AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Terangi Pesisir Karawang, Bahlil Tinjau Bantuan Kelistrikan

Published Oktober 16, 2026 · Updated Oktober 16, 2026 · By Sinta Ananda - amalzakat.com

Foto : Sinta Ananda - amalzakat.com

Penguatan Jaringan Listrik di Pesisir Karawang Sasar Warga Berpenghasilan Rendah

Amalzakat.com – Akses listrik yang lebih stabil mulai diperluas di Desa Muara Baru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, meninjau langsung pelaksanaan Program Listrik Perdesaan (Lisdes) serta Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) gratis di wilayah tersebut pada Kamis (15/10/2026).

Kunjungan itu menyoroti kebutuhan warga pesisir yang selama ini belum seluruhnya memperoleh layanan kelistrikan dengan kualitas memadai. Persoalannya bukan sekadar rumah yang belum memiliki sambungan sendiri, melainkan juga tegangan listrik yang lemah akibat keterbatasan infrastruktur distribusi.

Wilayah yang telah tersambung jaringan listrik pun dapat menghadapi hambatan apabila arus yang diterima tidak cukup kuat untuk kebutuhan rumah tangga. Kondisi seperti ini membuat penggunaan peralatan dasar, mulai dari pompa air hingga penanak nasi dan pengisian telepon, menjadi terbatas ketika dipakai dalam waktu bersamaan.

“Dahulu, daerah ini, wilayah ini khususnya, itu sudah ada listrik. Tapi tegangannya rendah. Maka arus yang masuk untuk mengalir listrik itu tidak maksimal. Program yang kita lakukan adalah bagaimana meningkatkan arus masuknya listrik supaya kuat, maka kita pasang trafo 50 kVA, kita pasang tiang-tiang, itu program listrik desa dari Bapak Presiden Prabowo,” ujar Bahlil.

Trafo dan Tiang Baru untuk Memperbaiki Pasokan

Penguatan jaringan di Muara Baru dilakukan melalui pemasangan transformator berkapasitas 50 kVA serta pembangunan tiang listrik. Langkah tersebut ditujukan agar pasokan daya ke rumah-rumah warga lebih andal dan mampu mendukung pemakaian listrik sehari-hari.

Di saat yang sama, BPBL diberikan kepada keluarga yang memenuhi persyaratan penerima. Program ini membantu warga mendapatkan sambungan listrik mandiri tanpa dikenai biaya pemasangan. Bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, biaya penyambungan secara pribadi yang dapat mencapai sekitar Rp 2 juta kerap menjadi penghalang utama.

Ketika biaya itu sulit dipenuhi, sebagian keluarga memilih menumpang listrik dari rumah di sekitarnya. Pilihan tersebut memang dapat menjadi jalan sementara, tetapi membuat penggunaan listrik harus dibagi dengan pemilik sambungan dan berpotensi membatasi kenyamanan maupun keamanan pemakaian di rumah.

“Saudara-saudara kita ini kalau pasang sendiri harganya sekitar dua juta rupiah, akhirnya sering menyambung dari rumah tetangga. Melalui BPBL, ini kita pasangkan mandiri dan gratis. Listrik ini adalah wujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.

Dari Sambungan Tetangga Menjadi Listrik Mandiri

Perubahan tersebut dirasakan oleh Ono Taryono dan Diana, warga RT 01 RW 01 Dusun Krajan, Desa Muara Baru. Ono bekerja sebagai buruh tambak harian dan sebelumnya mengandalkan aliran listrik dari rumah tetangga. Untuk sambungan tersebut, keluarganya membayar iuran Rp 50.000 setiap bulan.

Diana menggambarkan keterbatasan yang dihadapi keluarganya selama belum memiliki sambungan sendiri. Tegangan listrik yang tidak stabil membuat sejumlah perangkat rumah tangga tidak leluasa digunakan secara bersamaan.

“Dahulu listriknya numpang, tegangannya seringspanengdan jepret kalau dipakai berbarengan. Mau nyalakan penanak nasi, pompa air, atau cas HP harus gantian. Bahkan nyalanya cuma dari magrib sampai jam enam pagi,” ungkap Diana.

Setelah menerima bantuan sambungan mandiri, keluarga Ono kini memperoleh listrik selama 24 jam. Kehadiran sambungan sendiri memberi ruang yang lebih layak bagi keluarga untuk menjalankan kebutuhan rumah tangga tanpa harus bergantung pada kapasitas listrik milik tetangga.

Setiap penerima BPBL memperoleh instalasi rumah yang terdiri atas tiga titik lampu, saklar tunggal dan ganda, kotak kontak, serta sistem pembumian atau grounding. Paket bantuan juga mencakup Sertifikat Laik Operasi (SLO), sambungan daya 900 VA, dan token listrik awal senilai Rp 100.000 tanpa biaya.

Tantangan Pemerataan hingga Dusun Terpencil

Pemerintah masih menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan pelayanan listrik menjangkau seluruh wilayah. Secara nasional, terdapat sekitar 11.000 desa dan jutaan rumah tangga yang belum menikmati akses listrik secara optimal. Tantangan itu tidak hanya berada di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar, tetapi juga masih ditemukan di sejumlah pelosok Pulau Jawa.

Letak permukiman yang jauh dari jaringan utama membuat pembangunan distribusi listrik memerlukan investasi tambahan. Di pegunungan Papua dan daerah kepulauan, akses jalan menjadi salah satu hambatan pembangunan infrastruktur. Sementara di Pulau Jawa, dusun yang berada jauh dari jalan utama tetap membutuhkan penarikan jaringan dan pemasangan tiang meski jumlah calon pelanggan tidak besar.

“Di Jawa pun sama, ada dusun yang letaknya satu kilometer masuk ke dalam dari jalan utama. Kalau PLN harus tarik jaringan dan tanam tiang hanya untuk melayani puluhan atau seratus rumah, hitungan ekonomisnya sering tidak masuk. Namun negara tetap wajib hadir agar semua warga memperoleh hak dan pelayanan listrik yang setara,” kata Bahlil.

Program Lisdes dan BPBL ditempatkan sebagai instrumen untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Selain memperluas jumlah sambungan, perbaikan jaringan juga penting agar listrik yang telah tersedia benar-benar dapat digunakan secara layak oleh masyarakat.

Pemerintah menargetkan seluruh desa di Indonesia dapat teraliri listrik sepenuhnya pada periode 2029–2030. Bagi warga di daerah yang masih mengalami tegangan rendah atau belum memiliki sambungan mandiri, target itu berarti bukan hanya hadirnya kabel dan tiang listrik, melainkan tersedianya layanan yang dapat menopang aktivitas rumah tangga secara lebih aman, stabil, dan berkelanjutan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Terangi Pesisir Karawang Bahlil Tinjau Bantuan?

Terangi Pesisir Karawang Bahlil Tinjau Bantuan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Terangi Pesisir Karawang Bahlil Tinjau Bantuan matter?

Terangi Pesisir Karawang Bahlil Tinjau Bantuan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.