AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: DEN Sebut Cadangan Daya 30% Tak Cukup Jamin Listrik Aman

Published Juni 28, 2026 · Updated Juni 28, 2026 · By Maya Kurniawan

DEN Sebut Cadangan Daya 30% Tak Cukup Jamin Listrik Aman

Key Strategy - Jakarta, Beritasatu.com – Dewan Energi Nasional (DEN) mengungkapkan bahwa klaim PT PLN (Persero) tentang cadangan daya (reserve margin) sebesar 30% tidak lagi mampu memastikan sistem kelistrikan nasional bebas dari risiko pemadaman. Hal ini dijelaskan oleh Anggota DEN Satya Widya Yudha saat dihubungi oleh Beritasatu.com pada Minggu (28/6/2026). Satya menegaskan bahwa hasil penelitian DEN di lapangan menunjukkan adanya ketidaksesuaian signifikan antara kapasitas yang terpasang dan kemampuan riil pembangkit listrik. "Jika orang masih menganggap keandalan sistem kelistrikan hanya bergantung pada reserve margin 30%, itu belum cukup," katanya dalam wawancara tersebut.

Kapasitas Pembangkit Berbanding Jauh dengan Daya Mampu Nyata

DEN menyoroti kasus pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Suralaya sebagai contoh nyata. Pembangkit yang telah beroperasi selama empat dekade ini memiliki kapasitas terpasang sebesar 3.600 megawatt (MW). Namun, sesuai laporan, daya mampu riilnya saat ini tercatat hanya sekitar 3.400 MW, sehingga mengalami defisit sebesar 200 MW. Satya menjelaskan bahwa penyebab utamanya adalah penurunan performa fisik infrastruktur yang terjadi secara perlahan, termasuk usia pembangkit yang memasuki tahap penuh. "Kita harus memperhatikan perbedaan antara kapasitas yang tercantum dan kemampuan nyata pembangkit," tegasnya.

"Kalau sekarang orang selalu melihat keandalan dari reserve margin yang 30%, temuan kami di lapangan itu tidak cukup," ujar Satya Widya Yudha.

Menurut Satya, indikator keandalan sistem kelistrikan tidak bisa hanya dihitung berdasarkan angka kertas. Jika kalkulasi tersebut tidak mengakui penurunan efisiensi infrastruktur, risiko pemadaman atau blackout bisa terus mengancam, terutama di daerah strategis seperti jaringan interkoneksi Jawa, Madura, dan Bali (Jamali). "Ini menjadi peringatan keras bahwa kita harus lebih memperhatikan kondisi fisik pembangkit," tambahnya. Pemadaman listrik terjadi secara berkala, dengan durasi antara dua hingga lima jam per hari. Beberapa ruas jalan di Surabaya, misalnya, sempat gelap hingga malam hari akibat gangguan pasokan energi.

Upaya Pemulihan dan Manajemen Beban

Di tengah kondisi tersebut, PT PLN (Persero) terus berupaya mempercepat pemulihan pembangkit yang mengalami gangguan. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pasokan listrik kepada masyarakat. Perusahaan juga melakukan penyesuaian operasional, yaitu dengan mengoptimalkan suplai dari sumber energi lain serta mengatur beban secara lebih ketat di sejumlah wilayah. "Kita harus memastikan keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik tetap terjaga," kata Gregorius Adi Trianto, Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN.

Gregorius menyatakan bahwa PLN saat ini fokus pada upaya pemulihan agar sistem kelistrikan Jawa kembali stabil. "PLN terus bekerja sama melakukan percepatan pemulihan," ujarnya. Meski demikian, ia mengakui bahwa jaringan listrik di Jawa masih beroperasi dalam kondisi terkendali. Namun, perusahaan diperlukan untuk mengimplementasikan manajemen beban terbatas dan terukur di beberapa wilayah. "Ini dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap pelanggan," tambah Gregorius.

Risiko Pemadaman Massal Jika Tidak Diatasi

Satya Widya Yudha mengingatkan bahwa perbedaan antara kapasitas terpasang dan daya mampu riil bisa menyebabkan kekurangan pasokan listrik yang signifikan. "Setiap pembangkit memiliki usia dan kondisi yang berbeda, sehingga daya nyatanya bisa lebih rendah dari yang tercantum," jelasnya. Dengan defisit 200 MW di PLTU Suralaya, DEN menyatakan bahwa ini bukan ancaman kecil. Jika tren ini tidak diatasi, risiko black out atau pemadaman masal bisa terjadi, terutama di daerah dengan kebutuhan listrik tinggi.

Menurut Satya, cadangan daya 30% yang selama ini dianggap cukup aman sekarang terbukti kurang efektif. "Kita harus mengakui bahwa kinerja pembangkit tidak selalu sesuai dengan standar yang diharapkan," katanya. Ia menambahkan bahwa banyak pembangkit di Indonesia masih menggunakan teknologi lama yang perlu diperbaiki atau diganti. "Selain itu, pemeliharaan rutin dan efisiensi operasional juga menjadi faktor penting," ujarnya.

DEN berharap bahwa pemulihan pembangkit dan perbaikan infrastruktur bisa segera dilakukan. "Kita perlu investasi lebih besar dalam rehabilitasi dan modernisasi pembangkit untuk meningkatkan daya mampu riil," kata Satya. Pemadaman listrik yang terjadi secara berkala selama beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa sistem kelistrikan nasional masih rentan. Ini menjadi peringatan bahwa meski cadangan daya mencapai 30%, keandalan jangka panjang belum terjamin.

Stabilitas Pasokan Listrik Masih Diperjuangkan

PLN sendiri telah menyiapkan strategi untuk mengatasi masalah ini. Selain mempercepat pemulihan pembangkit, perusahaan juga memprioritaskan penggunaan sumber energi alternatif dan mengoptimalkan distribusi daya. "Kita ingin meminimalkan dampak pemadaman terhadap masyarakat, terutama di wilayah kota besar," kata Gregorius. Namun, ia mengakui bahwa tantangan masih besar, terutama karena usia infrastruktur yang tidak terlalu muda.

Satya Widya Yudha juga menyebutkan bahwa perlu adanya kolaborasi lebih intensif antara DEN, PLN, dan pemerintah daerah. "Kita harus mengawasi kondisi pembangkit secara terus-menerus dan melakukan perbaikan jika diperlukan," ujarnya. Ia menegaskan bahwa pemadaman listrik tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi bisa menyebar ke berbagai daerah. "Ini mengancam kebutuhan perekonomian dan kehidupan sehari-hari masyarakat," tambahnya.

DEN menyarankan bahwa cadangan daya 30% bisa menjadi acuan, tetapi harus diimbangi dengan evaluasi kinerja infrastruktur secara berkala. "Jika kita hanya mengandalkan angka di kertas, kita bisa kehilangan gambaran yang akurat tentang keandalan sistem," ujar Satya. Pemadaman yang terjadi di beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa kalkulasi cadangan daya mungkin tidak mencerminkan realitas yang ada di lapangan. Ini menjadi tantangan bagi PLN danDEN dalam menjaga stabilitas pasokan listrik di tengah tekanan pertumbuhan kebutuhan energi yang pesat.

Menurut Gregorius, PLN juga memperbaiki manajemen beban dengan mengatur distribusi daya secara lebih proporsional. "Kita berusaha mengurangi beban di area yang paling rentan agar keseluruhan sistem tidak terganggu," katanya. Meski demikian, keadaan saat ini masih memerlukan pengawasan ekstra. "Kita tidak ingin kejadian pemadaman terulang, terutama di wilayah yang vital," imbuh Gregorius.

DEN menegaskan bahwa risiko pemadaman tidak bisa diabaikan, terlepas dari cadangan daya yang tercatat. "Ini menjadi tantangan baru bagi kita dalam mengelola sistem kelistrikan," ujar Satya. Ia berharap ada perbaikan segera untuk memastikan bahwa pasokan listrik tetap stabil meski menghadapi tekanan dari pertumbuhan ekonomi dan populasi yang meningkat.

Sebagai informasi tambahan, terdapat sejumlah berita dan artikel lainnya yang bisa dibaca, seperti hasil Moto3 Assen 2026, upaya memperbaiki jalan rusak di Lampung Tengah, dan tradisi Mekotek yang diadakan menjelang Hari Raya Kuningan. Namun, fokus utama DEN dan PLN tetap pada kinerja sistem kelistrikan nasional.