Pembahasan Penting: Bapanas tegaskan pangan RI kuat, mayoritas produksi dalam negeri

Indonesia Tegaskan Ketahanan Pangan yang Kuat

Dalam wawancara di Jakarta, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan bahwa tingkat ketahanan pangan strategis Indonesia tetap stabil karena sebagian besar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri. Hal ini memungkinkan pemerintah menjaga ketersediaan dan aliran pasokan bahan pangan meski di tengah tantangan geopolitik serta potensi dampak El Nino.

Pangan Pokok Terpenuhi Tanpa Ketergantungan

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan bahwa dari 10 jenis pangan pokok strategis, hanya tiga komoditas yang memerlukan impor. Sementara itu, sejumlah bahan seperti beras, jagung, bawang merah, cabai, daging ayam ras, telur ayam ras, serta gula diharapkan bisa diproduksi sepenuhnya secara lokal.

“Ketahanan pangan pokok strategis Indonesia tergolong kuat. Sebagian besar kebutuhan konsumsi masyarakat didukung oleh produksi nasional,” ujar Ketut.

Menurut proyeksi neraca pangan nasional 2026 yang disusun Bapanas bersama kementerian/lembaga terkait, ketersediaan beras mencapai 34,7 juta ton pada tahun 2025. Stok awal 2026 diperkirakan sebesar 12 juta ton, yang kemudian diperkuat oleh upaya peningkatan produksi. Pemerintah menargetkan stok beras akhir tahun 2026 bisa mencapai 16 juta ton.

Ketut menjelaskan bahwa stok beras di Perum Bulog mencapai lebih dari 4 juta ton, dengan rencana penyerapan tambahan sebanyak 4 juta ton. Hal ini menunjukkan kinerja produksi gabah yang baik, serta keandalan hasil panen petani Indonesia.

Komoditas Lain Juga Terpenuhi Dalam Negeri

Di samping beras, produksi jagung pakan dianggap sudah mencapai swasembada karena Indonesia telah menghentikan impor komoditas tersebut sejak 2025. Bahan pangan lainnya seperti daging ayam ras, telur ayam ras, cabai, dan bawang merah juga bisa dipenuhi sepenuhnya dari dalam negeri.

“Kita hanya mengimpor dua atau tiga komoditas yang dominan, yaitu kedelai dan bawang putih, serta daging sapi,” tambah Ketut.

Dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan, pemerintah terus memperkuat produksi komoditas strategis yang belum mandiri. Kementerian Pertanian sudah mendorong percepatan pengembangan sektor pertanian untuk mencapai target tersebut.

Kepala Bapanas dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan. Menurutnya, produksi dalam negeri cukup memenuhi kebutuhan konsumsi nasional terutama untuk sumber karbohidrat dan protein.

“Pangan kita saat ini sudah swasembada, baik untuk protein maupun karbohidrat. Kebutuhan tubuh manusia terutama didukung oleh dua komponen ini,” kata Amran Sulaiman dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Jakarta (7/4).

Capaian tersebut menunjukkan bahwa pangan strategis Indonesia bisa menopang kebutuhan rakyat tanpa terlalu bergantung pada impor. Meski demikian, ada komoditas yang masih memerlukan pendekatan tambahan untuk meningkatkan produksi dan ketersediaan.