AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Special Plan: Selat Hormuz Masih Sepi Mencekam Pascadamai AS-Iran, Ini Hambatannya!

Published Juni 18, 2026 · Updated Juni 18, 2026 · By Rizki Maulana

Selat Hormuz Masih Sepi Mencekam Pascadamai AS-Iran, Ini Hambatannya!

Special Plan - Pasca-perjanjian awal antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik bersenjata yang memicu krisis energi terbesar sepanjang sejarah, Selat Hormuz masih menunjukkan aktivitas pelayaran yang relatif rendah. Presiden Donald Trump, dalam unggahan di platform Truth Social pada Minggu (14/6/2026), menyatakan keyakinan optimis bahwa perdagangan energi global akan kembali normal segera. Namun, tiga hari setelah kesepakatan diumumkan, data dari pelacak kapal menunjukkan bahwa lalu lintas di selat tersebut belum menunjukkan peningkatan signifikan.

“Kapal dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!” tulis Trump dalam pesannya.

Reaksi pasar energi terhadap pernyataan Trump justru menunjukkan penurunan harga minyak global, menunjukkan ketidakpastian yang masih menggantung. Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak internasional, sebelumnya menjadi sasaran utama ketegangan antara AS dan Iran. Sebelum konflik pecah, rata-rata 120 hingga 140 kapal melintasi selat tersebut setiap hari, dengan sekitar setengah di antaranya berupa tanker minyak yang mengangkut 20 juta barel per hari. Namun, kondisi berubah drastis setelah Iran menutup selat sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel pada akhir Februari.

Sebagai akibatnya, blokade laut yang diterapkan AS terhadap pelabuhan Iran juga memperparah situasi. Meskipun kesepakatan awal antara kedua negara telah diumumkan, lalu lintas kapal tetap terbatas. Berdasarkan data dari MarineTraffic, hanya tujuh kapal yang tercatat melewati Selat Hormuz sejak pengumuman tersebut. Di antara jumlah tersebut, beberapa tanker minyak Iran berhasil melewati garis blokade AS, yang dianggap sebagai ekspor pertama dalam dua bulan terakhir.

Lebih dari 550 kapal masih terjebak di kedua sisi selat, menunggu izin atau kondisi yang dianggap aman untuk melanjutkan perjalanan. Pemerintah Iran memastikan bahwa semua kapal yang ingin melintas harus berkoordinasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan mengikuti jalur yang dekat dengan garis pantai. Meski Trump mengklaim Selat Hormuz kini terbuka lebar untuk pelayaran internasional, pengambilan keputusan tetap dipengaruhi oleh risiko keamanan yang belum stabil.

Dalam beberapa minggu terakhir, Teluk menjadi sasaran serangan rudal dan drone bersenjata yang intens. Kondisi ini menimbulkan ketakutan bagi kapal-kapal komersial yang melintasi selat, yang pada titik ter sempit hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer. Kedua pihak, AS dan Iran, juga pernah menyerang kapal komersial selama konflik berlangsung. Sepekan sebelum kesepakatan diumumkan, militer AS dilaporkan menyerang tiga kapal, termasuk tiga pelaut asal India yang gugur dalam salah satu insiden.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (Centcom) sebelumnya menyatakan bahwa operasi blokade laut berhasil mengalihkan 142 kapal komersial yang mematuhi aturan dan menonaktifkan sembilan kapal yang tidak patuh. Meski langkah tersebut mencerminkan upaya untuk menciptakan keseimbangan, perwakilan industri pelayaran masih cemas akan kembalinya ketegangan yang bisa mengganggu kegiatan mereka kembali. Haider Anjum, analis ekuitas senior dari Jyske Bank, menegaskan bahwa normalisasi pelayaran tidak akan terjadi hanya karena adanya kesepakatan politik.

Menurut Anjum, pemilik kapal dan perusahaan asuransi membutuhkan bukti nyata bahwa kondisi keamanan telah stabil dalam jangka waktu cukup lama. Ia menyatakan bahwa diperlukan periode tanpa insiden keamanan yang berkelanjutan sebelum risiko terhadap pelayaran dianggap benar-benar berkurang. Diperkirakan, pemulihan kepercayaan ini bisa memakan waktu hingga empat bulan, tergantung pada konsistensi kebijakan kedua pihak dalam menjaga ketenangan.

Kesepakatan damai permanen dijadwalkan dimulai setelah perundingan lebih lanjut di Swiss, namun banyak pelaku industri masih khawatir jika ketegangan kembali memanas, aktivitas pelayaran bisa terganggu kembali. Selat Hormuz, yang selama ini menjadi tulang punggung perdagangan minyak global, kini terlihat seperti salah satu jalur yang paling rentan terhadap fluktuasi politik. Maka, meski ada tanda-tanda pemulihan, kehati-hatian masih menjadi kunci bagi para pelaku industri.

Dalam konteks ini, keberhasilan stabilisasi Selat Hormuz tidak hanya bergantung pada perjanjian antara AS dan Iran, tetapi juga pada kemampuan kedua pihak untuk mempertahankan komitmen selama periode yang cukup lama. Pemantauan terhadap jalur pelayaran tetap intens, mengingat ancaman dari berbagai pihak yang masih aktif di wilayah tersebut. Jika keamanan benar-benar terjamin, aktivitas perdagangan bisa kembali normal, tetapi jika tidak, selat yang sebelumnya menjadi jantung transportasi minyak dunia mungkin tetap dalam keadaan mencekam.