Info Terbaru: Satgas PRR: Praja IPDN bersihkan situs bersejarah Aceh Tamiang
Satgas PRR: Praja IPDN Bersihkan Situs Bersejarah Aceh Tamiang
Jakarta – Dalam upaya mempercepat pemulihan lingkungan pasca-bencana, Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera mengirimkan para Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) untuk membersihkan lumpur di situs sejarah Aceh Tamiang. Dikutip dari pernyataan Satgas PRR, Senin, salah satu anggota tim bernama I Gusti Ngurah Erlang AW menyatakan bahwa dirinya serta rekan-rekan Praja IPDN merasa bangga karena diberi kesempatan membantu masyarakat di daerah yang terkena dampak bencana.
“Kami merasa diberi tugas melaksanakan misi kemanusiaan. Kami sangat senang dan bangga, apalagi sebagian besar dari kami ini adalah pertama kalinya melaksanakan tugas di Aceh,” ujar Erlang.
Situs yang dibersihkan, yakni Istana Benua Raja, merupakan peninggalan Kerajaan Benua Tunu yang berada di Desa Benua Raja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang. Praja IPDN menggunakan alat seperti sekop dan kereta dorong untuk menyisir setiap sudut lorong bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari kerajaan Islam tertua di Aceh tersebut. Dalam tugasnya, Erlang mengeruk lumpur yang mengeras akibat banjir yang melanda Aceh Tamiang akhir November lalu.
Praja Pratama IPDN angkatan ke-36 terlihat antusias meski harus bekerja di bawah terik matahari dan berkeringat. Mereka berpartisipasi dalam Praktik Kerja Lapangan (PKL) gelombang ketiga, yang salah satu titiknya adalah Istana Benua Raja. Tito Karnavian, Ketua Satgas PRR, menekankan bahwa 731 Praja IPDN yang diterjunkan dalam PKL tersebut fokus pada pembersihan rumah warga, drainase, dan jalan desa sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan.
Pada acara apel pembukaan PKL gelombang ketiga di Istana Benua Raja, Sabtu (4/4), Tito meminta para Praja IPDN bekerja keras mengatasi endapan lumpur yang mencapai 4 hingga 5 meter di Aceh Tamiang. “Target utamanya adalah menyelesaikan masalah yang masih tertutup lumpur, termasuk situs sejarah ini, serta rumah warga dan drainase,” jelas Tito.
Erlang mengakui kebanggaannya ikut langsung dalam pemulihan pasca-bencana, terlebih karena tugas ini memperkuat keterlibatan langsung dengan masyarakat. Ia menilai penugasan lebih dari sekadar membersihkan, karena juga menjadi sarana membangun hubungan empati dengan penyintas bencana.



