AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran, Pengamat: Teheran Tak Gentar

Published Juli 16, 2026 · Updated Juli 16, 2026 · By Tegar Saputra

Analisis Geopolitik: Iran Bertahan Hadapi Ancaman Trump

Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran Pengamat - Ketegangan antara Washington dan Teheran terus memanas seiring dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran. Pernyataan tersebut menarik perhatian para pengamat internasional yang menilai sikap Teheran tidak akan mudah goyah. Pitan Daslani, seorang pakar geopolitik internasional, menyatakan bahwa Iran di bawah kepemimpinan Mojtaba Khamenei memiliki keteguhan yang lebih kuat dibandingkan era sebelumnya.

Kesiapan Militer dan Masyarakat Iran

Menurut analisis Pitan, masyarakat Iran telah melalui persiapan matang untuk menghadapi kemungkinan konflik terbuka dengan kekuatan Amerika Serikat. Faktor-faktor penentu yang membuat Washington harus berhati-hati meliputi jumlah personel militer yang signifikan serta tingkat kesiapan warga sipil. Pitan menjelaskan bahwa saat ini kekuatan bersenjata Iran telah mencapai angka lebih dari satu juta personel.

"Selain itu, semua rakyat Iran sudah berlatih tembak-menembak sehingga siap perang melawan AS," ujar Pitan Daslani.

Kesiapan ini bukan hanya bersifat simbolis, melainkan merupakan hasil dari program pelatihan yang telah berjalan cukup lama. Hal tersebut memberikan keyakinan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur tidak akan serta-merta mengubah posisi negosiasi Teheran.

Ultimatum Tiga Tuntutan Utama

Pitan memprediksi bahwa Mojtaba Khamenei akan tampil perdana di hadapan publik pada tanggal 23 Juli 2026. Dalam kesempatan tersebut, pemimpin tertinggi Iran diperkirakan akan mengulang kembali ultimatum yang telah disampaikan sebelumnya pada 3 Maret 2026. Ultimatum tersebut mencakup tiga poin penting yang menjadi syarat utama bagi Iran.

Pertama, pencabutan menyeluruh terhadap seluruh sanksi ekonomi yang telah diterapkan sejak tahun 1979. Kedua, penarikan seluruh pasukan Amerika Serikat dari negara-negara Arab di kawasan tersebut. Ketiga, pembayaran kompensasi sebesar lima ratus miliar dolar Amerika kepada Iran sebagai ganti rugi atas berbagai kerugian yang dialami.

"Beliau kalau tampil akan mengulangi ultimatum pada 3 Maret 2026," kata Pitan, dikutip Beritasatu.com, Kamis (16/7/2026).

Konsekuensi Jika Tuntutan Tidak Dipenuhi

Jika ketiga tuntutan tersebut tidak dipenuhi oleh Amerika Serikat, Iran telah menyiapkan serangkaian langkah tegas. Langkah-langkah tersebut meliputi penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis distribusi energi global. Selain itu, Iran juga membuka peluang bagi negara-negara seperti China dan Rusia untuk mendirikan pangkalan militer di wilayahnya. Kemampuan nuklir Iran juga berpotensi digunakan sebagai alat tekanan tambahan.

Pitan menekankan bahwa Mojtaba Khamenei dikenal memiliki karakter yang lebih keras dibandingkan ayahnya. Oleh karena itu, ia tidak akan mudah menyerah dalam menghadapi tekanan internasional. Regim change yang diinginkan Trump dinilai sulit terwujud tanpa dukungan dari militer Iran sendiri, berbeda dengan kondisi Irak tahun 2003.

Dampak Terhadap Ekonomi Global

Selain dimensi militer dan politik, ketegangan ini juga memiliki implikasi signifikan terhadap pasar energi dunia. Posisi strategis Selat Hormuz membuat dinamika hubungan AS-Iran langsung memengaruhi harga minyak global. Sejak penandatanganan MoU, Amerika Serikat telah mendapatkan keuntungan miliaran dolar karena delapan negara Asia membeli minyak dalam jumlah besar.

Negara-negara Arab di kawasan Teluk kini menunjukkan kehati-hatian dalam merespons konflik ini. Mereka menyadari bahwa stabilitas jalur perdagangan energi sangat penting bagi keamanan ekonomi mereka. Sementara itu, Kongres Partai Demokrat melalui Chuck Schumer telah mengusulkan pemblokiran anggaran senilai 1,15 triliun dolar karena menilai Trump menjalankan perang tanpa persetujuan legislatif dan strategi yang jelas.