Pembahasan Penting: Perang AS-Iran Makan Korban Arab Saudi, “Proyek Gila” Bisa Kacau
Perang AS-Iran Makan Korban Arab Saudi, “Proyek Gila” Bisa Kacau
Krisis Militer Ancam Visi 2030 Saudi
Jakarta, CNBC Indonesia – Rencana ambisius Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), yang bertujuan mengubah kerajaan menjadi pusat inovasi dan kemakmuran global kini menghadapi tantangan serius. Tegangan militer yang memuncak di Timur Tengah berpotensi mengganggu proyek Vision 2030, yang dirancang untuk menyaingi Dubai sebagai pusat bisnis regional dan menarik investasi serta talenta internasional.
Pemicu konflik ini muncul setelah Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari, mengakibatkan kematian Ayatollah Khamenei, pemimpin tertinggi Iran. Serangan tersebut memicu reaksi keras dari Iran, yang tidak hanya menargetkan Israel tetapi juga semua negara Teluk yang memiliki pangkalan militer AS, termasuk Arab Saudi.
Pembalasan Iran Mengguncang Stabilitas Teluk
Dalam pekan ini, pertahanan udara Arab Saudi terpaksa menangani serangan drone dan rudal dari Iran. Kegiatan ini sempat mengganggu operasional kilang minyak Ras Tanura. Insiden ini mematahkan ilusi keamanan yang selama ini menjadi kebanggaan Kerajaan Teluk.
“Normalisasi volatilitas menjadi risiko besar bagi ekspansi ekonomi Arab Saudi. Visi 2030 bergantung pada kredibilitas jangka panjang, bukan hanya stabilitas absolut,” ujar Dania Thafer, direktur eksekutif Gulf International Forum.
Thafer menegaskan bahwa asumsi visi tersebut menjadi kurang meyakinkan jika wilayah Teluk tidak lagi dianggap sebagai zona stabil, tetapi sebagai front perang aktif. Penurunan kepercayaan investor dan ekspatriat akan memperparah narasi transformasi yang sedang diupayakan.
Neom: Proyek Megah yang Menghadapi Kendala
Salah satu elemen kunci dari Vision 2030 adalah megaproyek Neom, yang merupakan inisiatif kota masa depan terambisius dalam sejarah. Proyek senilai lebih dari US$490 miliar ini mencakup pembangunan resor ski, kawasan industri di Laut Merah, serta kota megastruktur The Line yang memiliki panjang 170 km.
Akan tetapi, proyek tersebut telah mengalami hambatan, mulai dari penundaan hingga peningkatan biaya yang signifikan. Hal ini memaksa pemerintah Saudi untuk menyesuaikan skala kegiatan pembangunan. Para ahli memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan bisa menghambat upaya MBS menarik talenta senior dari negara-negara Barat.
Reputasi Saudi vs. Dubai: Daya Tahan yang Berbeda
Dr. Neil Quilliam dari Chatham House menilai keberhasilan Saudi dalam menjaga eksekutif ekspatriat tergantung pada dampak krisis terhadap kepercayaan bisnis. “Kerajaan harus memastikan bahwa investasi dan talenta tetap tertarik berada di sini, meski ada ketegangan,” katanya.
Quilliam menambahkan bahwa skala wilayah Saudi, yang setara dengan Eropa Barat, menjadi keuntungan dalam pemulihan. Sementara itu, Dania Thafer menyatakan bahwa kerajaan memiliki kerugian reputasi lebih rendah dibanding Dubai, karena keamanan bukanlah “merek” utama mereka. Penerbangan domestik masih berjalan, dan sejumlah ekspatriat dari UEA justru beralih ke Riyadh melalui jalur darat.



