AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Special Plan: Mineral Kritis Diminta Masuk Strategi Energi Nasional

Published Juni 17, 2026 · Updated Juni 17, 2026 · By Sinta Ananda

Mineral Kritis Diusulkan Jadi Bagian Strategi Energi Nasional

Special Plan - Di tengah perubahan global terkait kebutuhan energi yang semakin kompleks, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memberikan saran untuk mengintegrasikan mineral kritis ke dalam strategi energi nasional. Langkah ini dianggap penting karena mineral-mineral tersebut tidak hanya menjadi fondasi sektor pertambangan, tetapi juga memainkan peran kunci dalam mendorong inovasi industri, transisi ke energi bersih, serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Pertumbuhan Energi Bersih dan Elektrifikasi Global

Menurut Imaduddin Abdullah, Direktur Indef Green Transition Initiative, kebutuhan akan mineral kritis akan terus meningkat seiring berkembangnya penggunaan energi terbarukan dan elektrifikasi di berbagai negara. Hal ini mengakibatkan permintaan terhadap komoditas seperti nikel, bauksit, tembaga, dan silika meningkat drastis. Mineral-mineral ini merupakan komponen utama dalam pengembangan kendaraan listrik, baterai, panel surya, jaringan transmisi, hingga sistem penyimpanan energi.

"Pada akhirnya kita melihat bahwa mineral kritis ini menjadi fondasi kebijakan industri dan transisi energi Indonesia," kata Imaduddin dalam acara Dialog Mineral Kritis bertema "Mineral Kritis Indonesia di Tengah Krisis Energi Dunia" yang diadakan di Jakarta, Rabu (17/6/2026.

Ketergantungan pada Impor dan Kebutuhan Integrasi

Imaduddin menegaskan bahwa pengelolaan mineral kritis tidak bisa dipandang hanya sebagai urusan pertambangan. Menurutnya, pemerintah harus menempatkannya sebagai agenda yang melibatkan berbagai sektor, seperti industri, energi, perdagangan, investasi, hingga diplomasi ekonomi. "Indonesia perlu melihat mineral kritis sebagai agenda lintas sektor. Jadi tidak hanya isu sektor pertambangan, tetapi juga perlu melihat sebagai isu pembangunan sektor industri, energi, perdagangan, investasi, hingga diplomasi ekonomi," jelasnya.

Proyeksi Permintaan di Masa Depan

Dalam konteks transisi energi global, Imaduddin memprediksi bahwa permintaan mineral kritis akan mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Perubahan pola energi dunia, seperti adopsi kendaraan listrik (EV), sistem kelistrikan ramah lingkungan, dan teknologi penyimpanan energi, akan memicu kebutuhan akan bahan baku yang lebih besar. Indonesia, dengan cadangan mineral strategis yang melimpah, dinilai memiliki peluang besar untuk memanfaatkan tren ini.

"Permintaan mineral kritis yang datang dari EV, BEV maupun sistem kelistrikan yang akan ada di masa depan, ini akhirnya memberikan dampak terhadap banyak negara termasuk Indonesia. Dan sebenarnya Indonesia punya potensi besar karena memiliki beberapa mineral yang dibutuhkan," ujarnya.

Kebijakan Lintas Sektor untuk Penguatan Ekonomi

Program pengembangan energi bersih nasional hingga 100 gigawatt (GW) menjadi faktor penting dalam meningkatkan permintaan lokal terhadap mineral kritis. Proyek ini, yang bertujuan memperluas kapasitas pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, membutuhkan berbagai komponen seperti panel surya, baterai, kabel listrik, aluminium, kaca, dan tembaga. Kehadiran proyek ini diharapkan dapat menjadi pengikat permintaan (demand anchor) yang memperkuat pemanfaatan mineral kritis dalam industri hilir.

"Agenda 100 GW ini bisa meningkatkan kebutuhan panel surya, baterai, kabel, aluminium, kaca, tembaga, dan komponen listrik. Nah ini bisa menjadi semacam demand anchor untuk memperluas pemanfaatan mineral kritis Indonesia ke depan," jelas Imaduddin.

Kesiapan Indonesia Menghadapi Tren Energi

Sementara itu, Imaduddin menyoroti bahwa Indonesia, meski memiliki cadangan mineral kritis yang luas, masih berada di posisi hulu dalam pengelolaannya. Industri manufaktur yang memproses bahan baku menjadi produk bernilai tambah, seperti komponen kendaraan listrik dan perangkat energi terbarukan, masih belum berkembang optimal. Hal ini menyebabkan ketergantungan terhadap impor yang masih tinggi.

"Karena itu, Indef mendorong pemerintah memperkuat integrasi pengelolaan mineral kritis dari sektor hulu hingga hilir agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih optimal," tegas Imaduddin.

Dalam perjalanan transisi energi, Indonesia perlu memastikan bahwa sumber daya alamnya tidak hanya dieksploitasi secara maksimal, tetapi juga dikembangkan dengan strategi yang holistik. Hal ini melibatkan peningkatan keterampilan tenaga kerja, inovasi teknologi, dan kerja sama antar sektor. "Yang kedua adalah perencanaan energi harus berbasis sumber daya domestik yang dalam hal ini tentu kita memiliki mineral kritis dan ini yang perlu kita dorong," tambahnya.

Imaduddin juga menekankan bahwa keberhasilan transisi energi tergantung pada kemampuan Indonesia dalam mengelola rantai pasok mineral kritis. Dengan meningkatkan efisiensi produksi, mempercepat pengembangan industri hilir, dan membangun kerja sama internasional, negara ini bisa menjadi pemain utama dalam ekosistem energi global. Hal ini tidak hanya membuka peluang ekspor, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen yang andal.

Analisis Indef menunjukkan bahwa pemanfaatan mineral kritis secara lokal akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Dengan membangun infrastruktur manufaktur yang mendukung teknologi energi bersih, Indonesia dapat mengurangi defisit impor, meningkatkan pendapatan negara, serta menciptakan lapangan kerja baru. Kebutuhan akan produk-produk bernilai tambah, seperti baterai lithium-ion atau panel surya berbasis silikon, akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi digital dan industri manufaktur.

Imaduddin juga mengingatkan bahwa Indonesia perlu mempercepat investasi dalam riset dan pengembangan teknologi untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan mineral. Kebijakan yang terintegrasi akan meminimalkan risiko ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan. "Dengan menempatkan mineral kritis dalam perspektif strategis, kita bisa memastikan bahwa potensi ekonomi kita tidak hanya terbatas pada ekspor bahan baku, tetapi juga berkembang menjadi kekuatan manufaktur global," ujarnya.

Di sisi lain, keterlibatan dalam rantai pasok global menjadi tantangan baru. Banyak negara berlomba-lomba untuk mengamankan pasokan mineral kritis yang dibutuhkan dalam pemanfaatan energi terbarukan. Indonesia, dengan sumber daya yang berlimpah, harus bisa memanfaatkan peluang ini dengan tepat. Kebijakan yang komprehensif akan membantu negara ini menyesuaikan diri dengan dinamika pasar internasional, sekaligus memastikan kemandirian dalam rantai pasok.

Imaduddin menambahkan bahwa pengintegrasian mineral kritis dalam strategi energi nasional juga membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah dalam industri. Dengan membangun kapasitas produksi di dalam negeri, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada teknologi asing, sekaligus mengembangkan sektor manufaktur yang lebih kompetitif. Ini berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing industri dalam skala global.

Peran mineral kritis dalam transisi energi tidak bisa dipandang secara parsial. Dari hulu ke hilir, seluruh sektor harus terlibat dalam memastikan ketersediaan bahan