Strategi Penting: Desak Kapolrestabes Semarang Dicopot, Keluarga

Permintaan Copot: Keluarga Gamma Desak Kapolrestabes Semarang Tindak Lanjuti Kasus Penembakan Aipda Robig

Ada yang tak terduga terjadi di tengah proses hukum kasus penembakan Aipda Robig. Seorang pemuda 17 tahun, Gamma, yang menjadi korban kejadian tersebut, kini memicu gelombang reaksi di kalangan keluarga dan masyarakat. Selain mengharapkan keadilan, mereka juga menginginkan perubahan drastis di institusi kepolisian.

“Ini bukan sekadar kasus tunggal, tapi ujian bagi kepercayaan masyarakat terhadap Polri,”

tulis seorang netizen yang memantau perkembangan kasus ini. Namun, yang menarik adalah penampilan kuasa hukum keluarga Gamma, Zainal Abidin, atau yang akrab disapa Petir, sebagai penentu arah perubahan itu.

Keluarga Gamma Ceritakan Momen Diminta Bikin Video Pernyataan Ikhlas

Petir mengungkapkan bahwa keluarga Gamma tak hanya meminta keadilan, tetapi juga kesadaran dari pihak kepolisian. Menurutnya, ada momen krusial saat Kapolrestabes Semarang, Kombes Irwan Anwar, datang menghubungi mereka untuk membuat pernyataan ikhlas.

“Gamma ditutupi fakta, dan keluarga pun dipaksa mengikhlaskan kejadian itu,”

kata Petir sambil menekankan rasa frustrasinya. Kisah ini mengingatkan kita betapa seringnya kejadian kriminal kecil menjadi besar akibat penyampaian fakta yang salah, bahkan di tingkat tertinggi kepolisian.

“Sampai pagi ini tadi keluarga sudah telepon saya ‘Mas Petir, jangan kendor, untuk memantau supaya Kapolrestabes Semarang dicopot’. Saya tidak akan kendor, karena ini untuk memperbaiki institusi Polri,”

Kutipan tersebut menjadi bukti bagaimana keluarga Gamma memperjuangkan keadilan di luar jalur formal. Petir, sebagai pengacara, tak hanya menjadi juru bicara tetapi juga pemandu langkah-langkah tindak lanjut. Ia mengungkapkan bahwa keluarga terus mendorong dirinya untuk menyampaikan keluhan ke Mabes Polri, karena mereka merasa fakta-fakta penting masih tertutup.

“Ada kesan Irwan sengaja menghalangi pengungkapan yang jujur,”

imbuhnya dengan nada tajam.

Kuasa Hukum Keluarga Gamma Desak Kapolrestabes Semarang Dicopot, Ini Alasannya

Kasus Gamma kini menjadi bahan pembicaraan publik, bahkan muncul video sidang perdana Aipda Robig yang menjadi trending. Petir menegaskan bahwa tuntutan pencopotan Irwan bukanlah tindakan emosional, tetapi langkah strategis untuk memperkuat proses hukum.

“Kami ingin seluruh fakta dipertanggungjawabkan, bukan hanya kejadian yang terlihat,”

katanya. Ia pun menyebutkan bahwa keluarga Gamma telah menyurati Kapolri untuk meminta evaluasi besar-besaran, tetapi hingga kini belum ada respons yang memuaskan.

“Jadi tolong Kapolri kalau ingin institusinya baik, dibersihkan, jangan menutupi anak buahnya yang salah. Sudahlah kalau memang mau perbaikan untuk perlindungan masyarakat harus seperti itu,”

Kata-kata Petir ini memicu pertanyaan: Apakah kita benar-benar yakin institusi kepolisian mampu memperbaiki dirinya sendiri, atau justru membutuhkan tekanan dari luar? Keluarga Gamma menggambarkan konflik antara keadilan dan pengaruh struktural, yang memperlihatkan bagaimana kesalahan satu orang bisa memicu ketidaktahapan seluruh institusi.

Pihak Kepolisian Berdalih: Irwan dan Tim Penyidik Telah Profesional

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Artanto, mempertahankan sikap profesional Kapolrestabes Semarang. Menurutnya, Irwan telah menjalankan tugas dengan baik, bahkan mengungkap kenakalan remaja dalam kasus Gamma.

“Dia tetap melakukan tugasnya, tetap melakukan penyidikan terhadap kasus kenakalan remajanya. Tentunya ini rekan-rekan bisa melihat bagaimana perkembangan proses dari penyidikan tersebut,”

jelas Artanto dengan tegas. Namun, desakan keluarga Gamma dan masyarakat ternyata menyisakan ruang untuk diskusi lebih lanjut tentang transparansi dan akuntabilitas.

Insight dari kasus ini adalah bahwa keadilan sering kali tidak datang dengan sendirinya. Ia membutuhkan perjuangan, bahkan dari luar sistem, untuk memastikan fakta benar-benar terungkap. Apakah polisi harus mengakui kesalahan mereka, atau masyarakat harus terus mendesak hingga institusi tersebut melakukan perubahan? Pertanyaan ini mengingatkan kita bahwa setiap kasus kecil bisa menjadi cermin besar untuk perbaikan keseluruhan sistem hukum.