Hasil Pertemuan: AS Restui Penjualan Senjata Terbesar ke Taiwan

Paket Senjata Terbesar untuk Taiwan: Perang Asimetris yang Membakar Ambisi Beijing?

Kontroversi muncul ketika Amerika Serikat mengumumkan penjualan senjata senilai **US$11,1 miliar** atau sekitar **Rp185 triliun** kepada Taiwan. Angka ini bukan sekadar nominal besar — ia mewakili pilihan strategis Washington yang memperkuat hubungan pertahanan dengan Taipei. Dalam tengah ketegangan geopolitik di Selat Taiwan, langkah ini seolah memberi sinyal bahwa **AS akan terus berada di sisi Taipei**. Tapi, mengapa pembelian senjata ini dinilai sebagai bentuk

“perang asimetris”

? Dan apa dampaknya bagi keseimbangan kekuatan di Asia Timur?

Senjata yang Dipesan Taipei: Dari Rudal Hingga Drone

Paket senjata yang disepakati ini mencakup delapan jenis sistem pertahanan, termasuk **HIMARS** — platform peluncur roket yang menjadi andalan Ukraina dalam perang melawan Rusia. Selain itu, terdapat **meriam artileri M109**, **rudal antitank Javelin**, dan **drone kamikaze Altius**. Jika dikemas dengan baik, kekuatan ini bisa memperbesar kemampuan Taiwan dalam menghadapi ancaman dari Cina.

“Amerika Serikat terus membantu Taiwan mempertahankan kemampuan bela diri yang memadai dan membangun daya tangkal kuat melalui keunggulan perang asimetris,”

kata Kementerian Pertahanan Taiwan. Kalimat ini, menurut mereka, adalah fondasi stabilitas kawasan.

“Amerika Serikat terus membantu Taiwan mempertahankan kemampuan bela diri yang memadai dan membangun daya tangkal kuat melalui keunggulan perang asimetris,”

Kutipan itu mencerminkan strategi yang lebih modern: **mengutamakan senjata kecil tapi efektif**. Dengan memasukkan drone dan rudal jarak menengah, Taiwan bisa memperkecil keunggulan militer Cina yang bergantung pada kekuatan konvensional. Mungkin, ini bukan hanya tentang memperkuat diri — tapi juga tentang memastikan **keberlanjutan perang di Selat Taiwan**.

Kritik dari Beijing:

“Pembakaran Diri Sendiri”

?

Beijing tidak menyukai langkah AS ini. Melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, mereka menyebut penjualan senjata sebagai ancaman

“sangat merusak bagi perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.”

“Dengan mempersenjatai ‘kemerdekaan Taiwan’, pihak AS hanya akan membakar diri sendiri,”

tegas Guo Jiakun. Mereka khawatir AS menggunakan Taiwan sebagai alat untuk memperpanjang dominasi militer terhadap Cina. Tapi, apakah kekhawatiran ini terlalu berlebihan, atau justru menggambarkan **perang yang tak terhindarkan**?

“Dengan mempersenjatai ‘kemerdekaan Taiwan’, pihak AS hanya akan membakar diri sendiri. Upaya menggunakan Taiwan untuk membendung Cina pasti gagal,”

Komentar ini memicu analisis. Jika AS terus memberi dukungan militer kepada Taiwan, Cina bisa melihatnya sebagai **langkah provokatif**. Tapi dari sisi Taiwan, paket senjata ini adalah harapan untuk mengurangi ketidakseimbangan kekuatan. Seperti yang diungkapkan oleh Karen Kuo, juru bicara Kantor Presiden Taipei, mereka ingin menunjukkan tekad mempertahankan diri.

“Kami akan terus mendorong reformasi pertahanan, memperkuat struktur pertahanan bagi seluruh masyarakat, dan menunjukkan tekad mempertahankan diri,”

ujarnya.

Perubahan Doktrin Militer: Teknologi yang Lincah dan Presisi

Dalam beberapa tahun terakhir, Taiwan mengalami transformasi signifikan dalam strategi militer. Fokus mereka sekarang bukan lagi pada perang adu kekuatan, melainkan **mengutamakan kecepatan, akurasi, dan daya rusak terbatas**. Hal ini terlihat dari pembelian senjata-senjata modern yang lebih mudah dioperasikan dan lebih cepat bereaksi. Bulan lalu, Presiden Taiwan Lai Ching-te bahkan mengumumkan anggaran tambahan sebesar **US$40 miliar** untuk periode 2026–2033.

“Tidak ada ruang kompromi untuk keamanan nasional,”

tegasnya. Sembari menyebut Beijing sebagai ancaman utama, Taipei pun terus mengisi persenjataan yang bisa menjadi

“panah”

dalam pertempuran yang semakin intens.

Konteks ini membuat penjualan senjata AS bukan hanya tentang kekuatan militer — tapi juga **pertaruhan politik dan ekonomi**. Dengan memperkuat Taipei, Washington berusaha memastikan bahwa Cina tidak bisa merampas kemerdekaan wilayah ini tanpa perlawanan yang memadai. Tapi, apakah ini akan membuat Cina lebih agresif, atau justru memperkuat jalinan kerja sama antara Beijing dan kota-kota besar seperti Shanghai atau Hangzhou? Jawaban dari pertanyaan ini bisa mengubah permainan di Asia Timur.