Special Plan: Penggantian Perdana Menteri Ukraina Picu Pengunduran Diri Massal
Special Plan: Ukraina Ganti PM, Kabinet Mengundurkan Diri
Special Plan - Kyiv, Beritasatu.com – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky resmi mengumumkan Special Plan untuk mengganti posisi Perdana Menteri Yulia Svyrydenko. Keputusan strategis ini diambil setelah Svyrydenko hanya menjabat selama kurang lebih satu tahun. Pengumuman tersebut langsung memicu gelombang pengunduran diri massal dari seluruh anggota kabinet pemerintah Ukraina. Langkah besar ini terjadi di saat ketegangan antara Ukraina dan Rusia sedang mencapai puncaknya. Special Plan ini menjadi perhatian dunia internasional karena dampaknya yang signifikan terhadap stabilitas politik Ukraina.
Zelensky menjelaskan bahwa perombakan ini diperlukan guna memastikan pelaksanaan strategi politik yang telah diperbarui sesuai dengan kebutuhan terkini. Dalam pernyataannya yang disampaikan pada hari Minggu, tanggal 12 Juli 2026, sang presiden belum secara spesifik menyebutkan nama calon pengganti Svyrydenko maupun jabatan baru yang akan diemban oleh perdana menteri saat ini. Namun, ia menegaskan bahwa akan ada perubahan signifikan di jajaran pimpinan lembaga-lembaga penegak hukum. Special Plan ini dirancang untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas pemerintahan.
"Saya berterima kasih kepada Yulia atas kerja yang jelas, konsisten, dan efektif sebagai perdana menteri, serta pengabdiannya selama bertahun-tahun bagi Ukraina. Saya juga telah menawarkan kepadanya kesempatan memimpin bidang baru dan penting dalam hubungan dengan mitra utama," tulis Zelensky melalui akun X, seperti dilansir Reuters.
Zelensky menambahkan bahwa pemerintah akan mengajukan perubahan tersebut kepada parlemen untuk memperoleh persetujuan resmi. Svyrydenko, yang merupakan seorang ekonom berpengalaman, awalnya diangkat sebagai perdana menteri pada bulan Juli 2025. Sebelumnya, ia telah menjabat sebagai wakil kepala kantor kepresidenan selama satu tahun dan juga sebagai wakil perdana menteri yang membidangi pengembangan ekonomi serta perdagangan selama empat tahun. Melalui Special Plan ini, Zelensky berharap dapat menciptakan pemerintahan yang lebih responsif terhadap tantangan yang dihadapi Ukraina.
Skandal Midas dan Dampaknya terhadap Pemerintahan
Zelensky juga belum memberikan penjelasan rinci mengenai alasan perubahan yang diusulkannya terhadap para pimpinan lembaga penegak hukum. Selama setahun terakhir, Ukraina diguncang oleh skandal korupsi terbesar dalam sejarah negara tersebut. Skandal ini berujung pada pengunduran diri kepala administrasi kepresidenan yang sangat berpengaruh. Kasus yang dikenal dengan nama Midas itu diduga melibatkan skema suap senilai seratus juta dolar Amerika Serikat di perusahaan listrik tenaga nuklir milik negara, yaitu Energoatom. Special Plan ini juga bertujuan untuk membersihkan pemerintahan dari pengaruh skandal tersebut.
Skandal tersebut menyeret sejumlah tokoh yang dekat dengan Zelensky dan menjadi sorotan internasional ketika Kyiv berupaya meyakinkan negara-negara Barat mengenai komitmennya memberantas korupsi tingkat tinggi. Pihak berwenang menuduh mantan rekan bisnis Zelensky, Timur Mindich, sebagai dalang utama skema suap tersebut. Sementara itu, mantan kepala staf Zelensky, Andriy Yermak, juga ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang sama. Keduanya membantah keras melakukan pelanggaran apapun. Implementasi Special Plan diharapkan dapat memulihkan kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah.
Kandidat Calon Perdana Menteri Baru
Berdasarkan hukum Ukraina, pengunduran diri perdana menteri harus mendapat persetujuan parlemen dan secara otomatis menyebabkan seluruh kabinet mengundurkan diri. Sejumlah anggota parlemen menyebut beberapa nama yang berpeluang menggantikan Svyrydenko, yakni Menteri Energi Denys Shmyhal, Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov, serta Kepala Naftogaz Serhiy Koretskyi. Anggota parlemen oposisi Yaroslav Zhelezniak menilai Koretskyi memiliki peluang terbesar untuk dicalonkan sebagai perdana menteri. Special Plan ini membuka peluang bagi figur-figur baru untuk memimpin Ukraina ke arah yang lebih baik.
Sementara itu, Svyrydenko disebut berpeluang ditunjuk sebagai duta besar Ukraina untuk Amerika Serikat (AS), menggantikan Olga Stefanishyna yang baru dilantik sebagai duta besar di Washington pada Agustus tahun lalu. Langkah ini menunjukkan bahwa Zelensky ingin menempatkan figur berpengalaman di posisi-posisi strategis untuk memperkuat diplomasi dan stabilitas internal negara di tengah situasi geopolitik yang kompleks. Dengan Special Plan ini, Ukraina berharap dapat menghadapi tantangan domestik dan internasional dengan lebih efektif dan terkoordinasi.