Kunjungan Penting: Panic Buying BBM Merebak, Antrean SPBU Mengular Panjang
Panic Buying BBM Merebak, Antrean SPBU Mengular Panjang
Rabu (4/3/2026), antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Seoul, Korea Selatan, terlihat sangat panjang. Warga berbondong-bondong ke SPBU untuk mengisi tangki, mendorong lonjakan harga minyak global akibat perang di Iran. Banyak pengemudi khawatir tarif bahan bakar akan terus naik dalam beberapa hari ke depan.
Warga Takut Harga BBM Naik Lagi
Bagi sebagian orang, keputusan datang ke SPBU didorong kekhawatiran sederhana: mengisi bahan bakar sebelum harganya semakin mahal. “Saya merasa hari ini mungkin harga bahan bakar termurah untuk sementara waktu, jadi saya datang untuk mengisi tangki saya,” kata Shin Yong-in (70). Ia menilai situasi kali ini berbeda dibanding perang Rusia-Ukraina, terutama setelah laporan bahwa Iran memblokir Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia, mulai mengemuka.
“Karena negara ini bergantung sepenuhnya pada impor minyak, fluktuasi harga dan gangguan pasokan terus mengkhawatirkan,” kata Lee Kang-suk (72). Ia juga menyoroti pelemahan won terhadap dolar AS yang memperberat tekanan terhadap harga bahan bakar.
Operator SPBU Lihat Antrean Lebih Panjang
Secara umum, meski belum ada gejolak pembelian massal, operator SPBU mengakui antrian mengalami peningkatan signifikan dibandingkan hari-hari biasa. Beberapa pengemudi mengungkapkan kecemasan terhadap risiko kenaikan harga lanjutan, terlebih di tengah ketidakpastian geopolitik dan gejolak nilai tukar.
Kenaikan Harga BBM Memicu Perdebatan
Korea Selatan mengimpor hampir seluruh kebutuhan minyak mentahnya, sehingga rentan terhadap gangguan pasokan dan fluktuasi mata uang. Won sempat melemah melewati level 1.500 per dolar AS untuk pertama kalinya dalam 17 tahun sebelum akhirnya pulih, setelah bank sentral memberi sinyal kesiapan untuk meredam volatilitas di pasar.
“Saya meragukan apakah cadangan minyak mentah negara ini cukup untuk mengatasi kenaikan harga, apalagi saat nilai tukar won terhadap dolar AS terus meningkat,” ujar Yoo Choong-in (58).
Analisis Peringatkan Kenaikan Harga BBM
Analisis menunjukkan bahwa konflik di Iran dan kemungkinan penyumbatan Selat Hormuz bisa mendorong harga Brent crude oil melebihi 100 dolar AS per barel jika perang berlangsung lama. Harga Brent mencapai level tertinggi sejak Juli 2024, dengan kenaikan lebih dari 7% pada hari Selasa.
Kenaikan harga energi dinilai berisiko menekan inflasi, neraca transaksi berjalan, serta pertumbuhan ekonomi negara berkembang, termasuk Korea Selatan. Goldman Sachs memperkirakan lonjakan Brent dari 70 dolar AS menjadi 85 dolar AS per barel dapat menambah sekitar 0,7 poin persentase inflasi di Asia, sekaligus memangkas 0,5 poin pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut.



