Program Terbaru: Mengapa Nabi Muhammad Hanya Sekali Berhaji? Ini Makna Besarnya
Mengapa Nabi Muhammad Hanya Sekali Berhaji? Ini Makna Besarnya
Ibadah haji menjadi salah satu dari lima rukun Islam yang wajib dilakukan umat Muslim seumur hidup, selama memiliki kemampuan fisik dan finansial. Hal ini disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, khususnya pada surah Ali ‘Imran ayat 97. Namun, terdapat hal yang menarik: Nabi Muhammad SAW, yang dianggap sebagai teladan bagi umat, hanya melaksanakan haji satu kali dalam hidupnya. Meski setelah kemenangan Fath Makkah, ia memiliki peluang untuk mengulangi ibadah tersebut.
“Rasulullah SAW menetap di Madinah selama sembilan tahun tanpa menunaikan haji. Lalu, diumumkan kepada orang-orang bahwa beliau akan berhaji tahun itu. Banyak orang datang ke Madinah, semuanya ingin belajar dari Nabi SAW dan mengikuti langkahnya,”
— Jabir ibn Abdullah. Baca juga: Empat Khalifah, Empat Krisis: Ujian Berat di Awal Sejarah Islam.
Sejarah Pelaksanaan Ibadah Haji
Ibadah haji mulai disyariatkan sekitar tahun 6 Hijriah, tetapi pelaksanaannya tidak langsung lancar karena kondisi politik masih belum stabil. Nabi sempat terhalang memasuki Makkah dan baru bisa melaksanakan umrah setelah Perjanjian Hudaibiyah. Setelah Makkah dibebaskan pada tahun 8 Hijriah, umat Islam telah menguasai kota suci tersebut, namun Nabi tidak segera melaksanakan haji.
Momen Strategis di Tahun 8 dan 9 Hijriah
Setelah membebaskan Makkah, Nabi fokus pada konsolidasi umat, stabilitas wilayah, serta penyesuaian kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat yang baru berubah ke Islam. Tahun 8 Hijriah menjadi momen penting untuk memperkuat posisi politik dan keagamaan. Baca juga: Belajar dari Umar bin Khattab, Cara Mengatasi Krisis Pangan.
Pada tahun 9 Hijriah, Makkah telah menjadi pusat kekuatan Islam, dengan banyak kabilah dari Jazirah Arab datang ke Madinah untuk menyatakan kesetiaan. Periode ini disebut “Tahun Delegasi” karena Nabi memilih berada di Madinah untuk menerima, membimbing, dan mengedukasi para utusan tersebut. Mereka kembali ke daerah masing-masing untuk menyebarkan ajaran Islam lebih luas.
Ibadah Haji yang Membawa Puncak Dakwah
Pada awal tahun 10 Hijriah (631 M), Nabi secara terbuka mengumumkan rencana untuk memimpin haji setelah Ka’bah sepenuhnya diperistiskan dari praktik kemusyrikan. Seruan ini menyebar ke seluruh Jazirah Arab, mengundang antusiasme besar dari umat Muslim yang berbondong-bondong ke Madinah. Peristiwa tersebut direkam oleh Jabir bin Abdullah sebagai bukti besarnya partisipasi umat dalam hajj yang menjadi bagian dari sejarah Islam.



