Visit Agenda: Korban PHK PT GNI Bertahan di Morut Menanti Janji Dipekerjakan Kembali
Visit Agenda: Korban PHK PT GNI Bertahan di Morut
Visit Agenda - Gelombang pemutusan hubungan kerja yang melanda PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) telah memberikan dampak luas bagi ribuan tenaga kerja. Perubahan drastis terjadi dalam kehidupan mereka setelah kehilangan mata pencaharian. Data resmi dari Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Morowali Utara mencatat bahwa sebanyak 1.800 karyawan telah terdampak PHK dalam satu tahun terakhir. Saat ini, diperkirakan masih ada sekitar 6.000 pekerja yang terus bertahan di perusahaan tersebut. Visit Agenda melaporkan bahwa situasi ini menjadi sorotan utama bagi masyarakat lokal yang melihat langsung perubahan besar di wilayah mereka.
Sebagian besar pekerja yang terdampak memilih untuk kembali ke kampung halaman atau mencari peluang kerja di wilayah lain. Namun, tidak sedikit yang memutuskan untuk tetap tinggal di Morowali Utara dengan harapan kondisi perusahaan akan membaik. Salah satu contoh nyata adalah Sahrul Manofo, seorang pria berusia 29 tahun yang berasal dari luar Morut. Visit Agenda mencatat bahwa kisah Sahrul mewakili banyak pekerja lain yang menghadapi dilema serupa antara pulang kampung atau tetap bertahan.
Kisah Sahrul: Dari Kru Produksi Menjadi Montir Bengkel
Mantan karyawan PT GNI ini memilih untuk tetap tinggal di daerah tersebut meskipun telah kehilangan pekerjaan sejak Mei 2026. Ia menjelaskan alasannya dengan sederhana namun penuh makna. Sahrul memutuskan untuk bertahan sambil menunggu perusahaan kembali normal. Alasannya jelas, jika pulang kampung, tidak ada pekerjaan yang tersedia di sana. Visit Agenda menemukan bahwa keputusan Sahrul bukan hanya berdasarkan faktor ekonomi, tetapi juga keterikatan emosional dengan tempat kerja barunya.
"Yah bertahan saja di sini (Morut) sambil tunggu normal lagi perusahaan. Karena kalau pulang kampung, tidak ada pekerjaan juga di sana," ujar Sahrul kepada Beritasatu.com, Sabtu (11/7/2026).
Selama dua tahun bekerja sebagai kru produksi di PT GNI, Sahrul mengaku kehidupannya relatif lebih terjamin. Dengan penghasilan antara Rp 6 juta hingga Rp 7 juta per bulan, ia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa kesulitan berarti. Namun, situasi berubah setelah dirinya terdampak efisiensi perusahaan. Visit Agenda menyoroti bahwa penurunan pendapatan ini menjadi salah satu faktor utama yang membuat banyak pekerja merasa tidak nyaman dengan keputusan untuk pulang kampung.
Untuk bertahan hidup, Sahrul kini bekerja serabutan di sebuah bengkel motor di Desa Bunta, Kecamatan Petasia Timur. Ia mengaku hanya ikut-ikutan bekerja di bengkel tersebut bersama teman-temannya. Pendapatan yang diperoleh sangat berbeda dibanding saat masih bekerja di perusahaan tambang nikel. Pendapatan yang diperoleh sangat bergantung pada jumlah pelanggan yang datang setiap hari. Visit Agenda mencatat bahwa meskipun pendapatan lebih kecil, Sahrul merasa lebih tenang karena tetap berada di Morut.
"Ini (sementara) ikut-ikut (kerja) di bengkel sama teman," katanya.
Dalam sehari, Sahrul mengaku hanya bisa membawa pulang sekitar Rp 100.000. Bahkan, terkadang pendapatannya tidak mencapai angka tersebut. Meski demikian, harapan untuk kembali bekerja di PT GNI masih terus ia simpan. Sahrul mengaku saat proses PHK berlangsung, pihak perusahaan menyampaikan pemutusan hubungan kerja dilakukan karena kondisi perusahaan yang sedang melakukan efisiensi. Visit Agenda menambahkan bahwa janji perusahaan untuk memanggil kembali pekerja yang terkena PHK menjadi harapan utama bagi ribuan karyawan yang terdampak.
Menurutnya, saat itu manajemen juga menyampaikan kemungkinan memanggil kembali para pekerja yang terkena PHK apabila kondisi perusahaan kembali normal. Sembari menunggu harapan tersebut menjadi kenyataan, Sahrul tetap menjalani hari-harinya sebagai montir bengkel. Di tengah ketidakpastian, ia hanya bisa berharap kondisi perusahaan segera pulih, sehingga dapat kembali memperoleh pekerjaan yang pernah menjadi tumpuan hidupnya selama berada di Morowali Utara. Visit Agenda melaporkan bahwa banyak pekerja lain yang memiliki harapan serupa dan menunggu dengan sabar.
Kisah Sahrul bukan hanya ceritanya sendiri, melainkan representasi dari ribuan pekerja lain yang menghadapi situasi serupa. Mereka semua menghadapi tantangan yang sama, yaitu bagaimana bertahan hidup sambil menunggu kabar baik dari perusahaan tempat mereka bekerja selama bertahun-tahun. Morowali Utara telah menjadi rumah kedua bagi banyak pekerja, dan meninggalkan tempat tersebut bukan pilihan yang mudah. Visit Agenda menyoroti bahwa fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan pekerja dengan tempat kerja mereka di kawasan industri nikel.
Harapan akan pemulihan ekonomi perusahaan menjadi motivasi utama bagi para pekerja yang terdampak PHK. Mereka percaya bahwa masa-masa sulit ini akan berlalu dan kesempatan untuk kembali bekerja akan datang. Sementara itu, mereka terus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan pekerjaan apa pun yang tersedia. Visit Agenda mencatat bahwa dukungan dari pemerintah daerah dan pihak perusahaan sangat dibutuhkan untuk membantu para pekerja melewati masa transisi ini dengan lebih baik.