Agenda Kunjungan: Natal 2025, Kemenag Ingatkan Pentingnya Peran Kel
Momen Natal sebagai Peluang Membangun Keluarga dan Kepecahuan Sosial
Dalam suasana Natal yang penuh cahaya dan perayaan, Kementerian Agama RI (Kemenag) memilih momen ini untuk mengajak umat Kristiani melihat ke dalam akar kehidupan keluarga, bukan hanya sekadar merayakan hari raya keagamaan. Bagaimana jika Natal bukan hanya tentang kado atau pohon Natal, tapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat tali kekeluargaan dan kepedulian sosial? Jeane Marie Tulung, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kemenag, mengatakan tema Natal tahun ini—’Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga’—memang sengaja diangkat untuk menyoroti peran keluarga dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks.
Mengapa Keluarga Jadi Titik Pusat?
Keluarga, kata Jeane, adalah komunitas terkecil dalam masyarakat. Namun, komunitas ini sering kali menjadi tempat paling rentan terhadap dinamika dan tantangan. Dari masalah ekonomi hingga konflik antaranggota, banyak peristiwa yang memengaruhi keharmonisan keluarga. Dalam Injil Matius 1:21-24, Jeane menunjukkan kisah kelahiran Yesus yang menjadi inspirasi. Yusuf dan Maria, pasangan biasa yang hidup sederhana, tetapi justru dianggap menjadi ‘keluarga pilihan’ Tuhan.
“Kita berangkat dari keluarga Yusuf dan Maria, tapi harus melihat kondisi keluarga di masa kini,”
ujarnya.
“Jadi, kita bukan hanya berangkat dari keluarga Yusuf dan Maria, tetapi kita harus melihat kondisi keluarga di masa kini. Banyak sekali persoalan-persoalan yang tergacari dalam kehidupan keluarga,”
Kutipan Jeane ini mengingatkan kita bahwa keluarga masa kini tengah menghadapi ujian yang berbeda dari zaman dahulu. Misalnya, kekerasan dalam keluarga atau praktik judi online yang semakin meresahkan. Namun, di tengah kegelapan itu, ia menegaskan bahwa kehadiran Allah tetap bisa menjadi cahaya.
“Harapan muncul ketika keluarga membuka hati untuk menerima kehadiran-Nya,”
tambah Jeane. Bagaimana mungkin kita bisa mengabaikan peran keluarga dalam membentuk karakter dan nilai kehidupan?
Nilai Agama dan Moral dalam Keluarga
Keluarga, menurut Jeane, adalah tempat pertama yang membentuk nilai-nilai agama dan moral seseorang. Jika nilai itu terbangun dengan baik, maka individu akan mengalirkan kebaikan ke lingkungan sekitarnya.
“Ketika seseorang itu mendapat ajaran yang benar dalam kehidupan keluarga, nilai-nilai agama dan moralnya akan membentuk karakter yang baik,”
katanya. Yang menarik, ini bukan hanya tentang kehidupan pribadi, tetapi juga tentang interaksi dengan sesama, termasuk dalam kehidupan bermasyarakat dan antarumat beragama.
“Keluarga yang membangun komunikasi yang baik, komunikasi yang terbuka antara satu dengan yang lain. Karena kadang-kadang kehidupan keluarga itu tidak harmonis karena komunikasi yang tidak terbuka.”
Dari sini, kita bisa melihat bahwa Natal tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga pengingat bahwa keharmonisan keluarga bisa menjadi fondasi kehidupan sosial yang lebih baik. Jeane mengharapkan umat Kristen di Indonesia dapat memanfaatkan hari Natal sebagai kesempatan untuk merefleksikan kekuatan komunikasi dan kepedulian dalam kehidupan rumah tangga. Bagaimana jika kita melihat Natal bukan hanya sebagai hari untuk bersuka cita, tetapi juga untuk memperbaiki hubungan dalam keluarga?
Harapan dan Kebahagiaan dalam Keluarga
Dalam kesempatan itu, Jeane juga menyampaikan doa dan harapan bagi umat Kristen. Ia berharap keluarga di Indonesia dapat diberkati Tuhan, terutama dalam cara mereka berkomunikasi dan menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya.
“Keluarga yang membangun komunikasi terbuka akan menciptakan keharmonisan yang sejati,”
tuturnya. Dengan cara ini, kata Jeane, keluarga bukan hanya menjadi tempat perlindungan, tetapi juga pusat perjuangan untuk membangun masyarakat yang lebih bermoral dan peduli.
Yang terpenting, Natal tahun ini mengajak kita untuk mengingat kembali bahwa Allah hadir dalam setiap kehidupan keluarga, bahkan di tengah krisis. Jadi, bagaimana kita bisa menjadikan momen ini sebagai kesempatan untuk mengubah destinasi keluarga kita, agar menjadi tempat penuh kehangatan dan keharmonisan? Itu mungkin adalah pesan terbesar yang ingin disampaikan Kemenag melalui tema Natal tahun ini.