Kebijakan Baru: Tokocrypto gandeng BRI dan Mandiri guna dorong transaksi

Tokocrypto Kolaborasi dengan BRI dan Mandiri untuk Perluas Akses Transaksi

Di Jakarta, Tokocrypto meluncurkan kerja sama dengan Bank BRI dan Bank Mandiri untuk menambah opsi metode deposit di platformnya. Upaya ini bertujuan memudahkan akses masyarakat serta meningkatkan volume transaksi, meski pasar kripto sedang mengalami pelemahan.

Menurut Calvin Kizana, CEO Tokocrypto, penambahan ini menjadi bagian dari strategi untuk membuat akses ke pasar kripto lebih mudah dan inklusif. Dengan lebih banyak metode pembayaran, dia optimis bisa mendorong kembali keaktifan investor.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), transaksi aset kripto pada Februari 2026 mencapai Rp24,33 triliun, turun dibandingkan Januari 2026 yang mencapai Rp29,28 triliun. Penurunan ini terkait dengan koreksi harga aset kripto global serta perubahan dinamika ekonomi internasional.

Calvin menjelaskan bahwa pelemahan transaksi merupakan bagian dari siklus pasar. “Pasar kripto saat ini memasuki fase konsolidasi setelah melalui masa puncak peningkatan sebelumnya,” ujarnya. Kondisi ini ditandai dengan koreksi harga dan penurunan volume transaksi, yang dipengaruhi oleh tensi geopolitik dan kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat.

Tensi geopolitik yang meningkat memperkuat sentimen risk-off di pasar keuangan, sementara kebijakan suku bunga tinggi mendorong likuidasi posisi leverage, yang berdampak langsung pada penurunan volume transaksi. Meski ETF Bitcoin mengalami inflow 1,13 miliar dolar AS di Maret, tren tersebut melemah menjadi outflow 296 juta dolar AS di akhir bulan.

Masuknya April, inflow kembali tercatat sekitar 69,6 juta dolar AS, menunjukkan minat institusi masih ada meski belum cukup untuk memulihkan reli pasar. Sejalan dengan dorongan OJK untuk memperkuat industri kripto, Tokocrypto terus menerapkan berbagai strategi, termasuk penambahan kanal deposit baru yang menggabungkan metode sebelumnya seperti BCA dan QRIS.

Hingga Februari 2026, jumlah pengguna aset kripto di Indonesia mencapai 21,07 juta, dengan pertumbuhan 1,76 persen bulan ke bulan. Tokocrypto memiliki sekitar 4,8 juta pengguna yang mencatat nilai transaksi hingga Rp160 triliun pada 2025, menunjukkan adanya basis investor yang signifikan.

Calvin optimis bahwa transaksi akan meningkat pada kuartal II 2026, seiring harapan stabilisasi kondisi makroekonomi dan geopolitik. Ia juga menyebutkan kegiatan BLK bulan April hingga Mei 2026 diharapkan memperkuat pemahaman masyarakat terhadap pasar kripto.