AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Goldman Sachs Prediksi Harga Minyak Bisa Tembus US$ 120

Published September 8, 2026 · Updated September 8, 2026 · By Joko Wibowo - amalzakat.com

Spekulasi Lonjakan Harga Minyak ke US$120 Bayangi Pasar Energi Global

Amalzakat.com – Pasar energi dunia tengah diuji oleh eskalasi militer yang belum pernah terjadi dalam skala serupa di kawasan Selat Hormuz. Dalam hitungan hari, harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 8 persen sementara acuan WTI Amerika Serikat menguat hampir 10 persen, menandai salah satu reli paling tajam dalam beberapa bulan terakhir. Di balik pergerakan harga tersebut, bank investasi Goldman Sachs memproyeksikan skenario ekstrem: harga minyak dapat menembus US$120 per barel apabila serangan terhadap armada pelayaran di Timur Tengah terus meluas dan tidak menemukan titik henti.

Proyeksi Dua Sisi dari Meja Riset Goldman Sachs

Daan Struyven, salah satu kepala riset komoditas global di Goldman Sachs, menguraikan dua skenario yang kini menjadi kerangka analisis pasar. Pada sisi upside, gangguan pelayaran yang berkepanjangan akan memangkas pasokan secara drastis dan mendorong harga ke level US$120 per barel. Pada sisi downside, apabila ekspor dari kawasan kembali ke ritme normal, harga berisiko tertekan hingga US$80 per barel. Struyven menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara dengan Bloomberg TV pada Senin (7/9/2026), seraya menegaskan bahwa dinamika beberapa hari terakhir telah mengubah kalkulasi risiko secara fundamental.

"Peristiwa dalam beberapa hari terakhir menunjukkan risiko gangguan pelayaran yang meluas dan meningkat menjadi hal yang penting untuk diperhatikan."

Rekomendasi portofolio Goldman tidak berhenti pada minyak mentah. Bank tersebut juga menyarankan posisi pada gas alam dan diesel, dua komoditas yang secara struktural rentan terhadap guncangan pasokan dari Timur Tengah. Logikanya sederhana: ketika jalur distribusi utama terganggu, substitusi antarproduk energi terjadi cepat, dan harga di seluruh rantai komoditas bergerak searah.

Kronologi Eskalasi Militer di Selat Hormuz

Titik balik terbaru terjadi pada Sabtu (5/9/2026), ketika militer Amerika Serikat menyerang tiga kapal tanker minyak milik Iran. Komando Pusat AS mengonfirmasi operasi tersebut. Salah satu target berada di lepas Pulau Kharg, simpul utama ekspor minyak Iran yang selama puluhan tahun menjadi arteri vital bagi pendapatan negara Teluk. Dari sisi Teheran, Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan telah menargetkan tiga kapal tanker yang melintas melalui rute tidak resmi di Selat Hormuz, serta tiga kapal lain yang memiliki kaitan dengan AS di wilayah perairan berbeda.

Perusahaan intelijen maritim Marisks menilai serangan Sabtu sebagai eskalasi besar dalam pola konfrontasi di kawasan. Dalam pernyataan resminya, Marisks mencatat pergeseran paradigma yang berbahaya bagi perdagangan maritim global.

"Kapal tanker komersial kini sengaja digunakan sebagai instrumen tekanan ekonomi timbal balik, yang secara signifikan mengaburkan perbedaan sebelumnya antara konfrontasi militer dan pelayaran komersial."

Pola ini bukan tanpa preseden dalam sepekan terakhir. Sekitar tujuh hari sebelum serangan Sabtu, sebuah kapal tanker milik Arab Saudi menjadi sasaran Iran. Riyadh mengonfirmasi dua awak kapal tewas dalam insiden tersebut. Pada Senin, Oman mengumumkan evakuasi 16 awak kapal Saudi bernama Sidr yang sebelumnya diserang, menambah daftar korban dan memperdalam rasa tidak aman di antara operator pelayaran internasional.

Data Lalu Lintas: Selat Hormuz Menuju Titik Terendah

Angka-angka dari perusahaan analitik Kpler menggambarkan skala kontraksi lalu lintas yang mengkhawatirkan. Dalam sepuluh hari terakhir, rata-rata hanya sepuluh kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz setiap hari. Angka tersebut merupakan level terendah sejak Mei 2026, menandakan bahwa para operator kapal mulai menghindari jalur yang selama ini mengangkut sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia.

Priyanka Sachdeva, kepala market insights di Phillip Nova, mengingatkan bahwa perlambatan lalu lintas tanker bukan sekadar statistik. Ia menilai pasar sedang memasuki fase di mana ekspektasi guncangan pasokan yang jauh lebih besar mulai terintegrasi ke dalam harga.

"Jika lalu lintas kapal tanker mulai melambat secara signifikan, pasar dapat memperhitungkan guncangan pasokan yang jauh lebih besar. Sudah ada tanda-tanda kondisi tersebut mulai terjadi."

Implikasi bagi Konsumen dan Kebijakan Energi

Bagi negara-negara importir minyak di Asia dan Eropa, setiap kenaikan US$10 per barel pada harga Brent berimplikasi langsung terhadap neraca perdagangan, inflasi bahan bakar, dan tekanan pada cadangan devisa. Indonesia sendiri, sebagai konsumen neto minyak yang bergantung pada pasokan dari Timur Tengah untuk kebutuhan industri dan pembangkit listrik, terpapar langsung terhadap volatilitas semacam ini. Penguatan rupiah yang sempat terjadi di tengah konflik geopolitik justru bisa terbalik apabila harga energi global terus merangkak naik dan menekan daya beli domestik.

Dari perspektif kebijakan, eskalasi di Selat Hormuz juga menguji kesiapan negara-negara Teluk untuk mengalihkan volume ekspor melalui jalur alternatif seperti pipa Arab Saudi ke Laut Merah atau terminal Uni Emirat Arab di Teluk Oman. Kapasitas infrastruktur tersebut terbatas dan tidak mampu menyerap seluruh volume yang biasanya melewati Selat Hormuz dalam jangka pendek.

Skenario Goldman Sachs ke US$120 per barel bukan sekadar angka di atas kertas. Ia merupakan representasi kuantitatif dari ketakutan pasar bahwa konflik yang semula bersifat episodik kini telah berubah menjadi perang posisi berkepanjangan di jalur energi paling strategis di dunia. Selama kapal tanker masih menjadi sasaran dan lalu lintas di Selat Hormuz terus menyusut, premi risiko akan tetap tertanam dalam setiap transaksi minyak, gas, dan produk turunan energi lainnya.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Goldman Sachs Prediksi Harga Minyak Bisa?

Goldman Sachs Prediksi Harga Minyak Bisa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Goldman Sachs Prediksi Harga Minyak Bisa matter?

Goldman Sachs Prediksi Harga Minyak Bisa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.