib dibayar adalah 10% x Rp 7.000.000 = Rp 700.000 per bulan, atau Rp 8.400.000 per tahun.
Contoh 2: Zakat Bisnis
Seorang pengusaha memiliki keuntungan bisnis sebesar Rp 20.000.000 per bulan. Jika nisab zakat adalah Rp 60.000.000, maka zakat dikenakan hanya ketika keuntungan mencapai nisab dalam satu tahun.
Misalnya, jika keuntungan bisnis selama satu tahun mencapai Rp 240.000.000, maka zakat yang wajib dibayar adalah 10% x Rp 240.000.000 = Rp 24.000.000.
Contoh 3: Zakat Sewa
Pemilik properti menerima sewa sebesar Rp 12.000.000 per bulan. Jika nisab zakat adalah Rp 60.000.000, maka zakat dikenakan setiap bulan.
Dengan demikian, zakat penghasilan yang wajib dibayar adalah 10% x Rp 12.000.000 = Rp 1.200.000 per bulan.
Pentingnya Zakat Penghasilan dalam Sistem Perekonomian Islam
Zakat penghasilan memiliki peran vital dalam sistem perekonomian Islam sebagai bentuk keadilan sosial dan penguasaan kekayaan. Dengan mewajibkan 10% dari pendapatan, zakat membantu mengurangi kesenjangan ekonomi antar masyarakat.
Selain itu, zakat penghasilan juga menjadi alat untuk melatih rasa syukur dan kesadaran keagamaan. Dengan mengatur pendapatan secara bijak, seseorang dapat memenuhi kewajiban agama sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan.
Dalam kehidupan sehari-hari, zakat penghasilan bisa diterapkan secara sederhana dengan mencatat pendapatan bulanan dan menghitung keuntungan bersih. Bagi pengusaha atau investor, zakat ini bisa menjadi bagian dari keuntungan yang dibagikan kepada yang berhak.
Kesimpulan
Zakat penghasilan adalah bagian dari wajib zakat dalam Islam yang dikenakan terhadap pendapatan yang memenuhi syarat. Dengan mengetahui pengertian zakat penghasilan, jenis pendapatan yang wajib, dan cara menghitungnya, seseorang dapat memenuhi kewajiban agama sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan.
Proses penghitungan zakat penghasilan melibatkan menentukan nisab, menghitung hijrah, dan menghitung keuntungan bersih. Dengan menerapkan zakat penghasilan, kita tidak hanya menunaikan kewajiban agama, tetapi juga menyumbangkan kekayaan kepada sesama sebagai bentuk kepedulian sosial.
Zakat penghasilan memiliki manfaat luas, mulai dari mengurangi kesenjangan ekonomi hingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan memahami dan melaksanakan zakat penghasilan, setiap Muslim dapat membantu menciptakan keadilan sosial dan mewujudkan kesejahteraan bersama.
Dalam kehidupan sehari-hari, zakat penghasilan bisa diterapkan secara sederhana dengan mencatat pendapatan bulanan dan menghitung keuntungan bersih. Bagi pengusaha atau investor, zakat ini bisa menjadi bagian dari keuntungan yang dibagikan kepada yang berhak.
Dengan demikian, zakat penghasilan tidak hanya menjadi wajib zakat yang harus dipenuhi, tetapi juga alat untuk menyebarkan kebahagiaan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Dalam sistem perekonomian Islam, zakat penghasilan berperan penting sebagai bentuk kesejahteraan bersama.