AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Update Harga Emas Dunia: Turun Tajam 1,5 Persen, Perak 1,8 Persen

Published Juni 19, 2026 · Updated Juni 19, 2026 · By Fajar Hakim

Latest Program: Harga Emas Dunia Turun 1,5% dan Perak 1,8%

Latest Program - Pada perdagangan Jumat (19/6/2026), harga emas global mengalami penurunan signifikan, dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve (The Fed). Harga emas spot mencatat penurunan 1,5% ke level US$4.145,02 per ons troy, setelah mencapai titik terendah sejak 11 Juni di US$4.119,78 per ons troy. Selain itu, emas berjangka AS juga mengalami pelemahan sebesar 1,9% menjadi US$4.163,20 per ons troy. Perubahan ini menunjukkan dinamika pasar yang terus bergerak di tengah tekanan dari berbagai faktor ekonomi.

Latest Program: Faktor Penurunan Harga Emas

Dolar AS yang menguat menjadi faktor utama pelemahan harga emas, karena membuat aset berbasis dolar lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Dalam Latest Program ini, analis memperkirakan bahwa ekspektasi peningkatan suku bunga yang diharapkan dari The Fed akan terus berdampak negatif pada logam mulia. Emas, sebagai aset tanpa imbal hasil, kurang diminati ketika dolar menguat dan suku bunga meningkat.

“Emas menghadapi risiko jelas untuk turun lebih dalam ke wilayah pasar bearish dan di bawah level US$4.000 per ons troy, karena logam mulia ini terus berada dalam lingkungan yang menantang. Ekspektasi suku bunga The Fed yang lebih tinggi dalam waktu lama bersifat negatif bagi aset tanpa imbal hasil, sekaligus menguntungkan dolar,” kata analis senior Tradu.com Nikos Tzabouras.

Latest Program: Penurunan Perak dan Logam Mulia Lainnya

Di samping emas, perak juga mencatat pelemahan 1,8% menjadi US$64,61 per ons troy, sementara platinum melemah 1,8% ke US$1.665,07 per ons troy. Palladium turun lebih dari 1,9% menjadi US$1.254,16 per ons troy. Ketiga logam mulia ini diperkirakan mengalami penurunan mingguan, menunjukkan ketidakstabilan pasar yang lebih luas dalam Latest Program ini.

Konteks Negosiasi AS-Iran dan Data Inflasi

Ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor yang menghantui pasar logam mulia. Setelah pemerintah Swiss mengumumkan bahwa perundingan antara AS dan Iran terkait kesepakatan penghentian konflik Timur Tengah tidak akan dilanjutkan pada Jumat, situasi ini memperkuat kecemasan investor. Pembatalan perjalanan Wakil Presiden AS JD Vance ke Eropa menjadi alasan utama terhentinya negosiasi tersebut.

Di sisi kebijakan moneter, para pejabat The Fed masih mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini. Proyeksi terbaru menunjukkan bahwa 9 dari 19 anggota dewan kebijakan menginginkan peningkatan suku bunga, meski suku bunga acuan tetap dipertahankan di kisaran 3,50%–3,75%. Menurut CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September.

Proyeksi Goldman Sachs dan Tantangan Jangka Pendek

Bank investasi Goldman Sachs menurunkan proyeksi harga emas menjadi US$4.900 per ons troy pada Desember, dari sebelumnya US$5.400 per ons troy. Meski demikian, Goldman Sachs tetap menilai bahwa prospek emas secara struktural masih positif, meski dalam Latest Program ini, logam mulia berpotensi menghadapi tekanan lebih besar. Hal ini disebabkan oleh kombinasi faktor seperti inflasi AS, dinamika ekonomi global, serta kebijakan moneter yang terus dikejar The Fed.

Analisis Pasar dan Faktor Pendukung

Analisis pasar menunjukkan bahwa pelemahan harga emas tidak hanya terjadi akibat kekuatan dolar AS, tetapi juga karena ekspektasi peningkatan suku bunga yang diharapkan. Suku bunga yang tinggi mempercepat aliran modal ke aset yang dianggap lebih menguntungkan, seperti obligasi dan saham. Oleh karena itu, emas yang cenderung menjadi aset tanpa imbal hasil jangka pendek kurang diminati.

Ketidakpastian politik internasional, seperti dinamika hubungan AS-Iran, juga memengaruhi keputusan investor. Perubahan kebijakan di wilayah Timur Tengah dan rencana peningkatan suku bunga The Fed berkontribusi pada volatilitas harga logam mulia. Di sisi lain, tekanan dari inflasi yang membaik di AS menambah kewaspadaan pasar terhadap risiko ketidakstabilan ekonomi.