Rencana Khusus: Trump Ubah Nama ‘Kennedy Arts Center’ Jadi ‘Trump-K

Presiden Trump ‘Mengambil’ Kennedy Center? Ada Kepentingan Politik di Balik Nama yang Diganti!

Nah, bayangkan saja. Sebuah gedung bersejarah yang diberi nama sesuai peringatan pahlawan nasional, tiba-tiba berubah menjadi ‘Trump-Kennedy Center’ tanpa sepengetahuan pihak keluarga besar sang pahlawan. Apa yang terjadi di balik keputusan itu? Masih ingatkan dengan tindakan yang dianggap ‘gila’ ini, Trump mengubah nama Kennedy Arts Center menjadi miliknya sendiri, seolah-olah ia ingin menyematkan jejak kekuasaannya di setiap sudut bangsa Amerika.

Perang Nama: Presiden vs. Keluarga Kennedy

Perubahan nama Kennedy Center ini bukanlah hal yang sederhana. Tempat seni megah itu telah menjadi simbol kebanggaan Amerika sejak 1971, ketika dibuka di tepi Sungai Potomac. Namun, Trump mengambil inisiatif untuk menambahkan namanya di depan nama John F. Kennedy, yang terkenal sebagai presiden yang diabadikan dalam sejarah. Menurut Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, keputusan itu didasari kekaguman terhadap prestasi Trump dalam menyelamatkan gedung tersebut.

“Saya terkejut, saya merasa terhormat,”

kata Trump kepada wartawan setelah pengumuman perubahan nama gedung tersebut sebagaimana dilansir AFP, Jumat (19/12/2025).

Di sisi lain, keluarga Kennedy bersikukuh. Mereka menganggap perubahan nama ini tidak hanya memalukan, tapi juga mengabaikan konsensus yang seharusnya terjadi. Keponakan JFK, Maria Shriver, mengkritik tindakan Trump dengan mengatakan,

“Tidakkah kita melihat apa yang terjadi di sini? Ayolah, sesama warga Amerika! Sadarlah!”

Komentar ini menggambarkan ketegangan antara citra presiden dan penghargaan terhadap sejarah yang ditinggalkan oleh keluarga besar Kennedy.

Yang Membuat Perubahan Nama Menjadi Kontroversi

Ada yang menarik dari perubahan ini. Kennedy Center tidak hanya menjadi tempat seni, tapi juga menjadi ‘monumen hidup’ yang dianggap patut dihormati. Mantan anggota Kongres Joe Kennedy III mengingatkan bahwa nama tersebut diberikan melalui undang-undang federal, dan tidak bisa diganti tanpa persetujuan legislatif.

“Tidak mungkin diganti namanya seperti halnya Monumen Lincoln, apa pun yang dikatakan orang,”

tambahnya. Tindakan Trump justru memicu perdebatan tentang kewenangannya dalam mengubah sejarah.

“Selamat kepada Presiden Donald J. Trump, dan juga, selamat kepada Presiden Kennedy, karena ini akan menjadi tim yang benar-benar hebat untuk masa depan!”

ucap Karoline Leavitt.

Walau demikian, keputusan ini jelas menjadi pemanah politik. Trump ingin menunjukkan bahwa ia mampu memimpin perubahan, bahkan di tempat bernilai sejarah. Tapi, apakah keputusan ini akan membuat namanya tetap menjadi simbol kebanggaan, atau justru menjadi kritik yang menyeluruh? Terlepas dari itu, perubahan nama ini memperlihatkan cara Trump menghadapi isu-isu besar dengan gaya yang penuh ambiguitas.

AS Restui Penjualan Senjata Terbesar ke Taiwan: Taktik Diplomasi atau Pertarungan Ideologi?

Yang menarik, selain perubahan nama Kennedy Center, Trump juga sedang menggodok rencana pembongkaran Sayap Timur Gedung Putih untuk membangun ruang dansa senilai USD 400 juta. Tapi, keputusan yang paling kontroversial mungkin adalah tindakannya mengizinkan penjualan senjata besar ke Taiwan. Pasalnya, desakan China untuk AS berhenti menyenjatai Taiwan semakin keras, terutama dalam konteks hubungan diplomatik yang sedang tak stabil.

Penjualan Senjata ke Taiwan: Tanda Kekuatan AS di Pasar Global

Setelah perubahan nama Kennedy Center, AS juga menyetujui penjualan senjata terbesar ke Taiwan. Ini jelas menjadi bagian dari strategi Trump untuk memperkuat ikatan dengan pemerintah Taiwan, yang ia anggap sebagai ‘alli satelit’ dalam pertarungan geopolitik Asia Tenggara. Namun, dengan China yang mengancam akan mengambil tindakan jika AS terus memperkuat Taiwan, tindakan ini seolah menjadi perangkap untuk menunjukkan ambisi kekuatan militer AS.

“Saya terkejut, saya merasa terhormat,”

kata Trump kepada wartawan setelah pengumuman perubahan nama gedung tersebut sebagaimana dilansir AFP, Jumat (19/12/2025).

Analisis menunjukkan bahwa Trump ingin menegaskan bahwa kebijakan luar negerinya tetap berjalan meski di tengah kritik. Dengan menyetujui penjualan senjata ke Taiwan, ia mungkin ingin memperlihatkan bahwa AS tidak akan mundur dari peran ‘pengusung demokrasi’, meski China menganggap itu sebagai ancaman terhadap keutuhan wilayahnya. Tapi, apakah ini akan membuat Trump semakin populer, atau justru memperbesar tekanan dari pihak luar?

Bagaimana Sejarah dan Politik Bertemu di Jakarta?

Di balik semua rencana besar Trump, ada pertanyaan mendasar: Apakah pengambilan keputusan yang cepat ini selaras dengan proses demokrasi yang terbuka, atau justru menunjukkan dominasi kekuasaan individu? Dengan Kennedy Center menjadi contoh, keputusan-keputusan Trump tampaknya terus mengubah arah politik Amerika, seperti merubah nama monumen sejarah menjadi ‘kenangan pribadi’ yang ingin ia wariskan. Maka, ini bukan hanya tentang keputusan pemerintah, tapi juga tentang cara ia menyampaikan narasi kekuasaannya kepada publik.

Sejarah dan politik memang selalu saling memengaruhi. Dengan perubahan nama Kennedy Center dan penjualan senjata ke Taiwan, Trump mencoba menempatkan dirinya sebagai bagian dari ‘jalan sejarah’ Amerika, sekaligus memperkuat citra pemenang. Tapi, apakah niat itu benar-benar terwujud, atau justru akan menjadi kenangan yang berdarah? Siapa pun yang mengikuti perkembangan ini, jelas akan melihat betapa dinamisnya permainan kekuasaan di dunia politik saat ini.