Program Terbaru: Karir Militer Try Sutrisno, Sempat Gagal di Tes Fisik hingga Menarik Perhatian Mayjen GPH Djatikusumo & Ajudan Soeharto

Ads
RumahBerkat - Post

Karir Militer Try Sutrisno: Dari Ujian Fisik yang Gagal hingga Menjadi Wapres RI

Try Sutrisno meninggal dunia di usia 90 tahun setelah menjalani perawatan selama dua minggu di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, akibat dehidrasi. Jenazah rencananya akan disalatkan di Masjid Sunda Kelapa dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, pada Senin (2/3). Penyebab kematian almarhum diberitakan terjadi pada pukul 06.58 WIB pagi hari.

Momok Awal di ATEKAD

Saat muda, Try Sutrisno mengalami hambatan dalam karir militer. Ia gagal dalam ujian fisik ketika mendaftar di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) beberapa tahun silam. Namun, nasib berubah setelah Mayjen Gusti Pangeran Harya (GPH) Djatikusumo, seorang ajudan Soeharto, tertarik pada sosoknya. Melalui undangan dari Djatikusumo, Try akhirnya mengikuti pemeriksaan psikologis di Bandung, Jawa Barat, dan diterima masuk ATEKAD.

Sebelumnya, Try bertemu dengan Benny Moerdani, seorang teman akrab yang juga menjadi tokoh penting dalam dunia militer. Karirnya dimulai tahun 1957, saat ia terlibat dalam operasi melawan gerakan PRRI di Sumatra. Setelah lulus dari ATEKAD pada 1959, ia menyelesaikan tugas di beberapa daerah, termasuk Sumatra, Jakarta, dan Jawa Timur.

Karir Meningkat dan Jabatan Tertinggi

Tahun 1972, Try dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad), yang mempercepat peningkatan kariernya. Tahun 1974, ia terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto, posisi yang membuatnya dikenal luas. Dalam tiga tahun, Try dianugerahi jabatan sebagai Panglima Kodam XVI/Udayana, kemudian diangkat menjadi Panglima Kodam IV/Sriwijaya.

Ads
RumahBerkat - Post

Pada 1986, ia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) dan bertugas hingga 1988. Dalam masa jabatan itu, Try membentuk Ban Tabungan Wajib Perumahan TNI AD untuk membantu prajurit membeli rumah. Karirnya mencapai puncak saat menjabat Panglima ABRI periode 1988-1993. Meski sempat mengatakan tidak berniat menjadi wapres, jabatan tersebut akhirnya menemani usia senja almarhum.

Jejak Pengabdian yang Tak Terlupakan

Try Sutrisno juga dikenang karena perannya dalam menangani penyelundupan timah dan kampanye konservasi gajah Sumatra. Selama masa jabatan, ia aktif dalam berbagai operasi keamanan, termasuk dalam peristiwa Tanjung Priok. Setelah pensiun, almarhum sempat berbagi cerita tentang kisah hidupnya, salah satunya tentang mencicil rumah dinas selama 15 tahun karena ketidakmampuan memiliki uang tunai.

“Siapa sangka bocah penyemir sepatu itu menjadi Panglima,” ujar Prabowo dalam pidatonya, menyoroti perjuangan Try Sutrisno sebagai jenderal legendaris TNI.

Sebagai salah satu putra terbaik Indonesia, Try Sutrisno meninggalkan jejak abadi dalam sejarah TNI dan perjalanan bangsa. Ia berdiri tersenyum di samping Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD), Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak, saat menghadiri acara peringatan. Dua anak almarhum, Irjen Pol (Purn) Firman Santyabudi dan Letjen Kunto Arief Wibowo, turut menyaksikan momen tersebut.

Setelah mengakhiri masa aktif, almarhum diangkut ke rumah duka di Jalan Purwakarta No 6, Menteng, Jakarta Pusat. Istana meminta RSPAD Gatot Soebroto, Garnisun Jakarta, dan Kementerian Sekretariat Negara memberikan perhatian maksimal terhadap jenazahnya. Kepergian Try Sutrisno memperlihatkan perjalanan hidup yang penuh dedikasi, dari bawah hingga mencapai puncak karir sebagai salah satu tokoh utama militer Indonesia.

Ads
RumahBerkat - Post