AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: Kejaksaan Prancis Dalami Ujaran Rasis Senator Paraguai terhadap Mbappe

Published Juli 8, 2026 · Updated Juli 8, 2026 · By Intan Hidayat

Kejaksaan Prancis Dalami Ujaran Rasis Senator Paraguai terhadap Mbappe

New Policy - Paris, Beritasatu.com – Unit penyelidikan Kejaksaan Prancis mulai mengejar kasus dugaan penghinaan dan hasutan kebencian yang dilakukan Celeste Amarilla, anggota dewan parlemen Paraguay. Senator dari Partai Liberal Radikal itu diduga memposting komentar berisi rasisme terhadap Kylian Mbappe, kapten Timnas Prancis, setelah pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026. Peristiwa tersebut terjadi pada 5 Juli 2026, saat Prancis menang melawan Paraguay dengan skor 3-2 di Stadion Stade de France.

Penyelidikan dimulai setelah Kantor Kejaksaan Paris menerima laporan dari Federasi Sepak Bola Prancis (FFF), yang menyoroti ucapan Amarilla. Seniman politik ini mengunggah sejumlah kritik ke media sosial, menghina latar belakang etnis, asal-usul, pendidikan, dan penampilan Mbappe. Tindakan tersebut menimbulkan kontroversi, karena Mbappe berhasil mencetak gol penentuan melalui tendangan penalti, membawa Tim Prancis ke babak perempat final menghadapi Maroko.

Aspek Hukum dalam Kasus ini

Menurut Kejaksaan Paris, Amarilla dituduh membuat komentar yang diduga menyebarkan kebencian atau memicu kekerasan berdasarkan identitas korban, seperti ras, agama, atau asal-usul. Jika terbukti bersalah, pelaku bisa dihukum penjara hingga satu tahun, atau denda 45.000 euro (sekitar Rp850 juta). Kebijakan hukum Prancis terhadap ujaran rasis ini mencakup aturan yang ketat terkait penggunaan media sosial sebagai sarana menyebarkan diskriminasi.

Kontroversi ini memicu reaksi beragam dari pihak terkait. Mbappe, yang menjadi sorotan utama, mengecam keras ucapan Amarilla dan menyebutnya tidak pantas menjadi anggota parlemen. Pemerintah Paraguay juga langsung memberikan pernyataan resmi mengecam tindakan senator itu, menegaskan bahwa komentar tersebut bertentangan dengan prinsip penghormatan terhadap martabat manusia. "Komentar itu jelas tidak merepresentasikan pandangan masyarakat Paraguay secara umum," ujar pihak pemerintah.

Komentar Amarilla dan Reaksi Politik

"Kepada Federasi Sepak Bola Prancis, saya sarankan mereka menyewa pengacara sebelum menyebarkan omong kosong," kata Amarilla kepada wartawan pada 7 Juli 2026, seperti dilansir dari AP.

Amarilla, yang berusia 61 tahun, menegaskan bahwa ia belum menerima pengumuman resmi dari otoritas Prancis terkait penyelidikan ini. Ia juga mengkritik dasar hukum yang digunakan FFF untuk mengajukan laporan, menilai bahwa aturan tersebut terlalu luas dan bisa diaplikasikan secara sembarangan. Senator ini menekankan bahwa isu rasisme hanya muncul setelah Mbappe mencetak gol penentuan, yang menjadi alasan utama untuk menyerangnya secara pribadi.

Komentar Amarilla, yang dikirimkan lewat akun media sosial, mengandung cemoohan terhadap Mbappe, termasuk mengaitkan penampilannya dengan stereotip budaya Afrika. Ucapan itu menyebar cepat dan memicu reaksi dari penggemar sepak bola di berbagai penjuru dunia. Meski ia telah menghapus beberapa unggahan, beberapa dari mereka masih bisa ditemukan di internet dan dijadikan bukti oleh pihak penyelidik.

Konteks Piala Dunia dan Dampak Komentar

Pertandingan antara Prancis melawan Paraguay pada 5 Juli 2026 menjadi momen penting dalam babak penyisihan grup Piala Dunia 2026. Kylian Mbappe, yang pada saat itu berusia 24 tahun, memperlihatkan performa luar biasa, termasuk mencetak gol penentuan. Keberhasilannya ini memicu perasaan kecil-besar di kalangan pemain, pelatih, dan pendukung timnas Prancis.

Amarilla, sebagai anggota dewan parlemen Paraguay, menganggap bahwa Mbappe, sebagai atlet Prancis, menjadi target penyerangan karena keberhasilannya di lapangan. Komentarnya yang dianggap rasis muncul sebagai respons emosional terhadap kemenangan tim Prancis. Tapi, tindakan ini dianggap sebagai bentuk kebencian yang memicu konflik antar bangsa. Selain itu, ucapan tersebut juga dianggap melanggar prinsip persatuan dalam olahraga.

Komunikasi antar Pihak dan Tindak Lanjut

Setelah kejadian ini, Amarilla menyatakan menyesali sebagian dari komentarnya. Ia mengungkapkan bahwa beberapa ucapan tersebut terlalu keras dan tidak terencana. Meski demikian, ia belum menarik diri dari kontroversi ini. "Saya tetap berpegang pada keyakinan bahwa Mbappe berhak dihargai, tapi ucapan saya bisa disebut kelewat jauh," ujarnya dalam sebuah wawancara singkat.

Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) menganggap komentar Amarilla sebagai tindakan "sangat menjijikkan" dan "tidak dapat diterima." Organisasi ini menekankan bahwa rasisme dalam olahraga adalah bentuk diskriminasi yang merugikan keadilan. Sementara itu, Kejaksaan Prancis menegaskan bahwa penyelidikan akan dilakukan secara ketat, dengan mempertimbangkan konteks kejadian dan dampak sosial.

Konteks kejadian ini juga menarik karena Piala Dunia 2026 dianggap sebagai ajang penting untuk menyebarluaskan nilai-nilai global seperti persatuan dan toleransi. Kejaksaan Prancis, sebagai lembaga penegak hukum, diharapkan menjadi contoh dalam menangani isu ujaran rasis yang muncul di masyarakat. Amarilla, meski belum resmi dikenai tindak pidana, menunjukkan bahwa politikus bisa menjadi sumber konflik antar budaya.

Perkembangan Terkini

Saat ini, Kejaksaan Paris masih memproses laporan yang masuk. Ucapan Amarilla yang diunggah di media sosial dianggap sebagai bukti kuat dari dugaan kebencian terhadap Mbappe. Meski ia sudah menghapus beberapa unggahan, berita ini tetap berdampak pada reputasinya sebagai wakil rakyat Paraguay. Pihak berwenang Prancis menegaskan bahwa semua komentar akan dianalisis secara menyeluruh.

Dalam beberapa hari terakhir, perdebatan terus berlanjut