AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Topics Covered: Ekspor Kopi UMKM Tertekan Rupiah Anjlok dan BI Rate Naik

Published Juni 25, 2026 · Updated Juni 25, 2026 · By Rizki Pratama

Ekspor Kopi UMKM Tertekan Rupiah Anjlok dan BI Rate Naik

Topics Covered - Jakarta, Beritasatu.com - Usaha kecil dan menengah (UKM) yang bergerak di bidang ekspor kopi kini menghadapi tekanan biaya produksi akibat beberapa faktor ekonomi yang saling terkait. Pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), serta fluktuasi harga minyak dunia menjadi penyebab utama gangguan pada operasional para pelaku usaha ini. Kondisi tersebut memengaruhi berbagai aspek keuangan, termasuk kebutuhan modal kerja, biaya produksi, serta biaya pengiriman ke pasar internasional.

Kenaikan Bunga Biaya Pembiayaan UMKM

Pelaku UMKM kopi Carlo Mayer menjelaskan bahwa peningkatan suku bunga membuat akses modal lebih sulit, terutama bagi usaha yang masih bergantung pada pinjaman. "Suku bunga yang naik memengaruhi perhitungan biaya pembiayaan kita, karena sekarang bunga yang diterapkan lebih tinggi dibanding sebelumnya," ujarnya saat diwawancara di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2026).

"Sebenarnya iya, karena posisi suku bunga ini, kita sangat berpengaruh sebenarnya," kata Carlo.

Kenaikan bunga juga memengaruhi keputusan para pelaku usaha untuk mencari modal tambahan. Biaya pinjaman meningkat, sehingga memperketat anggaran keuangan. "Dengan bunga yang naik, proses peminjaman atau pengambilan dana baru jadi lebih mahal. Ini pasti berdampak pada operasional kita," tambahnya.

Rupiah Melemah, Dollar Menguat

Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi tantangan lain. Nilai tukar rupiah yang turun membuat biaya transaksi dalam valuta asing lebih besar. Dalam wawancara dengan Beritasatu.com, Carlo menjelaskan bahwa penguatan dolar sangat berpengaruh pada biaya operasional. "Karena kita berhubungan langsung dengan dolar, harganya bisa naik. Ini membuat beban usaha kita semakin berat," ujarnya.

"Jadi harga-harganya itu kita pun sebenarnya bisa naik," kata Carlo.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (25/6/2026) pukul 11.55 WIB, rupiah terpantau berada di level Rp 17.929 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan mata uang lokal yang memperburuk kondisi keuangan para pelaku usaha. Biaya pembelian bahan baku dan pengiriman produk ke luar negeri meningkat, karena konversi dolar menjadi lebih mahal.

Kenaikan Harga Minyak dan Biaya Logistik

Selain perubahan nilai tukar, biaya logistik juga mengalami tekanan akibat volatilitas harga minyak dunia. Carlo menyebut bahwa biaya pengiriman ke pasar internasional sangat tergantung pada harga bahan bakar. "Untuk pengiriman ke luar negeri, kita mengikuti harga minyak. Jika minyak naik, ongkos kirim pun meningkat," tambahnya.

"Namun untuk pengiriman keluar negerinya sendiri pun kita kan mengikuti harga minyak gitu," kata Carlo.

Data dari Oil Price pada hari yang sama menunjukkan harga minyak mentah Brent mencapai US$ 72,59 per barel, sementara WTI diperdagangkan di US$ 69,44 per barel. Kenaikan harga minyak ini berdampak langsung pada biaya bahan bakar, yang menjadi komponen penting dalam operasional pengiriman.

BI Naikkan Suku Bunga untuk Stabilitas Kurs

Rapat dewan gubernur (RDG) BI pada 17-18 Juni 2026 memutuskan menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%. Suku bunga deposit facility juga turut naik ke 4,75%, sementara lending facility meningkat ke 6,50%. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan keputusan ini sebagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, terutama di tengah ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah.

"Keputusan ini juga sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5% ±1% yang ditetapkan pemerintah," pungkas Perry.

Kenaikan suku bunga diharapkan bisa mengurangi tekanan inflasi, tetapi juga memperkuat dampak pelemahan rupiah. Kondisi ini membuat operasional UMKM ekspor kopi semakin sulit, karena biaya produksi dan modal kerja terus meningkat. Carlo menilai bahwa tekanan ini tidak hanya terasa pada usahanya, tetapi juga dirasakan oleh banyak pelaku UMKM lain di sektor kecil.

Kenaikan Biaya dan Kebutuhan Modal

Dalam wawancara, Carlo juga menyebut bahwa kenaikan suku bunga mengubah pola pengambilan keputusan para pelaku usaha. "Dengan bunga yang lebih tinggi, kita harus lebih hati-hati dalam memilih sumber dana, karena biaya pinjaman kini lebih mahal," ujarnya. Kondisi ini mengurangi fleksibilitas bisnis, terutama bagi usaha yang membutuhkan modal tambahan untuk memperluas operasional.

Carlo mengakui bahwa harga kebutuhan usaha di Indonesia kini semakin meningkat. "Karena hampir semua harga di dalam negeri sudah mulai mahal, keputusan ekspor pun lebih rumit. Produk impor yang dijual di luar negeri juga menaikkan kompetisi kita," tambahnya. Kenaikan biaya bahan baku dan pengiriman membuat profit margin usaha tergerus, sehingga UMKM ekspor kopi perlu memperhatikan strategi pemasaran dan harga jual.

Impact on UMKM Sector

Kondisi ekonomi yang tidak stabil mengancam kelangsungan usaha UMKM, yang biasanya bergantung pada skala kecil dan fleksibilitas. Pelemahan rupiah serta kenaikan bunga membuat pengelolaan keuangan menjadi lebih rumit, terutama di tengah ketidakpastian pasokan dan permintaan internasional. "Jadi suku bunga di kita itu di mata luar juga kan banyak juga produk-produk impor. Ini membuat kita lebih sulit untuk sekarang ini sih," ujarnya.

Sementara itu, para pelaku usaha juga harus menghadapi tekanan harga bahan baku yang terus meningkat. "Karena harga minyak naik, biaya logistik kita pun ikut naik. Hal ini menyulitkan kita untuk bersaing di pasar ekspor," tambah Carlo. Dengan berbagai tantangan ini, UMKM kopi di Indonesia perlu mencari solusi ekonomi yang lebih efisien untuk menjaga kelangsungan bisnis.

Other News Head