AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pemerintah Pastikan Impor Minyak Rusia Tahap Kedua Berjalan

Published September 12, 2026 · Updated September 12, 2026 · By Maya Kurniawan - amalzakat.com

Foto : Maya Kurniawan - amalzakat.com

Tahap Kedua Pengadaan Minyak Mentah Rusia Mulai Berjalan

Amalzakat.com – Pemerintah melanjutkan proses pembelian minyak mentah dari Rusia untuk memperkuat ketersediaan energi nasional di tengah produksi domestik yang masih belum memenuhi sasaran 2026. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pelaksanaan tahap kedua pengadaan tersebut telah dimulai.

“Sudah, sudah, sudah mulai jalan, ya,” ujar Bahlil di Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Langkah ini ditempuh dengan mempertimbangkan dua hal utama, yakni kesesuaian terhadap ketentuan yang berlaku serta kelayakan ekonominya. Pemerintah sedang menentukan pilihan pasokan yang paling memungkinkan untuk mendukung kebutuhan minyak mentah nasional dalam situasi global yang terus berubah.

“Kita sekarang ini kan lagi kondisi global kayak begini, kita mencari skala prioritas mana yang duluan bisa mendatangkan crude kita. Selama tidak menabrak aturan dan secara ekonomis masuk,” kata Bahlil.

Bagian dari Skema Kerja Sama Pemerintah

Pengadaan minyak mentah Rusia dirancang melalui kerja sama antarpemerintah atau government to government (G to G). Tahap berikutnya kemudian dijalankan dalam pola kerja sama pemerintah dengan badan usaha, yang dikenal sebagai government to business (G to B).

Bahlil menegaskan bahwa mekanisme tersebut menjadi dasar pelaksanaan pembelian minyak Rusia. Dengan skema itu, pemerintah menempatkan pengadaan energi sebagai bagian dari kebijakan strategis, bukan semata transaksi komersial biasa.

“Saya mengatakan sekali lagi ya, bahwa pembelian crude dari Rusia itu merupakan bagian daripada kontrak G to G yang kemudian diakhiri dengan G to B,” ucapnya.

Kebutuhan minyak dari luar negeri berkaitan erat dengan kondisi produksi nasional yang masih tertinggal dari target. Kementerian ESDM mencatat produksi minyak Indonesia pada 8 September 2026 mencapai 571.731 barel per hari. Angka tersebut masih berada di bawah target produksi tahun ini, yaitu 610.000 barel per hari.

Sebelumnya, hingga 31 Juli 2026, rata-rata produksi minyak mentah nasional tercatat sebesar 578.156 barel per hari. Pada 31 Agustus, Bahlil juga telah menyampaikan bahwa target lifting 610.000 barel per hari untuk 2026 belum tercapai. Selisih antara produksi dan target ini membuat upaya menjaga pasokan dari berbagai sumber menjadi penting bagi kebutuhan kilang serta distribusi energi di dalam negeri.

Komitmen Impor Bertahap hingga Akhir Tahun

Tahap pertama impor minyak mentah Rusia telah tiba di Indonesia. Pada 5 Agustus 2026, pemerintah menyampaikan bahwa tahap kedua sedang dalam proses, dan perkembangan terbaru menunjukkan pelaksanaannya telah berjalan.

Pengadaan tersebut merupakan bagian dari komitmen impor hingga 150 juta barel minyak mentah yang direncanakan berlangsung secara bertahap sampai akhir 2026. Pemerintah juga mempersiapkan kontrak jangka panjang untuk pasokan dari Rusia, sehingga pengadaan tidak hanya dipandang sebagai langkah jangka pendek.

Pelaksanaan pembelian dilakukan oleh negara melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), bukan PT Pertamina (Persero). Pada Juni 2026, Bahlil telah memberi penugasan kepada Lemigas untuk menjalankan proses pengadaan minyak Rusia tersebut.

Kebijakan ini memiliki payung hukum melalui Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2026 tentang Pengadaan Minyak Bumi, Bahan Bakar Minyak, dan/atau Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk Ketahanan Energi Nasional. Peraturan itu berlaku sejak 30 April 2026.

Perpres tersebut mengatur pengadaan minyak bumi bagi kebutuhan kilang dalam negeri serta penguatan keandalan pasokan BBM dan LPG. Sumber pasokan dapat berasal dari dalam negeri maupun luar negeri, dengan tujuan menjaga ketersediaan energi untuk masyarakat dan sektor industri.

Ketahanan Energi dan Sikap Politik Bebas Aktif

Bahlil menempatkan pemenuhan kebutuhan energi nasional sebagai prioritas dalam penentuan asal minyak mentah. Ia menekankan bahwa keputusan pemerintah harus berpijak pada kepentingan masyarakat dan kedaulatan negara.

“Saya lebih mementingkan kepentingan rakyat daripada kepentingan lain. Apalagi kedaulatan bangsa kita tidak boleh diintervensi oleh siapa pun. Karena kita menganut mazhab politik bebas aktif,” tutur Bahlil.

Pernyataan itu menggambarkan posisi pemerintah yang ingin menjaga ruang gerak dalam memilih mitra energi, selama prosesnya memenuhi aturan dan memberikan nilai ekonomi yang dapat diterima. Di saat produksi domestik belum mencapai target, diversifikasi sumber minyak menjadi salah satu instrumen untuk menjaga kesinambungan pasokan.

Kerja sama energi Indonesia dan Rusia juga kembali menjadi pembahasan dalam Eastern Economic Forum di Vladivostok pada 3 September 2026. Dalam forum itu, Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia terbuka untuk bekerja sama dengan Rusia guna meningkatkan produktivitas pada kegiatan eksplorasi, produksi, dan pengolahan minyak serta gas bumi.

Bagi masyarakat dan pelaku industri, keberlanjutan pasokan minyak mentah memiliki arti langsung terhadap operasi kilang dan ketahanan distribusi energi. Pemerintah tetap menghadapi pekerjaan besar untuk meningkatkan produksi dalam negeri, sementara pengadaan dari luar negeri digunakan untuk membantu menjembatani kebutuhan yang belum tertutup oleh produksi nasional.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Pemerintah Pastikan Impor Minyak Rusia Tahap?

Pemerintah Pastikan Impor Minyak Rusia Tahap is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pemerintah Pastikan Impor Minyak Rusia Tahap matter?

Pemerintah Pastikan Impor Minyak Rusia Tahap matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.