Topics Covered: Militer AS Gunakan Taktik Iran untuk Selundupkan Minyak
Pasukan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) Mengadopsi Strategi Iran untuk Selundupkan Minyak
Topics Covered - Dubai, Beritasatu.com – Angkatan Laut AS terlibat dalam sejumlah operasi rahasia yang meniru teknik selundupan minyak yang biasa digunakan Iran, terutama di perairan Selat Hormuz. Operasi ini bertujuan menjaga kelancaran ekspor energi dari negara-negara Teluk, yang terganggu akibat tindakan pembatasan lalu lintas pelayaran oleh Iran. Dengan memanfaatkan pesawat tanpa awak, kapal tanpa awak, serta helikopter, tim militer AS membantu mengarahkan konvoi kapal ke tanker besar yang menunggu di perairan Teluk Oman.
Metode Selundupan yang Dikendalikan AS
Menurut laporan yang mengutip sumber dari Reuters, Rabu (17/6/2026), operasi selundupan ini menggunakan pendekatan yang sama dengan taktik Iran, yakni menghindari deteksi internasional. Sementara Iran biasanya memanfaatkan metode ini untuk mengelak dari sanksi, AS kini menggunakannya untuk mempertahankan aliran minyak setelah Iran mengurangi aksesibilitas jalur transportasi utama.
“Analisis kami menunjukkan bahwa sebanyak 116 kapal terlibat dalam proses selundupan ini,” kata seorang pejabat pertahanan AS dalam wawancara dengan Reuters.
Titik Pusat dan Dinamika Operasi
Operasi dimulai sejak awal Mei 2026, dengan dua lokasi utama menjadi titik pemuatan: lepas pantai Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA), dan dekat Pelabuhan Sohar, Oman. Pada Selasa (16/6/2026), data satelit mencatat 12 pasangan kapal melakukan transfer minyak secara simultan, delapan di dekat Sohar dan empat di Fujairah. Aktivitas mencapai puncaknya pada 11 Juni 2026, ketika jumlah pasangan kapal naik menjadi 17.
Dalam proses selundupan, kapal tanker harus bertemu di titik tertentu sebelum memasuki Selat Hormuz, dengan jarak antar kapal berkisar 3.000 hingga 4.000 meter. Transponder kapal dimatikan dan lampu redupkan untuk mengurangi risiko diketahui oleh pihak luar. Setelah melewati zona yang tidak terkendali oleh Iran, kapal tanker lalu berlabuh ke kapal besar, Very Large Crude Carrier (VLCC), untuk melakukan pengisian bahan bakar.
Peran Helikopter dan Dukungan Militer
Reuters melaporkan bahwa helikopter Apache milik AS, yang jatuh di tangan Iran pada 9 Juni 2026, diduga terlibat dalam operasi ini. Namun, peran spesifik helikopter tersebut belum dapat dipastikan. Seorang pejabat militer AS membantah bahwa pasukan Komando Pusat (Centcom) secara langsung mengendalikan seluruh proses selundupan.
Kapal yang terlibat dalam transfer minyak dilaporkan mempercepat perjalanan mereka, sementara operasi dilakukan secara teratur dalam beberapa hari. Menurut data pelayaran, sekitar 116 kapal aktif dalam kegiatan ini, dengan volume transfer mencapai 90 juta barel mentah dan produk minyak selama periode Mei hingga Juni 2026. Angka ini, meski signifikan, masih jauh dari rata-rata lalu lintas minyak sebelum konflik, yang mencapai 20 juta barel per hari.
Dampak Strategi AS terhadap Ekspor Minyak
Operasi ini menunjukkan adaptasi militer AS dalam mengatasi tekanan dari Iran. Dengan menggunakan metode yang terbukti efektif sebelumnya, AS berhasil mempertahankan ekspor minyak meskipun jalur utama terganggu. Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa strategi ini juga mengakibatkan perubahan pola distribusi minyak, di mana kapal tanker harus beradaptasi dengan jadwal yang berbeda.
Analisis lebih lanjut oleh Reuters menunjukkan bahwa aktivitas selundupan ini tidak hanya memengaruhi pasokan minyak, tetapi juga menimbulkan tantangan dalam pengawasan internasional. Meski metode ini lebih efektif dalam menghindari pengintaian, operasi tersebut menggambarkan kebutuhan negara-negara Teluk untuk bersifat lebih proaktif dalam mengamankan supply chain energinya. Ini juga menyoroti peran militer AS dalam memainkan peran pendukung, sekaligus mengurangi risiko ketergantungan pada jalur utama yang rentan.
Analisis Satelit dan Tren Penurunan
Berdasarkan citra satelit yang dianalisis Reuters antara 2 Mei hingga 11 Juni 2026, operasi selundupan ini menunjukkan peningkatan volume, meski tidak cukup mengimbangi penurunan dari jalur utama. Selama puncak aktivitas, 17 pasangan kapal beroperasi bersamaan di dua lokasi, menciptakan aliran yang stabil meski berbeda dari kondisi normal.
Kegiatan ini menekankan pentingnya kolaborasi antara angkatan laut dan teknologi pelayaran modern. Dengan memanfaatkan jarak antar kapal yang jauh, serta teknik konvensional seperti mematikan transponder, AS mampu mengoptimalkan sistem yang lebih rahasia. Meski demikian, ada risiko bahwa tindakan ini bisa terdeteksi jika sistem pengawasan internasional semakin ketat.
Perluasan aktivitas selundupan ini menunjukkan bahwa negara-negara Teluk terus berusaha mempertahankan ekonominya, bahkan dalam kondisi konflik. Selama sekitar sebulan, 116 kapal terlibat, dengan beberapa kapal melakukan pindah muatan selama 24 hingga 40 jam. Setelah selesai, kapal pengangkut kembali melewati Selat Hormuz, sementara kapal penerima melanjutkan perjalanan ke pasar global.
Dengan meniru taktik Iran, AS menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi dalam situasi krisis. Strategi ini juga menegaskan bahwa perang laut tidak hanya tentang kekuatan kapal perang, tetapi juga tentang efisiensi logistik. Sementara Iran mengurangi akses ke jalur utama, AS menggantinya dengan jaringan selundupan yang lebih kompleks.
Menurut laporan Reuters, data satelit menunjukkan pola yang konsisten, dengan volume transfer minyak mencapai tingkat tertentu setiap hari. Jumlah ini, meski tidak mencapai angka sebelumnya, tetap menjadi keuntungan bagi negara-negara Teluk yang menghadapi tekanan ekonomi akibat konflik. Strategi AS ini diharapkan bisa menjadi model baru dalam pengelolaan rantai pasok minyak di tengah ketidakpastian geopolitik.
Kesimpulan dan Perbandingan
Dengan menggunakan metode selundupan yang sama dengan Iran, AS berhasil mengurangi dampak dari pembatasan lalu lintas pelayaran. Meski tidak sepenuhnya menggantikan sistem utama, operasi ini menunjukkan inisiatif penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Perbandingan dengan data sebelum konflik menunjukkan bahwa volume transfer hanya mencapai 90 juta barel, dibandingkan 20 juta barel per hari.
Operasi ini juga menjadi bukti bahwa militer AS tidak hanya fokus pada pertahanan, tetapi juga memainkan peran aktif dalam mendukung kebijakan ekonomi. Dengan mengadopsi teknik selundupan, AS memperkuat kapasitas negara-negara Teluk dalam menghadapi ancaman dari Iran. Meski demikian, tantangan utama tetap terletak pada keberlanjutan sistem ini, terutama jika konflik berlangsung lebih lama.