Rencana Khusus: RI dan Rusia perkuat kerja sama strategis pascateken FTA Eurasia
RI dan Rusia tingkatkan kerja sama strategis pasca-muktamar FTA Eurasia
Kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Rusia semakin diperkuat setelah menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) dengan Persatuan Ekonomi Eropa Timur (EAEU) bulan Desember 2025 lalu. Dalam forum Expert Dialogue bertajuk “Tantangan Perdagangan Global dan Kemitraan Strategis,” para pejabat menekankan pentingnya kolaborasi lebih intensif untuk menghadapi dinamika ekonomi internasional.
Komitmen Indonesia untuk kemandirian pangan
Edi Prio Pambudi, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian, menyampaikan bahwa Indonesia ingin memperkuat hubungan dengan Rusia, khususnya dalam bidang pangan. Ia menyoroti peran kerja sama penyediaan bahan baku pupuk, peningkatan akses pasar pertanian, serta penggunaan teknologi untuk memajukan sektor pertanian.
“Indonesia berkomitmen untuk memperkuat kemitraan dengan Rusia, khususnya dalam menjamin ketahanan pangan, termasuk melalui kerja sama penyediaan bahan baku pupuk, perluasan akses pasar produk pertanian, serta pemanfaatan teknologi untuk modernisasi sektor pertanian,” ujar Edi dalam diskusi di Jakarta, Jumat.
Rusia dorong partisipasi bisnis untuk kolaborasi ekonomi
Vladimir Illichev, Deputi Ekonomi Pembangunan Federasi Rusia, menggarisbawahi kebutuhan penguatan hubungan ekonomi melalui kolaborasi di sektor strategis dan peningkatan jalur perdagangan. Menurutnya, sektor usaha dari kedua negara memiliki peran vital dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi.
“Partisipasi aktif sektor bisnis memiliki peran yang sangat penting dalam memperkuat hubungan ekonomi antara Rusia dan Indonesia. Kami mendorong para pelaku usaha dari kedua negara terus menjajaki peluang kerja sama yang saling menguntungkan dan berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi,” kata Deputi Illichev.
Kontribusi global terhadap strategi kerja sama
Forum tersebut juga membahas tantangan ekonomi global yang semakin rumit, seperti gangguan rantai pasok, ketegangan geopolitik, dan persaingan sumber daya strategis. Kedua negara sepakat bahwa kerja sama lebih erat diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan ketahanan nasional.
Transformasi global dalam distribusi barang disebut membuka peluang baru bagi kolaborasi, terutama di bidang swasembada pangan dan energi terbarukan. Kedua negara dinilai memiliki keunggulan yang saling melengkapi, baik dari segi sumber daya alam, kapasitas industri, maupun kemampuan teknologi.
Peluang proyek bersama dan inovasi
Kerja sama ke depan, menurut Illichev, tidak hanya fokus pada perdagangan, tetapi juga mencakup pengembangan proyek bersama, investasi, transfer teknologi, serta penguatan riset dan inovasi untuk mendorong industrialisasi bernilai tambah. Menutup dialog, kedua pihak menyetujui forum sebagai platform strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi.
“Melalui dialog ini, Indonesia mendorong kerja sama yang lebih konkret dan berorientasi hasil, dengan melibatkan sektor bisnis, akademisi, serta pihak lainnya, sehingga mampu menghasilkan solusi inovatif dan memperkuat ketahanan ekonomi kedua negara di tengah dinamika global,” tutup Edi.


