Meeting Results: Imbas Perang AS-Iran, Kapal di Selat Hormuz Cetak Rekor Tersepi 2026!
Meeting Results: Rekor Terendah Kapal di Selat Hormuz 2026
Meeting Results - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memberikan dampak langsung terhadap aktivitas maritim di Selat Hormuz. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari platform pelacakan kapal Kpler, volume kapal yang melewati jalur strategis ini mengalami penurunan signifikan hingga menyentuh level terendah dalam kurun waktu lima minggu terakhir. Fenomena ini terjadi seiring dengan memanasnya hubungan kedua negara serta serangkaian insiden yang menimpa kapal-kapal di perairan Timur Tengah. Kekhawatiran akan keamanan salah satu arteri distribusi minyak terbesar di dunia pun semakin menguat di kalangan pelaku industri.
Meeting Results menunjukkan bahwa data yang dirilis oleh Jerusalem Post mengonfirmasi bahwa pada hari Minggu tanggal 12 Juli 2026, hanya enam unit kapal saja yang berhasil melintasi Selat Hormuz. Angka tersebut menandai rekor terendah dalam setengah bulan terakhir dan mencerminkan sikap hati-hati yang diambil oleh perusahaan pelayaran global. Kondisi keamanan yang terus memburuk di kawasan tersebut mendorong para operator untuk lebih selektif dalam menentukan rute pelayaran mereka. Dari total enam kapal yang tercatat, dua di antaranya merupakan tanker bermuatan yang sedang keluar dari Selat Hormuz menuju tujuan masing-masing.
Distribusi Kapal dan Pengurangan Risiko
Kapal pertama yang tercatat keluar adalah Very Large Crude Carrier (VLCC) dengan nama Humanity. Kapal raksasa ini membawa muatan minyak mentah asal Iran sebanyak sekitar dua juta barel. Sementara itu, kapal kedua bernama Capetan Andreas membawa produk minyak dari Kuwait dengan volume sekitar lima ratus ribu barel. Di sisi lain, tiga kapal tanker kosong juga tercatat memasuki kawasan Teluk Persia untuk melakukan pengisian muatan minyak mentah. Menariknya, sebagian besar kapal tanker memilih untuk mematikan sistem transponder atau automatic identification system (AIS) saat melewati Selat Hormuz. Langkah antisipatif ini diambil untuk mengurangi risiko keamanan di tengah meningkatnya potensi ancaman.
Selama akhir pekan, tidak ada satupun kapal tanker pengangkut gas alam cair (LNG) yang tercatat memasuki Selat Hormuz berdasarkan data pelacakan. Selain itu, hanya satu kapal tanker yang dioperasikan oleh Abu Dhabi National Oil Co (ADNOC) yang meninggalkan Selat Hormuz dalam periode 10 hingga 12 Juli. Kapal tersebut diketahui berlayar menuju Pelabuhan Dahej di India. Meeting Results mencatat penurunan aktivitas pelayaran ini tidak terlepas dari eskalasi konflik antara AS dan Iran yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Eskalasi Militer dan Respons Diplomatik
Washington kembali melancarkan gelombang serangan militer ke sejumlah wilayah di Iran sebagai respons atas ketegangan yang terjadi. Meeting Results mengonfirmasi bahwa Pemerintah Iran mengecam keras operasi tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta hukum internasional. Teheran juga menilai tindakan tersebut mengancam stabilitas kawasan sekaligus merusak upaya menjaga keamanan di Timur Tengah. Iran turut memperingatkan negara mana pun yang mengizinkan wilayah atau fasilitasnya digunakan sebagai pangkalan untuk melancarkan serangan terhadap Iran dapat dianggap sebagai bagian dari agresi dan berpotensi menjadi sasaran operasi pertahanan Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran mendesak Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Dewan Keamanan PBB segera mengambil langkah terhadap Amerika Serikat atas operasi militer tersebut. Di sisi lain, Teheran juga membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai hasil pembicaraan yang sebelumnya berlangsung di Muscat, Oman. Meeting Results menunjukkan bahwa menurut Pemerintah Iran, pembahasan dalam pertemuan tersebut hanya berfokus pada pengelolaan Selat Hormuz dan keamanan jalur pelayaran internasional, bukan seperti yang diklaim Washington.
Ketegangan kedua negara juga diwarnai serangan udara AS yang menghantam sebuah stasiun pompa air pertanian di Mahshahr, Provinsi Khuzestan, Iran barat daya, pada Senin (13/7/2026). Berdasarkan laporan otoritas setempat, serangan tersebut menewaskan seorang petugas keamanan yang sedang berjaga di lokasi. Empat orang lainnya mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan medis. Meeting Results mencatat gelombang operasi militer AS juga dilaporkan menyasar sejumlah wilayah lain di Iran selatan, termasuk Bandar Abbas, Sirik, Pulau Qeshm, Jask, Bushehr, dan Kangan.
Sebelumnya, media Iran melaporkan beberapa ledakan terdengar di Jask, Bandar Abbas, dan Sirik setelah operasi militer dimulai. Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyatakan operasi militer tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam melancarkan serangan terhadap pelaut sipil maupun kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Pada Sabtu (11/7/2026), militer AS mengumumkan telah menyerang sekitar 140 target militer Iran menggunakan amunisi berpemandu presisi yang diluncurkan dari pesawat tempur, drone, dan kapal perang. Target operasi meliputi lokasi peluncur rudal dan fasilitas pertahanan udara. Meeting Results menegaskan bahwa eskalasi ini berdampak signifikan terhadap stabilitas pelayaran internasional di Selat Hormuz.