Peta Dunia Disetujui Diubah, Mengapa AS hingga Jepang Keberatan?
PBB Dorong Penggunaan Peta Dunia yang Lebih Proporsional
Amalzakat.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September 2026 menyetujui sebuah resolusi yang mengajak lembaga internasional, media, dan dunia pendidikan memakai proyeksi peta dunia yang dinilai lebih adil dalam menampilkan luas daratan. Gagasan tersebut dikenal sebagai “Correct the Map” dan mendapat dukungan mayoritas anggota PBB.
Inti inisiatif itu adalah mengurangi ketimpangan visual yang selama berabad-abad melekat pada banyak peta dunia. Afrika menjadi perhatian utama karena kerap terlihat jauh lebih kecil daripada ukuran geografisnya yang sebenarnya ketika ditampilkan melalui peta konvensional.
Resolusi tersebut mengangkat proyeksi Equal Earth, rancangan kartografer Bojan Šavrič, Bernhard Jenny, dan Tom Patterson yang diperkenalkan pada 2018. Peta ini dirancang untuk memberikan gambaran luas benua dan negara yang lebih seimbang, tanpa menghilangkan bentuk dunia yang mudah dikenali pembaca.
Mengapa Proyeksi Mercator Dipersoalkan?
Selama ini, proyeksi Mercator menjadi salah satu format peta paling umum digunakan. Peta yang dibuat Gerardus Mercator pada 1569 itu mempunyai kegunaan besar untuk navigasi laut karena mempertahankan arah kompas dalam garis lurus. Namun, kelebihan tersebut datang dengan konsekuensi: wilayah yang semakin jauh dari khatulistiwa tampak membesar secara drastis.
Contoh paling mudah terlihat pada perbandingan Greenland dan Afrika. Dalam peta Mercator, keduanya dapat tampak hampir serupa ukurannya. Padahal, luas Afrika sekitar 14 kali lipat Greenland. Distorsi semacam itu membuat pembaca peta berisiko membangun persepsi keliru mengenai skala kawasan-kawasan dunia.
Profesor James Cheshire dari University College London menjelaskan bahwa karakter proyeksi Mercator memang berkaitan dengan tujuan awalnya. Garis kompas dibuat tetap sejajar agar praktis digunakan pelaut, sementara ketepatan perbandingan luas wilayah tidak menjadi prioritas utama.
Bagi pengguna peta sehari-hari, persoalan ini bukan sekadar soal tampilan. Peta muncul di ruang kelas, buku, siaran berita, dokumen pemerintah, dan layar digital. Gambaran yang terus diulang dapat ikut membentuk cara masyarakat membayangkan posisi, pengaruh, serta ukuran relatif suatu negara atau benua.
Afrika Dorong Perubahan Kartografi
Negosiasi resolusi dipelopori negara-negara anggota Uni Afrika dengan Togo mengambil peran diplomatik penting. Menjelang pemungutan suara, Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey menekankan bahwa peta turut membentuk pemahaman manusia tentang dunia, memengaruhi pendidikan, memperkaya imajinasi, dan membentuk pandangan bersama.
Dalam resolusinya, anggota Uni Afrika menyatakan keinginan untuk mengakhiri kekeliruan kartografi yang telah berlangsung sangat lama. Mereka memandang pembetulan distorsi ukuran benua sebagai bagian dari keadilan kognitif dan pemulihan sejarah, sekaligus upaya memperkuat pengetahuan geografis yang benar serta saling pengertian antarnegara.
Uni Afrika menyambut keputusan itu melalui platform X. Organisasi tersebut menilai rekomendasi penggunaan Equal Earth di sekolah, media, dan institusi internasional sebagai langkah bersejarah. Harapannya, masyarakat global dapat melihat Afrika dalam skala yang lebih mendekati kondisi sesungguhnya, termasuk bobot dan posisi strategis benua tersebut.
Resolusi PBB ini tidak bersifat mengikat. Artinya, negara, organisasi, penerbit, dan lembaga pendidikan tidak diwajibkan segera mengganti seluruh peta yang mereka gunakan. Meski demikian, dukungan di tingkat PBB memberi dorongan simbolis dan institusional yang kuat bagi perubahan cara dunia menampilkan geografi.
Penolakan AS dan Kekhawatiran Soal Batas Politik
Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak resolusi tersebut. Deputi Perwakilan AS untuk Dewan Ekonomi dan Sosial PBB, Yaryna Ferencevych, menyampaikan keberatan keras dan menilai keputusan itu mengejek pekerjaan serta tujuan lembaga tersebut.
Washington memandang isu perubahan peta ini melampaui urusan ketepatan geografis. Pemerintah AS melihatnya sebagai proyek ideologis yang dianggap terlalu radikal. Dalam proyeksi Equal Earth, Amerika Serikat dan Rusia memang terlihat lebih kecil secara relatif dibandingkan tampilan pada proyeksi Mercator.
Enam negara memilih abstain: Estonia, Georgia, Lithuania, Moldova, Serbia, dan Ukraina. Keputusan tersebut terkait kekhawatiran mengenai tampilan perbatasan politik pada situs peta Equal Earth, terutama di kawasan yang memiliki sengketa kedaulatan.
Perwakilan Ukraina mengingatkan bahwa pemakaian peta tanpa perlindungan yang memadai terhadap masalah batas wilayah dapat memunculkan persoalan serius seputar Crimea yang diduduki Rusia.
“kotak Pandora”
Lithuania juga menyoroti ketidakakuratan pada representasi peta politik. Jepang mengajukan keberatan melalui kedutaannya di Washington setelah empat pulau yang disengketakan dengan Rusia, yang disebut Jepang sebagai Northern Territories, diberi warna sama seperti wilayah Rusia.
Dukungan dengan Catatan Kedaulatan
Sejumlah negara yang mendukung resolusi tetap menyampaikan syarat terkait representasi wilayah mereka. India, misalnya, mendukung langkah tersebut, tetapi juru bicara Shri Randhir Jaiswal menegaskan bahwa Jammu, Kashmir, dan Ladakh harus digambarkan sesuai peta resmi India.
Posisi India memperlihatkan perbedaan penting antara peta fisik dan peta politik. Equal Earth terutama ditujukan untuk memperbaiki perbandingan luas daratan, sedangkan penetapan garis batas, status wilayah, dan warna kedaulatan tetap dapat memicu perdebatan diplomatik.
Irlandia, yang berbicara atas nama Uni Eropa, turut menekankan konteks keputusan PBB tersebut. Perdebatan yang muncul menunjukkan bahwa perubahan proyeksi peta dapat menyentuh dua isu sekaligus: ketelitian dalam menggambarkan geografi dan sensitivitas dalam menampilkan klaim politik.
Bagi pembaca, perubahan ini mengingatkan bahwa tidak ada satu peta datar yang mampu menampilkan seluruh sifat bumi berbentuk bulat tanpa kompromi. Setiap proyeksi memilih aspek tertentu untuk dipertahankan. Mercator membantu navigasi, sementara Equal Earth berupaya menghadirkan ukuran wilayah secara lebih proporsional. Resolusi PBB membuka ruang lebih luas bagi penggunaan peta yang sesuai dengan kebutuhan dan konteksnya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Peta Dunia Disetujui Diubah Mengapa AS hingga?Peta Dunia Disetujui Diubah Mengapa AS hingga is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Peta Dunia Disetujui Diubah Mengapa AS hingga matter?Peta Dunia Disetujui Diubah Mengapa AS hingga matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.