Special Plan: FBI Sita 600 Drone Lebih, Langit Piala Dunia 2026 Dijaga Ketat
Piala Dunia 2026 Dijaga Ketat, FBI Sebarkan 600 Drone di Bawah Kewaspadaan
Special Plan - Amerika Serikat, Beritasatu.com – Piala Dunia 2026 yang akan diadakan di AS, Kanada, dan Meksiko dianggap sebagai acara dengan risiko keamanan tinggi. Untuk menghadapi ancaman dari luar, otoritas federal AS, khususnya Biro Investigasi Federal (FBI), meningkatkan langkah pencegahan terhadap penggunaan drone di area penyelenggaraan pertandingan. Sejak dimulainya turnamen, lebih dari 600 drone telah disita di 11 kota tuan rumah, menunjukkan tingkat kepatuhan yang masih rendah meski telah diberikan peringatan sebelumnya.
Kenaikan Drastis Penyitaan Drone
Kenaikan jumlah drone yang disita mencapai tiga kali lipat dibandingkan bulan Juni lalu, ketika FBI hanya mencatat sekitar 15 unit drone ilegal di sekitar lokasi pertandingan. Peringatan tersebut dikeluarkan sebagai langkah antisipatif, namun pelanggaran terus terjadi. Operator drone yang melanggar aturan pembatasan penerbangan sementara (temporary flight restriction/TFR) berisiko dikenai denda hingga US$ 100.000 atau setara Rp 1,63 miliar, serta bisa menghadapi tuntutan hukum federal.
“Sebagai bagian persiapan kami, FBI juga memprioritaskan kapabilitas sistem antipesawat nirawak (C-UAS). FBI telah bekerja sama dengan mitra federal dan penegak hukum di kota tuan rumah untuk memastikan fasilitas deteksi, pelacakan, dan mitigasi ada di setiap lokasi,” kata FBI.
Selama pertandingan, ruang udara di sekitar stadion dan area festival suporter menjadi fokus pengawasan ketat. FBI mengungkapkan bahwa keamanan di udara dianggap setara dengan keamanan di darat. Tim khusus penegak hukum drone ditempatkan di berbagai lokasi, sementara teknologi canggih seperti deteksi frekuensi radio (RF) dan pemantauan radar dioperasikan untuk menemukan dan menindak drone ilegal.
Strategi Kolaboratif dengan FAA
Dalam upaya meminimalkan risiko ancaman, FAA bekerja sama dengan Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Departemen Kehakiman AS untuk memperketat pengawasan selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Kebijakan pemberlakuan TFR diterapkan sejak akhir Mei 2026, dengan zona larangan terbang mencakup radius tiga mil laut (sekitar 5,6 kilometer) dari stadion serta ketinggian hingga 3.000 kaki. Di area festival suporter, batas terbang lebih ketat, hanya satu mil laut (sekitar 1,85 kilometer) dengan ketinggian maksimal 1.000 kaki.
Para operator drone diminta untuk memeriksa status wilayah udara melalui aplikasi B4UFLY yang disediakan FAA di perangkat iOS dan Android. Meski sudah diumumkan sejak awal persiapan turnamen, tingkat pelanggaran masih tinggi, menunjukkan banyak pihak mengabaikan aturan tersebut. FBI menjelaskan bahwa data penyitaan drone mencerminkan kebutuhan untuk terus memperkuat pengawasan di udara.
“Melindungi ruang udara di atas lokasi kegiatan Piala Dunia sama pentingnya seperti melindungi darat,” demikian pernyataan FBI.
Kota dengan Penyitaan Terbanyak
Dari seluruh kota tuan rumah, Miami menjadi lokasi dengan jumlah drone yang disita paling tinggi, yakni 99 unit. Di belakangnya, Los Angeles menempati posisi kedua dengan 91 drone, disusul Dallas (78 drone) dan Atlanta (77 drone). Kota lain seperti Kansas City (61), Seattle (52), San Francisco (48), Boston (44), serta wilayah New York/New Jersey (38) dan Philadelphia (29) juga turut tercatat dalam daftar penyitaan. Houston mengumpulkan 24 drone, jumlah yang tidak kalah signifikan.
Keberhasilan FBI dalam menyita drone menunjukkan efektivitas sistem pencegahan yang diterapkan. Selain itu, agen FBI juga memiliki wewenang untuk melacak, menangkap, serta memproses operator drone yang melanggar aturan. Tindakan ini dilakukan berdasarkan kewenangan dari Departemen Kehakiman AS, yang memberikan otoritas menyita perangkat serta menuntut pelaku secara hukum.
Deteksi dan Mitigasi Drone sebagai Prioritas
Dalam menegakkan kebijakan TFR, FBI mengintegrasikan berbagai sistem deteksi canggih, termasuk radar dan teknologi RF. Teknologi ini ditempatkan di seluruh fasilitas yang terkait dengan penyelenggaraan turnamen, seperti stadion dan pusat pengumpulan suporter. Selain itu, penegak hukum khusus ditempatkan untuk mengawasi dan mengamankan area tersebut secara langsung.
Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pengamanan terpadu yang melibatkan lembaga federal dan aparat penegak hukum di kota-kota tuan rumah. FBI mengatakan bahwa peningkatan penggunaan drone ilegal selama acara menunjukkan perlunya kerja sama yang lebih ketat antarinstansi. Upaya ini bertujuan mengurangi kemungkinan gangguan yang bisa merusak pertandingan atau menjadi ancaman terhadap keamanan publik.
Implikasi Penyitaan Drone Selama Turnamen
Statistik penyitaan drone mencerminkan intensitas pengawasan yang dilakukan FBI. Dengan lebih dari 600 drone disita, jelas terlihat bahwa kesadaran masyarakat tentang aturan penerbangan sementara masih perlu ditingkatkan. Meski telah dipublikasikan sebelum turnamen dimulai, masih ada operator yang mengabaikan batasan tersebut.
Untuk mencegah potensi risiko, FBI juga mengaktifkan teknologi paling canggih untuk mendeteksi drone yang mungkin terbang tanpa izin. Kehadiran sistem ini di setiap lokasi pertandingan memberikan perlindungan ekstra terhadap acara olahraga internasional yang digelar di tiga negara. Dengan langkah tersebut, FBI berusaha menjamin keamanan selama Piala Dunia 2026 berlangsung tanpa hambatan.
Pengawasan drone bukan hanya untuk mencegah penggunaan ilegal, tetapi juga untuk memastikan kegiatan utama turnamen berjalan lancar. Selain itu, keberhasilan penyitaan drone menjadi bukti bahwa upaya penegakan hukum di udara bisa berdampak signifikan dalam mengurangi ancaman dari luar. FBI terus memantau situasi dan memperkuat strategi ini hingga acara selesai.