Sekjen PBB Tagih Janji Dana Iklim dari Negara Maju
Sekjen PBB Tagih Janji Dana Iklim dari Negara Maju
Amalzakat.com – Sekjen PBB Tagih Janji Dana Iklim kepada negara-negara maju agar segera memenuhi komitmen pendanaan sebesar US$ 300 miliar atau sekitar Rp 4.800 triliun setiap tahun. Dana tersebut dinilai penting untuk membantu negara berkembang menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin serius, mulai dari bencana alam, ancaman pangan, perpindahan penduduk, hingga tekanan ekonomi.
Seruan itu disampaikan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres dalam forum Foreign Policy Circle Talks bertajuk “Eight Decades of the United Nations: What's Next?” di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (19/10/2026). Guterres menegaskan bahwa negara-negara yang paling rentan justru memikul dampak perubahan iklim paling besar.
Negara Rentan Menanggung Beban Paling Berat
Menurut Guterres, percepatan perubahan iklim telah menciptakan ancaman yang saling berkaitan. Dampaknya tidak hanya berupa cuaca ekstrem atau kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat mendorong pengungsian, kelaparan, ketidakstabilan, serta kerugian ekonomi yang membebani masyarakat dan pemerintah di negara berkembang.
“Perubahan iklim semakin cepat dan negara-negara rentan menanggung dampak paling berat, mulai dari pengungsian dan kelaparan hingga ketidakstabilan serta kerugian ekonomi,” ujar Guterres.
Ia juga mengingatkan bahwa suhu global diperkirakan akan melampaui ambang batas aman kenaikan 1,5 derajat Celsius dalam beberapa tahun mendatang. Karena itu, dunia perlu memperkuat langkah untuk menekan besarnya lonjakan suhu sekaligus membatasi dampaknya terhadap kehidupan manusia.
Dalam konteks tersebut, Sekjen PBB Tagih Janji Dana Iklim sebagai bagian dari tanggung jawab negara maju dalam mendukung transisi negara berkembang. Pendanaan yang konsisten dibutuhkan agar negara-negara rentan dapat mempercepat penyesuaian terhadap perubahan iklim tanpa mengabaikan kebutuhan pembangunan dan kesejahteraan masyarakatnya.
Dana Adaptasi dan Kerugian Iklim Jadi Prioritas
Guterres meminta negara maju tidak hanya memenuhi komitmen dana US$ 300 miliar per tahun, tetapi juga melipatgandakan pendanaan adaptasi hingga tiga kali lipat. Dana adaptasi dibutuhkan negara berkembang untuk memperkuat kesiapan menghadapi risiko iklim yang telah terjadi maupun ancaman yang diperkirakan meningkat pada masa mendatang.
“Negara-negara maju harus menepati janji mereka untuk menyediakan 300 miliar dolar AS per tahun guna mendukung negara-negara berkembang dalam masa transisi dan melipatgandakan dana adaptasi hingga tiga kali lipat,” tegasnya.
Selain pembiayaan transisi dan adaptasi, Guterres menyoroti pentingnya dukungan bagi skema kerugian dan kerusakan atau loss and damage. Skema ini diperlukan untuk membantu masyarakat dan negara yang sudah mengalami dampak iklim berat, termasuk kerusakan yang tidak dapat sepenuhnya dicegah melalui upaya mitigasi maupun adaptasi.
Sistem Peringatan Dini untuk Semua Populasi
Dalam pesannya, Guterres juga menekankan perlunya sistem peringatan dini atau early warning system yang terjangkau bagi seluruh populasi, termasuk masyarakat di wilayah terpencil. Akses terhadap informasi risiko secara cepat dapat membantu warga dan pemerintah menyiapkan langkah perlindungan sebelum bencana terjadi.
Sekjen PBB Tagih Janji Dana Iklim bukan semata soal pemenuhan angka pendanaan. Desakan tersebut menegaskan perlunya solidaritas internasional agar negara berkembang memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk melindungi masyarakat, menjaga ketahanan pangan, serta menghadapi kerugian ekonomi akibat krisis iklim.
FAQ Dana Iklim PBB
Apa yang diminta Sekjen PBB kepada negara maju?
António Guterres meminta negara maju memenuhi komitmen penyediaan dana iklim US$ 300 miliar per tahun untuk mendukung negara berkembang dalam masa transisi, sekaligus meningkatkan dana adaptasi hingga tiga kali lipat.
Mengapa dana adaptasi iklim penting bagi negara berkembang?
Dana adaptasi membantu negara berkembang mempersiapkan diri menghadapi dampak perubahan iklim, termasuk risiko bencana, gangguan pangan, perpindahan penduduk, dan kerugian ekonomi.
Apa yang dimaksud dengan loss and damage?
Loss and damage merujuk pada dukungan untuk menangani kerugian dan kerusakan akibat dampak perubahan iklim yang telah dirasakan masyarakat dan negara rentan.