New Policy: Janda Ini Hidup 37 Tahun sebagai Pria demi Besarkan Putrinya
Muthu Master: Tiga Dekade Lebih Mengenal Diri sebagai Pria demi Melindungi Anak
New Policy - Di sebuah pemukiman kecil yang terletak di negara bagian Tamil Nadu, India, masyarakat setempat telah lama mengenal sosok bernama Muthu Master. Selama hampir empat puluh tahun, ia tampil sebagai sosok pria yang rajin bekerja dengan gaya hidup sederhana. Penampilannya yang khas berupa kemeja putih dipadukan kain dhoti, kebiasaan merokok beedi, serta kediamannya yang berada di dekat sebuah kuil, menjadi ciri khas yang tak terlupakan. Namun, di balik kehidupan yang tampak biasa itu, tersimpan rahasia besar yang hanya diketahui segelintir orang.
Awal Mula Transformasi Identitas
Petchiammal, nama asli sosok yang kini dikenal sebagai Muthu Master, memulai perjalanan hidupnya dengan pernikahan pada usia dua puluh tahun. Suaminya bernama Shiva, namun kebahagiaan pernikahan itu hanya bertahan sangat singkat. Hanya dalam waktu lima belas hari setelah upacara pernikahan, sang suami meninggal mendadak akibat serangan jantung. Kondisi ini memaksa Petchiammal untuk menghadapi kenyataan pahit sebagai seorang janda muda yang tengah mengandung.
Setelah melahirkan seorang putri, ia harus berjuang keras memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Pekerjaan di sebuah pabrik arang di Thoothukudi menjadi sumber penghidupannya sehari-hari. Namun, sebuah peristiwa saat dalam perjalanan menuju tempat kerja mengubah arah hidupnya secara permanen. Seorang sopir truk mencoba memaksanya masuk ke dalam kendaraan, namun penolakan yang ia berikan justru memicu ancaman verbal yang membuatnya ketakutan luar biasa.
"Saya sedang berjalan menuju pabrik ketika seorang sopir truk berhenti dan mencoba memaksa saya masuk ke dalam kendaraannya. Saya menolak. Dia memaki saya lalu pergi, tetapi saya sangat ketakutan," kenangnya.
Keputusan Berubah Total
Ketakutan yang menghantui malam itu mendorongnya mengambil keputusan besar. Keesokan harinya, Petchiammal membeli pakaian pria dan mencukur rambutnya hingga pendek. Ia kemudian pergi ke Kuil Tiruchendur untuk beribadah terakhir kalinya dalam identitasnya sebagai perempuan. Keluar dari kuil dengan pakaian pria menandai berakhirnya era Petchiammal dan dimulainya era Muthu.
"Saat itulah Petchiammal berakhir. Saya menjadi Muthu," katanya.
Julukan "Master" melekat padanya ketika ia bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran di Thoothukudi. Beberapa tahun kemudian, ia berpindah ke Chennai sebelum akhirnya kembali ke kampung halaman bersama putrinya yang saat itu berusia sepuluh tahun. Mereka menetap di Desa Kattunaickkanpatti, tempat identitas aslinya tetap tersembunyi dari pandangan banyak orang. Bahkan putrinya sendiri baru mengetahui kebenaran ketika berusia tujuh tahun.
Menjaga Identitas di Tengah Masyarakat
Di desa tersebut, Muthu bekerja sebagai buruh tani. Keahliannya dalam menggunakan alat-alat pertanian seperti cangkul dan kapak membuatnya cepat dihormati oleh warga sekitar. Namun, menjalani kehidupan sebagai pria bukanlah hal yang mudah. Ia harus berbagi toilet umum dengan laki-laki lain, menjaga perilaku setiap saat, dan terus berhati-hati agar identitasnya tidak terbongkar.
"Mungkin sekarang saya sudah cukup tua, sehingga orang bisa menerima saya apa adanya," katanya sambil tertawa.
Untuk memperkuat identitas barunya, Muthu bahkan belajar merokok beedi. Menurutnya, kebiasaan tersebut membantu meyakinkan orang-orang bahwa dirinya adalah pria sejati. Ia juga mengingat pengalaman saat pulang larut malam ketika seorang pria mabuk menghampirinya. Dengan menyalakan beedi, pria mabuk itu memanggilnya "saudara", sebuah momen yang semakin menguatkan keyakinannya.
Selain menjaga identitas di depan masyarakat, Muthu juga menghadapi tantangan besar setiap bulan, yakni menyembunyikan siklus menstruasinya. Ia harus minum obat untuk mengatasi rasa sakit dan bekerja lebih keras agar tidak ada yang curiga. Ia mengalami menopause lebih awal pada usia empat puluh tahun.
"Saya ingin tetap menjadi janda dan membesarkan putri saya sendiri. Namun, keamanan apa yang bisa dijamin masyarakat untuk perempuan?" ujarnya.
Kini putrinya, Shanmugasundari, menjalankan toko kelontong di desa tetangga. Ia mengaku kehidupan mereka penuh perjuangan sejak kecil. "Hidup adalah perjuangan sepanjang waktu. Ibu saya sangat tangguh. Dia tidak pernah meminta apa pun dari saya. Kemandirian dan harga dirinya adalah kualitas terbaik yang dimilikinya," ujarnya.
"Penampilan ini memberi saya martabat dan membantu saya membesarkan putri saya," ujarnya kepada The Times of India, dikutip Jumat (10/7/2026).
Bagi warga desa, Muthu Master bukan sekadar sosok yang hidup sebagai pria, melainkan bukti nyata ketangguhan seorang ibu yang rela mengubah segala-galanya demi masa depan anaknya.