Yang Terjadi Saat: Dubes sebut Iran menang, AS “terpaksa” terima 10 tuntutan gencatan

Dubes Iran: Negara Ini Menang, AS “Terpaksa” Terima 10 Syarat Gencatan

Jakarta, Sabtu — Duta Besar Iran, Mohammad Boroujerdi, menyatakan bahwa Iran telah meraih kemenangan setelah berperang lebih dari 40 hari melawan Amerika Serikat dan Israel. Ia menekankan bahwa hasil perang ini mendorong AS untuk menerima sepuluh kerangka tuntutan gencatan senjata yang diajukan Teheran sebagai dasar bagi negosiasi perdamaian di Islamabad, Pakistan.

“Iran berhasil memaksakan agar Amerika menerima sepuluh persyaratan yang dipertanyakan. Iran menunjukkan kepada dunia bahwa AS, secara terpaksa, menerima syarat-syarat tersebut,” ujar Boroujerdi dalam acara peluncuran buku peringatan tokoh tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Dubes Iran mengapresiasi kemenangan itu sebagai bentuk keberhasilan Islam dalam melawan musuh-musuhnya. Ia juga menegaskan bahwa serangan balik Iran telah menghancurkan 17 pangkalan militer AS-Israel serta mengganggu sistem pertahanan Zionis. Selain itu, negara ini juga mampu mengarahkan serangan ke kota-kota di Israel.

Boroujerdi menyatakan bahwa Iran merasa tak terduga karena AS menerima sepuluh syarat yang diajukan. Menurutnya, syarat-syarat tersebut mengharuskan AS menghentikan serangan terhadap Iran dan sekutu-sekutunya. Negosiasi yang dijalankan di Islamabad, Pakistan, menurut laporan kantor berita Anadolu, telah menerima kerangka kerja sepuluh poin sebagai dasar diskusi.

Kerangka Syarat Gencatan Senjata

Kerangka sepuluh syarat tersebut mencakup pengakuan hak Iran untuk memperkaya uranium, pencabutan sanksi AS, penarikan pasukan Amerika dari Timur Tengah, serta penyelesaian permusuhan di berbagai lini, termasuk Lebanon. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, menambahkan bahwa negara ini selalu mendukung diplomasi dan dialog, tetapi menolak gencatan senjata yang memungkinkan lawan mengisi kembali persenjataannya.

“Iran selalu menyambut diplomasi dan dialog,” kata Takht-Ravanchi, sambil menegaskan bahwa negosiasi tidak boleh menjadi alasan untuk agresi baru.