AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: Netanyahu: Israel Pantang Mundur dari Wilayah Lebanon Selatan

Published Juni 19, 2026 · Updated Juni 19, 2026 · By Tegar Saputra

Netanyahu: Israel Teguh Mempertahankan Kehadiran di Wilayah Selatan Lebanon

New Policy - Dari Tel Aviv, Beritasatu.com –Kepala Pemerintahan Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa pihaknya menolak untuk mundur dari wilayah selatan Lebanon. Ia menegaskan bahwa kehadiran pasukan Israel di daerah tersebut tetap dijaga demi menjaga keamanan nasional. Menurut Netanyahu, masih terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh Israel di wilayah selatan, dan itu membutuhkan kesabaran serta komitmen yang tidak goyah terhadap kepentingan keamanan, sekaligus mempertahankan hubungan strategis dengan pihak Amerika Serikat.

Keamanan Wilayah Utara Jadi Fokus Utama

Netanyahu menegaskan bahwa prioritas utama pemerintahnya meliputi penegakan keamanan di wilayah utara Israel. Karena itu, ia menekankan perlunya mempertahankan zona keamanan yang dianggap sebagai benteng penting untuk melindungi wilayah tersebut dari ancaman luar. "Memulihkan keamanan di wilayah utara Israel memerlukan pemeliharaan zona keamanan di selatan Lebanon, dan tidak akan menarik diri dari daerah itu selama kebutuhan keamanan Israel masih ada," jelasnya, mengutip Middle East Monitor pada Jumat (19/6/2026).

“Masih ada tantangan tambahan di depan kita, dan itu membutuhkan ketenangan, komitmen yang teguh terhadap kepentingan keamanan kita, serta menjaga hubungan penting dengan teman-teman Amerika Serikat kita,” ujar Netanyahu.

Kehadiran militer Israel di wilayah selatan Lebanon menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi potensi serangan dari kelompok Hizbullah. Meskipun terdapat ketentuan dalam nota kesepahaman atau kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran yang menegaskan penghormatan terhadap integritas teritorial Lebanon, Netanyahu berpendapat bahwa kebutuhan keamanan Israel tetap mengatasi perjanjian tersebut.

Operasi Militer Terus Berlanjut

Militer Israel juga mengumumkan bahwa operasi militer akan terus dilakukan di wilayah selatan Lebanon. Tindakan ini mencakup upaya-upaya menghilangkan ancaman dari berbagai sumber, termasuk di luar zona keamanan yang telah ditetapkan. "Pertahanan keamanan memerlukan aksi aktif di berbagai lokasi, bukan hanya di zona yang dianggap aman," sambung pernyataan militer tersebut.

Pada malam hari Kamis (18/6/2026), Israel meluncurkan serangan terbaru yang menargetkan posisi Hizbullah di selatan Lebanon. Serangan ini dilakukan sebagai respons terhadap kegiatan militer kelompok tersebut yang dianggap mengganggu kestabilan daerah. Menurut laporan Al Jazeera, operasi yang berlangsung sepanjang malam hingga Jumat (19/6/2026) dikabarkan telah menyebabkan kematian setidaknya 16 individu di wilayah tersebut.

Kebutuhan Keamanan Menjadi Penentu

Netanyahu menegaskan bahwa kebutuhan keamanan Israel adalah alasan utama untuk tetap mempertahankan kehadiran militer di selatan Lebanon. "Kita tidak bisa mengabaikan ancaman yang terus mengintai, terutama dari pihak yang ingin mengganggu stabilitas negara kita," katanya. Ia juga mengatakan bahwa zona keamanan ini menjadi garis pertahanan kritis, terutama setelah serangan-serangan sebelumnya yang mengakibatkan kerugian signifikan.

Kehadiran Israel di wilayah selatan Lebanon dianggap sebagai bagian dari upaya lebih besar untuk memperkuat posisi keamanan di wilayah utara. Meskipun kesepakatan antara AS dan Iran mengakui kedaulatan Lebanon, pihak Israel berpendapat bahwa zona keamanan tetap diperlukan untuk mencegah kembali ancaman dari organisasi-organisasi yang berbasis di wilayah tersebut.

Langkah Politik dan Militer Terkait

Sementara itu, sejumlah media Amerika Serikat melaporkan bahwa Israel sedang berdiskusi dengan pemerintah AS untuk memastikan keberlanjutan kehadiran pasukan mereka di selatan Lebanon. Diskusi ini dianggap penting untuk memenuhi kebutuhan keamanan jangka panjang, terutama setelah serangan terbaru yang menewaskan 16 orang. Meski demikian, negara-negara lain seperti Iran masih menganggap zona keamanan Israel sebagai ancaman terhadap kedaulatan Lebanon.

Pembicaraan dengan Washington diharapkan dapat memberikan dukungan keuangan dan politik bagi operasi militer Israel. Namun, pihak AS juga mempertimbangkan kesepakatan damai sementara yang mengharuskan menghormati wilayah Lebanon. "Kita perlu menyeimbangkan antara keamanan Israel dan kesejahteraan Lebanon," kata seorang sumber dari Departemen Luar Negeri AS.

Implikasi Politik dan Militer

Langkah Israel ini menimbulkan tekanan terhadap Lebanon, yang telah lama menjadi lokasi konflik antara pihak berkuasa dan kelompok oposisi. Pemeliharaan zona keamanan di selatan Lebanon dikhawatirkan akan memperpanjang konflik dan meningkatkan risiko perang sipil. Namun, Netanyahu menegaskan bahwa keberhasilan dalam mengamankan wilayah utara Israel adalah prioritas yang tak tergantikan.

Pembicaraan dengan Washington juga diharapkan dapat mengurangi ketegangan dengan negara-negara lain, terutama setelah beberapa tahun terakhir yang penuh dengan perang gerilya. "Kita perlu kerja sama internasional untuk mencapai kestabilan jangka panjang, tetapi keamanan nasional tetap menjadi prioritas utama," kata sumber pemerintah Israel.

Artikel Terkait

Dukung MBG, Ratusan Warga Sumut Serahkan 2.000 Tanda Tangan Pramono Anung Soroti Kematian Siswi SMAN 6 Jakarta 10 Pelatih Bergaji Tertinggi pada Piala Dunia 2026, Scaloni Kalah Jauh Bareskrim Pulangkan DPO Jaringan Fredy Pratama dari Malaysia Wapres Gibran Tinjau Kesiapan Pelaksanaan MBG di Wilayah 3T KPK Periksa Fuad Hasan Masyhur Terkait Korupsi Haji Proses Inventarisasi dan Pendataan Barang di Hotel Sultan Eksekusi Pengosongan Lahan Hotel Sultan di Kawasan GBK Berujung Bentrok Karut-marut Program MBG Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional Negara yang Ikut Berkurban Membumikan “Opera” di Lintasan Khatulistiwa