AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: Boikot Massal hingga Tutup Gerai, Penjualan Starbucks Anjlok 26 Persen

Published Juni 17, 2026 · Updated Juni 17, 2026 · By Maya Kurniawan

Starbucks Korea Kena Boikot Akibat New Policy, Penjualan Turun 26%

New Policy - Krisis penjualan Starbucks Korea mencapai puncaknya setelah penerapan new policy yang memicu aksi boikot massal dari masyarakat. Tindakan ini memaksa perusahaan mengalami penurunan transaksi sebesar 26% dalam minggu pertama peluncuran kampanye kontroversial, menunjukkan dampak luas dari keputusan strategis yang tidak sesuai dengan konteks budaya lokal.

Kontroversi New Policy dan Tanggal Bersejarah

Kampanye yang memicu reaksi besar diluncurkan pada 18 Mei 2026 dengan tema "Tank Day" sebagai bagian dari promosi tumbler. Tanggal tersebut dianggap sebagai momentum penting dalam sejarah Korea Selatan, karena mengingat tragedi Gwangju tahun 1980, sebuah peristiwa perlawanan terhadap penindasan militer yang menewaskan ratusan warga sipil. New policy Starbucks yang menggunakan nama tema ini dianggap menghormati kejadian berdarah tersebut, sehingga memicu perasaan sakit di kalangan masyarakat.

Respons Segera dan Dampak Ekonomi

Aksi boikot merambat cepat, dengan pelanggan membatalkan pembelian dan memperparah situasi melalui media sosial. Sejumlah institusi pemerintah juga melaporkan penghentian kerja sama, menyebabkan kerugian hingga 2,1 miliar won atau sekitar US$1,4 juta dalam tiga hari penutupan gerai. New policy ini mengakibatkan penurunan penjualan yang signifikan, menegaskan pentingnya pertimbangan sejarah dalam strategi pemasaran global.

Starbucks Korea memperbaiki kesalahan dengan menutup lebih dari 2.000 gerai dan menggelar pelatihan sejarah bagi karyawan. Tindakan ini menunjukkan komitmen untuk memahami new policy yang menyebabkan kontroversi, meski belum sepenuhnya mengembalikan kepercayaan pelanggan. Dalam pernyataan resmi, perusahaan mengakui kesalahan dan menyampaikan permintaan maaf, tetapi peningkatan transaksi hanya mencapai 12,8% di minggu pertama Juni.

“Kami sangat menyesal atas insiden pemasaran yang tidak dapat diterima ini dan hal itu seharusnya tidak pernah terjadi,”

demikian pernyataan Starbucks Korea. Meski telah menyesuaikan new policy, efeknya masih terasa dalam jangka pendek, karena masyarakat menganggap perusahaan kurang sensitif terhadap nilai-nilai historis.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana new policy yang dianggap tidak menyentuh kejadian bersejarah bisa menyebabkan reaksi sosial yang mengakibatkan kerugian besar. Pelatihan sejarah dan kesadaran sosial yang dijalankan perusahaan menjadi langkah untuk memperbaiki hubungan dengan konsumen, meski proses pemulihan masih membutuhkan waktu dan transparansi.

Dampak dari new policy Starbucks Korea juga menjadi contoh bagaimana isu sejarah bisa menyebar cepat melalui media digital. Warganet aktif menggalang dukungan boikot, menunjukkan tanggung jawab kolektif terhadap identitas nasional. Perusahaan kini berusaha mengembalikan kepercayaan dengan edukasi dan perubahan pola komunikasi, tetapi masyarakat tetap menunggu tindakan konkrit.

Kontroversi ini menggambarkan bagaimana new policy yang tidak terencana bisa memengaruhi persepsi global terhadap merek. Gwangju 1980 tidak hanya sebagai momen sejarah politik, tetapi juga sebagai simbol perjuangan demokrasi yang masih relevan. Dengan memperkenalkan tema "Tank Day", Starbucks Korea dianggap kurang memperhatikan konteks budaya yang kompleks.