Kebijakan Baru: Menhut tekankan pengelolaan SDA berkelanjutan di Kwibuka ke-32

Ads
RumahBerkat - Post

Menhut Tekankan Pengelolaan SDA Berkelanjutan di Kwibuka ke-32

Jakarta – Dalam acara peringatan Kwibuka ke-32 di Rwanda, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menekankan pentingnya pendekatan pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang berkelanjutan sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Menurut pernyataannya yang diterima di Jakarta, Rabu, hasil keberhasilan Rwanda di bidang konservasi lingkungan dianggap sebagai contoh inspiratif bagi pengelolaan SDA yang efektif.

“Hasil ini memiliki dampak positif pada aspek ekologis dan berkontribusi signifikan pada perekonomian Rwanda,” kata Raja Antoni.

Selain itu, Menhut menyoroti peran penting konservasi gorila gunung di Taman Nasional Volcanoes sebagai bukti nyata keberhasilan konservasi. Upaya ini dinilai sebagai model global dalam menjaga keanekaragaman hayati melalui kebijakan yang konsisten dan perlindungan kawasan yang kuat.

“Dengan keterlibatan aktif masyarakat lokal dan kebijakan konservasi yang terus menerus, populasi gorila meningkat pesat dan menjadi simbol pencapaian konservasi internasional,” ujarnya.

Menhut juga menekankan bahwa pariwisata berbasis konservasi, khususnya aktivitas pelacakan gorila, menjadi salah satu pendapatan utama bagi Rwanda. “Ini membuktikan bahwa upaya lingkungan dan pertumbuhan ekonomi bisa saling mendukung,” tambah Raja Antoni.

Pendekatan tata kelola kolaboratif dan jasa ekosistem, menurut Menhut, merupakan faktor utama keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi di Rwanda. Hutan tidak hanya dianggap sebagai area perlindungan, tetapi juga sebagai penyedia manfaat praktis seperti air, penyerapan karbon, dan sumber penghidupan masyarakat.

Ads
RumahBerkat - Post

“Dengan pendekatan ini, konservasi menjadi relevan secara ekologis sekaligus bernilai ekonomi. Taman nasional bukan lagi batas ruang hidup, tetapi menjadi sarana kesejahteraan bersama,” jelas Menhut.

Kwibuka ke-32 adalah perayaan tahunan untuk mengenang genosida 1994 terhadap etnis Tutsi di Rwanda. Menhut menyebut perayaan ini sebagai momen penting untuk merefleksikan sejarah dan belajar dari proses pemulihan serta pembangunan yang berkelanjutan.

“Perjalanan Rwanda dalam pemulihan bukan hanya terlihat dari masyarakatnya, tetapi juga dari komitmen kuat terhadap lingkungan,” tutur Menhut.

Menhut hadir sebagai perwakilan Pemerintah Indonesia berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto. Acara tersebut dihadiri oleh Duta Besar Rwanda Sheikh Abdul Karim Harelimana, Duta Besar Tanzania Macocha Moshe Tembele, serta penyintas genosida 1994 Liliane Murangwayire.