AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Meeting Results: Iran Sebut Trump Tak Komitmen pada Negosiasi dan Gencatan Senjata

Published Juni 28, 2026 · Updated Juni 28, 2026 · By Sinta Ananda

Iran Sebut Trump Tak Komitmen pada Negosiasi dan Gencatan Senjata

Meeting Results - Dari Teheran, Beritasatu.com – Sejumlah pernyataan resmi dari Iran telah mengungkapkan ketidakpuasan terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam menghadapi situasi diplomatik yang sedang berlangsung. Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menyebut bahwa Trump tidak serius menjalankan komitmen terhadap upaya perdamaian dan perundingan yang dilakukan kedua negara. Hal ini menunjukkan sikap inkonsisten dari pihak AS, yang dinilai sebagai penghalang bagi pencapaian kesepakatan gencatan senjata.

Penyataan Azizi muncul setelah pihak militer Amerika Serikat melakukan serangan terhadap fasilitas milik Iran, yang menurut informasi resmi, terjadi pada Jumat (26/6/2026). Serangan ini menargetkan infrastruktur seperti penyimpanan rudal, drone, dan radar pesisir, sebagai respons atas dugaan serangan Iran terhadap sebuah kapal komersial di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun X milik Azizi, yang juga memberi penekanan pada tindakan AS yang dinilai bertentangan dengan prinsip perundingan.

"Amerika Serikat kembali menyerang Iran di tengah berlangsungnya perundingan. Presiden AS yang gagal kembali menunjukkan ia tidak berkomitmen terhadap prinsip-prinsip negosiasi maupun gencatan senjata," tulis Azizi.

Azizi menilai serangan tersebut bukan hanya merugikan Iran, tetapi juga menunjukkan bahwa AS masih bersikeras pada pendekatan yang tidak kooperatif. Menurutnya, tindakan gegabah tersebut akan mengganggu proses perundingan dan memicu ketegangan lebih lanjut. "Pelanggaran gencatan senjata yang gegabah ini, seperti biasa, pada akhirnya akan berujung pada kemunduran dan penyesalan di pihak mereka. Saling menyalahkan tak lagi efektif," tambahnya.

Di sisi lain, Presiden Trump menegaskan bahwa Iran bertindak melanggar kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati antara kedua negara. Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa Iran telah meluncurkan empat drone serang satu arah ke arah kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Menurutnya, serangan ini adalah tindakan provokatif yang menunjukkan ketidakpatuhan Iran terhadap komitmen yang telah dibuat.

MoU dan Jangka Waktu Perundingan

Situasi ini terjadi ketika Iran dan Amerika Serikat masih dalam proses membahas nota kesepahaman (MoU) yang bertujuan mengakhiri konflik antara AS, Israel, dan Iran. MoU tersebut ditandatangani secara elektronik pada 18 Juni 2026 oleh Presiden Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, memberikan jangka waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan final mengenai program nuklir Iran serta pencabutan sanksi ekonomi yang diberlakukan AS. Kedua negara sedang berupaya keras untuk mengubah ketegangan menjadi kesepakatan yang saling menguntungkan.

MoU ini diperkirakan akan menjadi dasar untuk pembahasan lebih lanjut tentang stabilitas kawasan Timur Tengah. Namun, serangan militer AS terhadap fasilitas Iran menimbulkan kecurigaan bahwa komitmen Trump terhadap perjanjian tersebut tidak konsisten. Azizi mengungkapkan bahwa tindakan AS mengindikasikan kurangnya keinginan untuk menghormati prinsip negosiasi, terutama dalam menghadapi kepentingan Iran.

"Serangan militer ini tidak hanya merusak infrastruktur Iran, tetapi juga menggagalkan usaha diplomasi yang sedang berlangsung. Maka, kebijakan AS tidak bisa dianggap sebagai langkah mendukung perdamaian," kata Azizi.

Dalam beberapa hari terakhir, Centcom, atau Komando Pusat Amerika Serikat, memberikan pernyataan bahwa serangan tersebut dilakukan untuk membalas tindakan Iran yang diduga mengganggu keamanan laut. Meski demikian, Iran menilai bahwa AS tidak memperhatikan konteks politik dan diplomatik sebelum mengambil langkah serangan. Dalam hal ini, Azizi menekankan bahwa konsistensi dari AS adalah kunci dalam menegaskan kepercayaan pihak Iran terhadap proses negosiasi.

Ketegangan antara Iran dan AS tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral, tetapi juga pada kemitraan internasional. MoU yang ditandatangani pada akhir Februari 2026 dianggap sebagai titik balik penting dalam menciptakan kestabilan di wilayah tersebut. Namun, pernyataan Trump dan tindakan militer AS menciptakan suasana yang tidak mendukung efektivitas perundingan. Azizi mengingatkan bahwa jika AS tidak berkomitmen pada prinsip negosiasi, maka kesepakatan gencatan senjata akan sulit tercapai.

Sementara itu, MoU yang berlaku mulai 18 Juni 2026 juga menjadi jembatan bagi Iran untuk mencabut sanksi ekonomi yang telah dijatuhkan selama bertahun-tahun. Proses ini diharapkan memberikan ruang bagi pertukaran kepentingan antara kedua negara, terutama dalam mengatasi masalah nuklir dan konflik regional. Namun, dengan adanya serangan militer, kelancaran MoU menjadi terancam.

Menurut analisis diplomatik, MoU ini dirancang untuk memberikan waktu bagi Iran dan AS untuk saling menghormati persyaratan negosiasi. Kehadiran Trump dalam perundingan dianggap sebagai faktor penting, meskipun dalam beberapa minggu terakhir, ia dinilai tidak memenuhi janji untuk menghormati prinsip kesepakatan. Azizi mengkritik sikap Trump, yang menurutnya, sering kali berubah-ubah tergantung pada kepentingan politik saat ini.

Ketegangan antara Iran dan AS telah menciptakan dampak yang luas, termasuk pada hubungan dengan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah. Dengan tidak menyelesaikan masalah gencatan senjata, negara-negara tetangga berpotensi terlibat dalam konflik yang lebih luas. Azizi menilai bahwa jika AS tetap bersikeras, maka Iran akan terus mempertahankan kebijakan defensifnya dan tidak akan menyerah pada tekanan diplomatik.

Dalam konteks ini, MoU menjadi salah satu sarana penting untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan keinginan perdamaian. Meskipun ada keraguan terhadap komitmen Trump, Iran tetap berharap bahwa kebijakan AS akan konsisten dan tidak menyebabkan kemunduran dalam proses perundingan. Masa 60 hari yang diberikan Mo