Main Agenda: G7 Tanpa China, Ibarat Piala Dunia Tanpa Brasil
KTT G7 Tanpa China: Kekuatan Ekonomi yang Menguasai Dunia
Main Agenda - Paris, Beritasatu.com — Pada 15 Juni 2026, ketika pemimpin negara-negara anggota G7 berkumpul di Prancis untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT), pertanyaan besar kembali muncul: apakah forum negara-negara maju tersebut masih relevan jika tidak melibatkan China? Meski G7 telah ada sejak 1975, ketika China belum menjadi kekuatan ekonomi global, situasi saat ini jauh lebih berbeda. Setelah bertahun-tahun tumbuh pesat, China kini menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar, dengan pengaruh yang menjangkau hampir semua sektor dunia.
China: Dari Panda Kecil ke Naga Besar
Pada awal pembentukan G7, China masih berada di bawah kepemimpinan Mao Zedong, menghadapi berbagai gejolak politik dan ekonomi. Namun, sekarang negara ini terus menunjukkan kekuatan yang tidak terbantahkan. Menurut John Kirton, pakar G7 dari University of Toronto, China kini tidak lagi dianggap sebagai "panda kecil yang tidak berbahaya" tetapi menjadi "naga besar dunia" yang berdampak signifikan dalam perekonomian global. "Kehadiran China di dalam forum ini memperluas pengaruhnya secara signifikan," kata Kirton.
Secara ekonomi, negara ini telah melampaui sejumlah besar negara anggota G7, termasuk Jerman, Jepang, Inggris, Prancis, Italia, dan Kanada. Hanya Amerika Serikat yang masih mengungguli China dalam hal pertumbuhan ekonomi. Hal ini membuat banyak analis mempertanyakan apakah G7 masih bisa menjalankan fungsinya secara efektif tanpa China. "Dengan pengaruh ekonomi yang luar biasa, China ibarat Brasil di Piala Dunia, yang tidak bisa dihilangkan dari pertandingan," ungkap Cedric Dupont, pakar politik internasional dari Geneva Graduate Institute.
Peran China dalam KTT G7
Di luar menjadi anggota, China tetap menjadi topik utama dalam diskusi KTT G7 tahun ini. Pengaruh ekonomi Beijing yang dominan membuat kebijakannya memiliki dampak langsung pada anggota-anggota G7. Dalam 2025, China mencatat surplus perdagangan hampir US$ 1,2 triliun, menguasai pasokan berbagai mineral penting, serta terus meningkatkan kemampuan teknologi dan militer. Dengan dominasi ini, negara ini menjadi bagian integral dari agenda global, termasuk perubahan iklim.
Pemimpin Prancis Emmanuel Macron, sebagai tuan rumah KTT, menjadwalkan pembahasan khusus mengenai hubungan perdagangan dengan China. Para anggota G7 khawatir lonjakan ekspor produk dari Beijing, termasuk kendaraan dan teknologi manufaktur, akan menekan industri dalam negeri mereka. "China menjadi faktor yang sulit diabaikan, karena kemampuannya dalam memengaruhi ekonomi global," kata Dupont. Di sisi lain, para negara anggota G7 juga sadar bahwa peran China sangat vital dalam menjaga keseimbangan kekuasaan dan kebijakan luar negeri.
Kepentingan Politik dan Struktur Forum
Kebutuhan China untuk bergabung dengan G7 memang masih terbatas. Salah satu alasan utamanya adalah karakter dasar kelompok tersebut yang sejak awal dibentuk sebagai forum negara-negara demokrasi. Deklarasi pendirian G7 pada 1975 menyatakan bahwa anggota mewakili masyarakat terbuka yang mendukung kebebasan individu, demokrasi, dan kemajuan sosial. Kriteria ini dinilai sulit dipenuhi oleh China, baik di era Mao Zedong maupun di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping saat ini.
Beberapa indeks internasional, seperti kebebasan sipil, kebebasan pers, dan kebebasan ekonomi, menempatkan China jauh di bawah anggota-anggota G7. Meski demikian, Beijing tetap memandang G7 dengan sikap hati-hati. Pemerintah Tiongkok kerap mengkritik eksklusivitas forum tersebut, menganggapnya sebagai warisan era Perang Dingin. Dalam pernyataan menjelang KTT, Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa G7 seharusnya menjadi sarana memperkuat solidaritas dan kerja sama internasional, bukan memperbesar perpecahan dan konfrontasi.
Analisis: Tantangan Membawa China ke G7
Menurut Wang Zichen, analis dari Beijing, G7 tetap memiliki pengaruh besar karena mewakili konsentrasi kekuatan ekonomi, teknologi, militer, dan finansial dunia. Meski China tidak menjadi anggota, kehadirannya di dalam diskusi KTT membuat kebijakan negara ini memiliki dampak yang nyata. "China memainkan peran penting dalam isu-isu seperti perubahan iklim dan ekonomi global," katanya.
Beberapa pengamat menilai bahwa memasukkan China ke dalam G7 justru berpotensi mengganggu soliditas kelompok tersebut. Perbedaan sistem politik, kepentingan strategis, dan sikap terhadap isu-isu internasional seperti Rusia dan Iran dinilai bisa memperumit proses pengambilan keputusan. Kirton bahkan menyebutkan bahwa kehadiran China dalam G7 berpotensi menjadi "kuda Troya" yang dapat memecah kesatuan anggota-anggota. "China memiliki kemampuan untuk mengubah dinamika kebijakan kelompok ini," tegasnya.
Perspektif Tiongkok: Keinginan dan Kekhawatiran
Pemerintah Tiongkok menilai G7 sebagai forum yang bisa menjadi platform untuk memperluas pengaruhnya di dunia. Meski khawatir tentang eksklusivitas, Beijing tetap menyadari bahwa G7 memiliki posisi penting dalam membangun kebijakan global. Dalam konteks ini, China ingin memastikan bahwa suara dan peran negara ini diakui dalam berbagai isu yang mendesak, seperti perubahan iklim dan keamanan global.
Di samping itu, China juga menginginkan partisipasi aktif dalam KTT G7 untuk meningkatkan akses ke pasar dan teknologi. Namun, tantangan utamanya adalah karakteristik demokrasi yang menjadi dasar G7. "China ingin menjadi bagian dari forum ini, tetapi harus memenuhi standar yang berlaku," kata Wang Zichen. Meski demikian, China tetap berusaha membangun hubungan kerja sama dengan anggota G7, terutama dalam isu-isu yang saling menguntungkan.
Dalam era globalisasi, G7 tanpa China mungkin terasa seperti Piala Dunia tanpa Brasil, yang dianggap sebagai tim dominan. Meskipun peran China tidak bisa diremehkan, partisipasinya dalam KTT G7 akan tetap menjadi topik yang menarik perhatian. Para pemimpin G7 mempertimbangkan apakah China bisa menjadi anggota yang mendorong koordinasi global, atau justru menjadi faktor yang memecah keseragaman kebijakan mereka.