Rencana Khusus: Badai Kabar Buruk Hantam RI: Harga Minyak & Dolar Melesat, China Suram
Badai Kabar Buruk Hantam RI: Harga Minyak & Dolar Melesat, China Suram
Pasar keuangan dalam negeri ditutup dengan penguatan pada perdagangan hari Kamis (5/3/2026). Bursa saham, kurs rupiah, dan harga obligasi mengalami kenaikan, meski diperkirakan akan menghadapi tekanan berat pada hari ini. Data lengkap mengenai proyeksi pasar hari ini dapat dilihat pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 133,48 poin atau 1,76% ke level 7.710,54. Dari 597 saham yang menguat, 125 saham turun dan 96 saham stagnan. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp 210 miliar. Transaksi hari tersebut terbilang sepi, dengan nilai Rp 17,9 triliun dan volume 34,5 miliar saham.
Penguatan IHSG Dipimpin Sektor Perbankan
Mengutip Refinitiv, kenaikan IHSG didorong oleh saham perbankan dengan kapitalisasi besar. Bank Central Asia (BBCA) menjadi penyumbang terbesar, mengantarkan 21,32 poin indeks. Diikuti oleh Bank Mandiri (BMRI) sebesar 11,26 poin dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar 9,43 poin. Sektor finansial tercatat menguat 2,34%.
Mengutip Refinitiv, penguatan IHSG ditopang oleh saham perbankan berkapitalisasi besar. Bank Central Asia (BBCA) menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan 21,32 poin indeks, diikuti Bank Mandiri (BMRI) sebesar 11,26 poin dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar 9,43 poin.
Dalam kawasan Asia, mayoritas pasar saham juga bergerak naik. Penguatan dipimpin oleh KOSPI Korea Selatan yang mencapai lonjakan 9,63%. Indeks tersebut sempat menyentuh kenaikan hingga 12%, didorong oleh kenaikan signifikan saham teknologi besar seperti SK Hynix dan Samsung Electronics, yang masing-masing naik lebih dari 10% dan 11%.
Sementara itu, rupiah berhasil ditutup menguat tipis terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis. Mata uang Garuda menutup di level Rp16.875/US$ atau terapresiasi 0,03%. Ini membalikkan posisi rupiah yang terkoreksi pada hari sebelumnya, Rabu (4/3/2026), saat rupiah melemah 0,18% ke Rp16.880/US$.
Rupiah Melangkah Akibat Dinamika Eksternal
Pergerakan rupiah sepanjang perdagangan kemarin dipengaruhi oleh dinamika eksternal, terutama pergerakan DXY yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama. Dolar AS menguat setelah sempat mundur dari level tertinggi tiga bulan. Ketegangan perang di Timur Tengah terus mengguncang pasar global, menjaga sentimen tetap rapuh. Dolar AS menjadi aset safe haven yang diminati investor.
Di sisi lain, pasar valas tetap dibayangi ketidakpastian dari perang AS-Israel melawan Iran yang memasuki hari keenam. Iran menghantam kapal tanker minyak dengan rudal, memicu kenaikan harga minyak mentah AS ke US$80 per barel. Peristiwa ini juga memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai alat perlindungan.
Wall Street Mengalami Penurunan
Bursa saham AS, Wall Street, melanjutkan penurunan pada Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 784,67 poin atau 1,61% ke 47.954,74. S&P 500 melemah 0,56% ke 6.830,71, sementara Nasdaq Composite melandai 0,26% ke 22.748,99.
Aksi jual di Wall Street dipimpin oleh Boeing, Caterpillar, serta saham-saham lain yang diperkirakan paling terdampak jika ekonomi global melambat. Harga minyak yang melonjak menjadi faktor utama yang memengaruhi volatilitas pasar.
Peningkatan Harga Minyak Memicu Kebingungan Pasar
Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) mencapai level tertinggi sejak Juli 2024, melebihi US$80 per barel. WTI ditutup naik lebih dari 8% ke US$81,01 per barel. Sementara itu, patokan internasional Brent crude ditutup hampir 5% lebih tinggi di US$85,41 per barel.
Pergerakan harga minyak ini memicu fluktuasi besar di pasar selama sesi perdagangan. Dow Jones sempat anjlok 1.000 poin hampir bersamaan dengan saat harga minyak menyentuh US$80 per barel. Indeks tersebut bahkan mencapai titik terendah dengan penurunan lebih dari 1.100 poin atau sekitar 2,4%. S&P 500 dan Nasdaq juga diperdagangkan mendekati level terendah sesi.
Add as a preferred source on Google



