AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Main Agenda: Trump: Iran Sepakati Hampir Semua Tuntutan Amerika Serikat

Published Juli 3, 2026 · Updated Juli 3, 2026 · By Dewi Santoso

Trump: Iran Setuju Hampir Semua Tuntutan AS

Main Agenda - Washington, Beritasatu.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa proses negosiasi antara Washington dan Teheran menunjukkan kemajuan positif. Dalam wawancara dengan CNBC, Kamis (2/7/2026), Trump menegaskan bahwa Iran telah menyetujui hampir seluruh tuntutan utama yang diajukan pemerintah AS. Meski masih berlangsung, ia memberikan sinyal optimis bahwa kesepakatan akan tercapai dalam waktu dekat.

Kesepakatan Menjadi Titik Balik?

Trump menyatakan bahwa negosiasi yang sedang berjalan tidak hanya fokus pada masalah nuklir, tetapi juga mencakup isu-isu strategis lainnya. “Kami sedang bernegosiasi. Saya rasa mereka (Iran) sudah menyetujui hampir semua yang kami butuhkan,” ujarnya, seperti dilaporkan Anadolu Agency, Jumat (3/7/2026). Ia menekankan bahwa prioritas utama Washington adalah mengendalikan kemampuan nuklir Iran, bukan mengganti pemerintahan mereka.

“Kami tidak mencari perubahan rezim. Saya hanya ingin memastikan mereka tidak memiliki senjata nuklir,” tambah Trump.

Pernyataan ini menunjukkan upaya AS untuk membangun konsensus dengan Iran, meski hubungan bilateral masih dipengaruhi oleh ketegangan sebelumnya. Trump menyoroti bahwa keberhasilan dalam negosiasi bisa mengubah dinamika kebijakan luar negeri AS, terutama dalam konteks keamanan regional dan pengendalian nuklir.

Operasi Militer Sebagai Pendahuluan

Di luar pembicaraan diplomatik, Trump juga membahas operasi militer yang baru-baru ini dilakukan Washington terhadap Iran. Ia menyatakan bahwa serangan militer berhasil mengurangi kemampuan Iran dalam mengembangkan senjata nuklir. “Saya telah mengalahkan mereka secara militer. Mereka benar-benar dikalahkan. Mereka masih memiliki beberapa rudal, tetapi kita bisa menghancurkannya,” ujarnya.

“Saya menyerang mereka tiga kali minggu lalu dengan sangat keras, karena mereka mengirimkan drone ke sebuah kapal,” tambah Trump.

Menurut Trump, serangan tersebut merupakan langkah penting untuk memperkuat posisi AS dalam perundingan. Ia menekankan bahwa militer AS tidak hanya sebagai alat tekan, tetapi juga sebagai penjamin keseriusan tuntutan diplomatik yang diajukan. Meski demikian, ia mengakui bahwa Iran masih memiliki kemampuan rudal, yang menjadi sorotan utama dalam pembicaraan.

Putaran Perundingan Berikutnya

Sementara itu, mediator dari Qatar dan Pakistan menyatakan bahwa putaran berikutnya dari perundingan AS-Iran akan segera dilaksanakan. Proses ini dijadwalkan berlangsung setelah rangkaian acara pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, yang meninggal dunia akibat serangan gabungan AS-Israel pada Sabtu (28/2/2026).

Pemakaman Khamenei akan berlangsung hingga Kamis (9/7/2026) mendatang. Duta Besar Qatar dan Pakistan memperkirakan bahwa keberadaan Khamenei sebagai simbol kekuasaan Iran akan memengaruhi dinamika perundingan, baik dalam konteks kebijakan nuklir maupun hubungan geopolitik.

Strategi AS: Kombinasi Diplomasi dan Militer

Trump menegaskan bahwa strategi AS menggabungkan pendekatan diplomatik dan militer untuk mencapai tujuan yang sama. Ia berpendapat bahwa serangan militer tidak hanya mengurangi kemampuan Iran, tetapi juga memberi tekanan politik yang membuat mereka lebih terbuka terhadap negosiasi. “Kami menunjukkan kekuatan, dan itu memudahkan proses perundingan,” jelasnya.

Menurut analis, langkah ini menggambarkan upaya AS untuk menyeimbangkan tekanan ekonomi dan militer terhadap Iran. Dengan mengikat Iran secara diplomatik, Washington diharapkan dapat mengurangi risiko ancaman nuklir dan mengamankan kepentingan strategis di Timur Tengah. Namun, keberhasilan kesepakatan tetap bergantung pada kemauan Iran untuk memenuhi syarat yang telah ditetapkan.

Konteks Negosiasi: Tantangan dan Peluang

Perundingan antara AS dan Iran telah berlangsung sejak akhir 2025, setelah kesepakatan nuklir 2015 yang dianggap sebagai "masa jaya" oleh Trump. Ia mengkritik kesepakatan tersebut karena dianggap tidak cukup ketat dalam membatasi kemampuan nuklir Iran. Dengan negosiasi baru, Trump ingin menegaskan kontrol lebih ketat atas program nuklir Iran, termasuk batasan jumlah senjata yang dapat dibangun.

Hal ini juga mencakup tuntutan untuk membatasi kegiatan nuklir Iran selama 10 tahun, mengurangi cadangan bahan bakar nuklir, dan menyetujui pembatasan penggunaan rudal. Trump menilai bahwa Iran secara konsisten mengikuti instruksi AS dalam hal-hal tersebut, meski masih ada ruang untuk perbaikan.

Peluang dan Risiko dalam Kesepakatan

Dalam wawancara, Trump menyoroti bahwa Iran mengakui kebutuhan untuk mematuhi kebijakan AS, terutama dalam hal keseimbangan kekuatan regional. “Mereka tidak akan menantang AS selama kami memberi mereka kesempatan untuk berada dalam keadaan yang lebih baik,” katanya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa Iran tetap bisa menjadi ancaman jika tidak memenuhi syarat secara penuh.

Sementara itu, kritikus mengingatkan bahwa keberhasilan negosiasi masih bergantung pada komitmen Iran untuk mematuhi syarat yang diberlakukan. Trump menegaskan bahwa AS akan terus mengawasi kemajuan Iran, termasuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir dalam konflik regional. “Kami tidak ingin mereka mengubah rencana saat ini,” ujarnya.

Konteks perundingan ini juga dipengaruhi oleh kondisi politik di Iran, di mana Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei meninggal dunia. Peristiwa ini memberikan peluang bagi AS untuk mengambil langkah strategis dalam perundingan, baik melalui pendekatan diplomatik maupun tekanan militer yang lebih kuat.

Perkembangan Selanjutnya

Meski masih ada tantangan, Trump menilai bahwa negosiasi memperlihatkan kemajuan signifikan. Ia menyatakan bahwa pihak Iran secara aktif mengikuti diskusi dan bersedia beradaptasi dengan kebutuhan AS. “Kami bisa mencapai kesepakatan yang baik,” katanya dalam wawancara terpisah.

Dalam rangka menguatkan posisi, Trump juga mengingatkan bahwa AS tidak akan mundur dari tuntutannya. Ia menekankan bahwa program nuklir Iran tetap menjadi fokus utama, terlepas dari masalah-masalah lain yang mungkin terbuka dalam perundingan. “Kami tidak hanya berbic