Special Plan: Ahli: Gempa Venezuela dan Jepang Jadi Pelajaran Penting bagi Indonesia
Ahli: Gempa Venezuela dan Jepang Jadi Pelajaran Penting bagi Indonesia
Special Plan - Dari Jakarta, Beritasatu.com – Bencana gempa yang melanda Venezuela dan Jepang menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam menghadapi risiko alam. Ahli gempa menekankan bahwa efek dari suatu bencana tidak hanya bergantung pada ukuran getarannya, tetapi juga pada siap tidaknya masyarakat dan kualitas struktur bangunan. Perbedaan cara menghadapi bencana di dua negara ini menunjukkan pentingnya penerapan teknik kegempaan dan komitmen terhadap standar bangunan tahan guncang. Profesor Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Prof Sarwidi, menjelaskan bahwa gempa adalah fenomena alam yang tidak bisa dihindari, tetapi kerusakan dan korban jiwa bisa ditekan dengan mitigasi yang tepat.
Perbandingan Antara Kedua Negara
Di Venezuela, gempa beruntun dengan magnitudo 7,1 dan 7,5 terjadi dalam waktu singkat, yakni 39 detik. Kedalaman guncangan yang dangkal, sekitar 10 kilometer, membuat dampaknya lebih terasa. Menurut Sarwidi, intensitas guncangan mencapai IX MMI, yang berarti sangat kuat. Sebaliknya, di Jepang, gempa dengan kekuatan 7,2 dan kedalaman 15 kilometer menghasilkan intensitas VIII MMI. Meski kedua peristiwa berbeda dalam kekuatan dan kedalaman, dampaknya justru sangat berlawanan.
“Di Venezuela, bangunan beton dan tembokan nondaktail yang kaku dan rapuh langsung retak parah saat gempa pertama, lalu ambruk total ketika gempa kedua datang hanya 39 detik kemudian. Pola ini identik dengan wilayah yang abai terhadap standar bangunan,” jelas Prof Sarwidi dalam keterangan resminya, Jumat (26/6/2026).
Di Jepang, kesiapan mitigasi bencana berjalan efektif karena sistem bangunan tahan gempa yang diterapkan secara konsisten. Prof Sarwidi mengatakan bahwa banyak bangunan modern di sana menggunakan teknologi seismic isolation atau sistem peredam getaran. Teknologi ini memungkinkan struktur bangunan tetap fleksibel dan tidak mudah rusak saat menghadapi guncangan. “Struktur didesain daktil, mampu bergoyang fleksibel meredam energi, bukan melawan guncangan hingga patah,” tambahnya.
Kesiapan Jepang tidak hanya berasal dari teknologi, tetapi juga dari budaya mitigasi yang terbentuk dari generasi ke generasi. Masyarakat Jepang terbiasa mengikuti simulasi bencana sejak usia dini, sehingga ketika gempa terjadi, respons mereka terorganisir dan cepat. Selain itu, sistem peringatan dini yang terintegrasi serta prosedur tanggap darurat yang disiplin juga menjadi faktor penentu. Saat guncangan terjadi, alarm gempa langsung direspons, dan transportasi otomatis dihentikan untuk mengurangi risiko kecelakaan.
“Gempa tidak pernah menjadi mesin pembunuh. Yang mematikan adalah bangunan yang tidak ramah gempa dan masyarakat yang tidak teredukasi. Itulah sebabnya setiap gempa harus kita jadikan laboratorium alam untuk belajar, agar bangsa ini tidak mengulang kesalahan yang sama,” tegas Profesor Sarwidi.
Kelompok keahlian mengatakan bahwa perbandingan Venezuela dan Jepang bisa menjadi bahan refleksi bagi Indonesia. Negara ini berada di kawasan Ring of Fire, area geologis rawan bencana yang mencakup wilayah paling tajam di dunia. Prof Sarwidi menekankan bahwa penerapan standar bangunan tahan gempa, peningkatan kesadaran masyarakat, serta sistem mitigasi yang solid adalah investasi jangka panjang. “Perbaikan ini perlu dilakukan secara terus-menerus untuk mengurangi risiko di masa depan,” ujarnya.
Faktor-Faktor Penyebab Perbedaan Dampak
Perbedaan antara kedua negara tersebut terletak pada faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas mitigasi. Di Venezuela, struktur bangunan yang tidak memenuhi standar membuat kerusakan lebih parah. Sementara di Jepang, kesadaran masyarakat yang tinggi dan kebijakan pemerintah yang konsisten mencegah kekacauan besar. Sarwidi juga menjelaskan bahwa kepanikan massal sering kali memperparah situasi di daerah yang belum siap menghadapi bencana.
Dalam konteks Indonesia, risiko gempa menjadi tantangan yang signifikan. Negara ini memiliki daerah rawan seismik yang luas, termasuk Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Namun, di banyak wilayah, kualitas bangunan belum memadai, dan kesadaran mitigasi masih rendah. Dengan mempelajari pengalaman Venezuela dan Jepang, Indonesia bisa memperbaiki sistemnya. Sarwidi menambahkan bahwa adaptasi teknologi, seperti sistem peredam getaran, juga penting untuk meningkatkan daya tahan bangunan.
Menurut ahli, Indonesia perlu mengembangkan kebijakan yang mengintegrasikan pendidikan bencana ke dalam kurikulum sekolah. Selain itu, pemerintah harus memastikan bahwa standar bangunan dipatuhi, terutama di daerah paling rentan. “Kesiapan mitigasi adalah tanggung jawab bersama, mulai dari pemerintah hingga masyarakat,” jelas Sarwidi. Ia menyoroti bahwa penguatan struktur dan kesadaran masyarakat adalah dua pilar utama dalam mengurangi kerugian akibat gempa.
Keseimbangan antara Teknologi dan Budaya
Di Jepang, penanganan bencana menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kebiasaan mengikuti simulasi, mengenali tanda-tanda gempa, dan mengambil tindakan segera adalah hal yang wajar. Prof Sarwidi menyoroti bahwa keberhasilan mitigasi juga bergantung pada kebiasaan masyarakat. Di Venezuela, situasi berbeda. Masyarakat belum terbiasa menghadapi gempa, sehingga kepanikan sering kali menjadi faktor utama dalam meningkatkan korban.
Kemudahan akses informasi dan sistem peringatan dini juga menjadi diferensiasi antara kedua negara. Di Jepang, sistem ini telah diintegrasikan ke dalam kehidupan pemerintah dan masyarakat. Sebaliknya, di Venezuela, kurangnya infrastruktur pendukung membuat respons saat bencana lebih lambat. Sarwidi menekankan bahwa dalam menghadapi bencana, pengetahuan dan kesadaran masyarakat adalah kunci. “Masyarakat yang terlatih akan mengurangi risiko kecelakaan, bahkan sebelum gempa terjadi,” tambahnya.
Dengan membandingkan Venezuela dan Jepang, Indonesia bisa memahami bahwa investasi dalam kesiapan bencana adalah langkah yang penting. Prof Sarwidi mengingatkan bahwa kegagalan dalam mitigasi bisa menyebabkan kerusakan yang jauh lebih besar, terutama di wilayah dengan populasi padat. “Jepang menunjukkan bahwa dengan perencanaan matang dan penerapan teknologi, kita bisa mengurangi dampak gempa secara signifikan,” pungkasnya.
Analisis dari ahli gempa ini relevan dengan tantangan Indonesia yang masih menghadapi beberapa daerah dengan infrastruktur bangunan yang belum memadai. Meski teknologi konstruksi modern sudah tersedia, penggunaannya belum merata. Sarwidi menyarankan bahwa pemerintah harus terus mendorong penerapan building code dan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam program mitigasi. Dengan pendekatan seperti ini, Indonesia bisa meminimalkan kerugian akibat bencana alam di masa depan.