Kebijakan Baru: Penyebab Harga Emas Anjlok, Logam Mulia di Bawah Rp3 Juta
Penyebab Harga Emas Anjlok, Logam Mulia di Bawah Rp3 Juta
JAKARTA – Harga emas global mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir. Analis keuangan Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, fluktuasi tersebut dipengaruhi oleh dua faktor utama: penguatan dolar AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik. Menurutnya, pada hari Sabtu pagi, harga emas tercatat di USD4.497,37 per troy ons, turun secara signifikan dibandingkan sesi sebelumnya.
Harga logam mulia di dalam negeri juga ikut terdampak dan ditutup di kisaran Rp2.893.000 per gram. Ibrahim memperkirakan, tren pelemahan ini berpotensi berlanjut hingga pekan ini, dengan kemungkinan harga logam mulia tetap berada di bawah Rp3 juta per gram. “Dalam minggu depan, harga logam mulia bisa terjebak di bawah Rp3 juta, kisaran Rp2.890.000 per gram,” kata dia kepada media, Senin (23/3/2026).
“Jadi ada kemungkinan besar dalam minggu ini logam mulia akan di bawah Rp3 juta. Itu di Rp2.890.000 per gram,” ujarnya.
Analisis Ibrahim menambahkan, jika tekanan terus berlanjut, harga emas global mungkin mencapai support pertama di USD4.423,06 per troy ons. Bila situasi makin memburuk, support berikutnya berada di kisaran USD4.319,00, yang bisa mendorong harga logam mulia turun ke Rp2.840.000 hingga Rp2.800.000 per gram. Namun, peluang kenaikan harga juga masih terbuka.
Jika emas kembali naik dan melewati resistance USD4.559,86 per troy ons, maka logam mulia berpotensi menguat ke Rp2.920.000 per gram. Sementara, jika penguatan melanjutkan diri hingga resistance kedua USD4.681,50, harga logam mulia diperkirakan mendekati Rp2.980.000 per gram, meski belum menyentuh Rp3 juta.
Menurut Ibrahim, kekuatan dolar AS saat ini memicu pergeseran minat investor. Indeks dolar diprediksi akan naik mendekati 101,20 dari level support 98,73, yang semakin mengurangi daya tarik emas sebagai aset investasi. Selain itu, kenaikan harga energi juga memperkuat tekanan terhadap logam mulia.
Harga minyak mentah berpotensi berada di rentang 93.300 hingga 107.100, sementara Brent crude oil bisa menyentuh kisaran 110.000 hingga 116.000. Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi global, sehingga bank sentral cenderung mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi.
Ibrahim menegaskan, meski mengalami penurunan, emas masih menjadi aset lindung nilai yang relevan. Ia menilai pelemahan saat ini adalah koreksi wajar dalam kondisi pasar yang dinamis dan ketidakpastian geopolitik yang tinggi. Di dalam negeri, penurunan nilai rupiah justru bisa memperlambat penurunan harga logam mulia, sehingga berpeluang stabil dan mendekati Rp3 juta per gram dalam waktu dekat.
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, serta pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.



