Latest Program: Alarm PHK Indonesia (3): Pabrik hingga Startup, Siapa yang Paling Rentan Terkena PHK?
Alarm PHK di Indonesia (3): Pabrik hingga Startup, Sektor yang Paling Rentan?
Latest Program - Kota Jakarta, Beritasatu.com – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia kini tidak hanya mengancam industri tekstil atau manufaktur yang menguras tenaga kerja. Dalam tiga tahun terakhir, sektor yang terkena PHK semakin beragam, melibatkan manufaktur, logistik, ritel, serta perusahaan teknologi (startup). Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi terhadap bisnis mulai menyebar ke berbagai jenis pekerjaan, menciptakan ketegangan di berbagai lini industri.
Berdasarkan data dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), jumlah pekerja yang terkena PHK terus meningkat. Tahun 2023 mencatatkan 64.855 orang kehilangan pekerjaan, angka ini naik menjadi 77.965 pada 2024, lalu melanjutkan kenaikan hingga 88.519 pada 2025. Hingga Mei 2026, terdapat 23.470 pekerja tambahan yang terkena PHK. Total kumulatif sejak 2023 mencapai sekitar 254.809 pekerja yang terdampak. Angka ini menggarisbawahi perlambatan aktivitas usaha yang semakin signifikan.
Analisis Tauhid Ahmad: Sector Manufaktur Masih Berisiko Tinggi
Tauhid Ahmad, peneliti senior dari Indef, menjelaskan bahwa manufaktur tetap menjadi sektor yang paling rentan menghadapi PHK. Menurutnya, tekanan tidak hanya terfokus pada industri tekstil, garmen, atau alas kaki, tetapi mulai menjangkau sektor plastik, besi dan baja, hingga bidang teknologi. "PHK kini meluas ke berbagai industri. Sebelumnya dominasi di tekstil dan garmen, kini mulai menyebar ke sektor konstruksi dan teknologi," katanya.
"Barang impor jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan barang ekspor. Akibatnya, industri dalam negeri semakin sulit bersaing karena produk luar lebih murah. Ini terutama terasa di sektor yang bergantung pada pasar lokal," ujarnya.
Tauhid menyoroti peran e-commerce dalam mendorong PHK. Platform belanja online memungkinkan produk asing dijual dengan harga terjangkau, membuat konsumen lebih cenderung memilih barang impor. "PHK di bidang teknologi sudah terjadi, bahkan sektor jasa pun mulai terkena," tambahnya.
Faktor yang Memicu PHK
Menurut Tauhid, perlambatan ekonomi global menjadi penyebab utama penurunan permintaan ekspor. Dengan keadaan ini, banyak perusahaan mengalami tekanan pada pendapatan, sehingga memaksa melakukan penghematan. Di sisi lain, nilai tukar rupiah yang melemah membuat biaya logistik, energi, dan bahan baku impor meningkat drastis.
Pelemahan daya beli masyarakat juga berkontribusi pada kondisi ini. Banyak konsumen kini lebih memilih produk murah yang berasal dari luar negeri, terutama dalam sektor konsumsi sehari-hari. "Ini mengakibatkan permintaan terhadap barang lokal berkurang, sehingga perusahaan terdorong untuk efisiensi biaya," jelasnya.
Selain itu, kompetisi dari industri asing yang lebih maju dan efisien juga meningkatkan risiko PHK. Perusahaan lokal, terutama yang tidak memiliki skala besar atau inovasi tinggi, sulit bertahan di tengah persaingan ketat. "Banyak startup yang jadi korban karena biaya operasional dan kebutuhan investasi yang tinggi," tambah Tauhid.
Upaya Pemulihan dan Tantangan Mendatang
Menurut analisis Tauhid, peningkatan PHK bisa menjadi tanda bahwa transformasi ekonomi Indonesia sedang berlangsung. Perusahaan-perusahaan yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, seperti mengadopsi teknologi atau meningkatkan efisiensi, akan lebih tahan banting. Namun, bagi sektor-sektor yang kaku, risiko kehilangan pekerjaan semakin tinggi.
Tauhid menyarankan pemerintah perlu memperkuat kebijakan dukungan terhadap industri dalam negeri. Langkah seperti subsidi untuk biaya produksi, pengembangan infrastruktur logistik, atau penguatan daya beli masyarakat bisa menjadi solusi. "Jika tidak segera diambil tindakan, PHK bisa meluas ke sektor-sektor lain, seperti pendidikan atau kesehatan," katanya.
Sementara itu, industri manufaktur masih menjadi paling rentan karena ketergantungan pada ekspor dan biaya produksi yang tinggi. Perusahaan-perusahaan kecil dan menengah (UKM) di sektor ini sering kali menjadi korban pertama. "Kenaikan biaya bahan baku dan logistik membuat banyak perusahaan kehilangan margin keuntungan, sehingga dipaksa melakukan PHK," pungkas Tauhid.
Dalam situasi ini, startup teknologi juga mengalami tekanan. Meski dianggap sebagai sektor inovatif, biaya operasional yang tinggi dan ketidakpastian pasar membuat banyak perusahaan teknologi memangkas anggota tim. "PHK di startup lebih terkait dengan kecepatan adaptasi terhadap perubahan ekonomi global," ujarnya.
Kondisi PHK ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami fase transisi ekonomi. Tekanan dari luar negeri, kenaikan biaya produksi, serta perlambatan permintaan domestik menciptakan tantangan yang kompleks. Namun, perusahaan yang mampu berinovasi dan menyesuaikan diri dengan dinamika pasar akan tetap bertahan. Tantangan utama terletak pada kemampuan sektor-sektor tradisional untuk menyesuaikan diri dan meningkatkan daya saing di tengah persaingan global yang ketat.
Terkait Berita Lain
Beberapa berita terkini mengungkapkan situasi serupa di berbagai sektor. Misalnya, Bupati Kuansing diduga meminta uang dari 914 petani HPT, sementara Purbaya Ancam PHK pegawai DJP karena kinerja buruk. Di sisi lain, harga telur anjlok di bawah HAP, dengan BI mengungkap penyebabnya. Kemenaker juga sedang menindaklanjuti rekomendasi KPK untuk MBG, sementara Bursa Kerja di Jakarta Selatan mengalami karut-marut dalam program MBG.
Penyiksaan dan utang konstitusional menjadi isu yang tak kalah penting. Negara-negara yang menjadi anggota OECD pun dihadapkan pada konsekuensi berbagai kebijakan ekonomi. Semua ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya terbatas pada PHK, tetapi juga berdampak pada kebijakan pemerintah dan stabilitas sosial.
Bagi sektor jasa, PHK juga mulai terasa. Perusahaan-perusahaan layanan di bidang transportasi, konsultasi, hingga pendidikan mulai melakukan pemangkasan biaya. "Ini mencerminkan bahwa PHK bukan hanya terjadi di industri manufaktur, tetapi juga di berbagai sektor yang sebelumnya dianggap stabil," kata Tauhid.
Dengan dem