AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kemenkes: ISPA Akibat Karhutla Tembus 113.336 Kasus di 7 Provinsi

Published September 11, 2026 · Updated September 11, 2026 · By Rizki Maulana - amalzakat.com

Foto : Rizki Maulana - amalzakat.com

Kasus ISPA Meningkat di Tengah Kabut Asap Karhutla

Amalzakat.com – Gangguan kesehatan akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia. Hingga Rabu, 9 September 2026, jumlah kumulatif infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA telah mencapai 113.336 kasus di tujuh provinsi yang terdampak karhutla.

Kasus tersebut tercatat di 63 kabupaten dan kota. Wilayah yang masuk dalam cakupan dampak meliputi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, serta Sumatera Selatan. Peningkatan keluhan pernapasan terjadi bersamaan dengan penurunan mutu udara di beberapa daerah yang mengalami paparan asap.

Balita Menjadi Kelompok yang Perlu Diperhatikan

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, menyampaikan bahwa kasus ISPA terbagi ke dalam dua kelompok usia. Sebanyak 26.545 kasus dialami anak usia 0 sampai 5 tahun, sedangkan 86.791 kasus ditemukan pada penduduk berusia di atas 5 tahun.

“Laporan kasus ISPA terbagi dalam kelompok usia, yakni sebanyak 26.545 kasus menyerang balita usia 0 hingga 5 tahun, dan sebanyak 86.791 kasus terjadi pada kelompok usia di atas 5 tahun,” jelas Widyawati dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Data tersebut menempatkan anak balita sebagai kelompok yang membutuhkan perhatian khusus selama kondisi asap berlangsung. Usia dini masih berada dalam tahap perkembangan, sehingga keluarga perlu lebih peka terhadap munculnya keluhan seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, atau gangguan bernapas. Pemeriksaan ke fasilitas kesehatan dapat menjadi langkah penting ketika keluhan tidak membaik atau justru bertambah berat.

ISPA merupakan istilah untuk infeksi yang menyerang bagian saluran pernapasan. Dalam situasi karhutla, partikel dan polutan dalam asap dapat memperburuk kenyamanan bernapas serta memicu keluhan pada masyarakat yang terpapar. Kondisi udara yang memburuk juga dapat memengaruhi kegiatan harian, terutama bagi warga yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

Sejumlah Daerah Masuk Kategori Udara Berbahaya

Penurunan kualitas udara di wilayah terdampak terlihat dari indeks standar pencemar udara atau ISPU. Di beberapa lokasi, nilainya telah berada pada tingkat sangat tidak sehat hingga berbahaya. Kategori ini menjadi penanda bahwa risiko paparan polusi udara perlu diwaspadai secara serius oleh masyarakat dan pemerintah daerah.

Kategori berbahaya, yang ditandai warna hitam, terpantau di sejumlah kawasan Kalimantan Tengah. Area yang disebut mencakup Kabupaten Kotawaringin Timur sampai Kabupaten Murung Raya. Sementara itu, status sangat tidak sehat dengan penanda warna merah tercatat di Baning Kota, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, serta Kabupaten Tebo, Jambi.

Perbedaan kategori ISPU penting dipahami karena kualitas udara tidak selalu sama di seluruh wilayah terdampak. Kondisi dapat berubah mengikuti arah angin, sebaran asap, dan perkembangan kebakaran di lapangan. Warga di daerah dengan kualitas udara buruk perlu memperhatikan informasi resmi setempat, terutama sebelum merencanakan aktivitas luar ruang bersama anak-anak atau anggota keluarga yang rentan mengalami gangguan pernapasan.

Dalam keadaan udara sangat tidak sehat maupun berbahaya, mengurangi paparan asap menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan. Membatasi aktivitas di luar ruangan, menjaga ruang dalam tetap terlindung dari asap, serta menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai ketika harus berada di luar dapat membantu mengurangi kontak langsung dengan polutan.

Layanan Kesehatan Disiagakan Selama Tanggap Darurat

Untuk menghadapi kemungkinan bertambahnya pasien selama masa tanggap darurat, Kementerian Kesehatan menyiagakan 1.691 puskesmas dan 360 rumah sakit rujukan di tujuh provinsi terdampak. Kesiapan fasilitas ini diperlukan agar masyarakat yang mengalami gejala dapat memperoleh layanan kesehatan tanpa menunggu kondisi memburuk.

Keberadaan puskesmas menjadi penting karena fasilitas tersebut berada dekat dengan masyarakat di banyak kabupaten dan kota. Warga yang mengalami keluhan pernapasan dapat memanfaatkan layanan kesehatan terdekat untuk memperoleh pemeriksaan dan arahan penanganan. Rumah sakit rujukan juga disiapkan untuk kebutuhan layanan yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Situasi karhutla tidak hanya berkaitan dengan api di lokasi kebakaran, tetapi juga dengan dampak kesehatan yang dapat meluas melalui asap. Karena itu, pemantauan kualitas udara dan kesiapan pelayanan kesehatan perlu berjalan beriringan. Informasi mengenai kondisi ISPU dapat membantu masyarakat mengambil keputusan sehari-hari, sementara akses layanan medis mendukung penanganan cepat bagi warga yang mulai mengalami keluhan.

Masyarakat juga perlu memberi perhatian lebih kepada balita, lansia, serta anggota keluarga yang memiliki keluhan pernapasan. Jika muncul kesulitan bernapas, gejala yang semakin berat, atau kondisi kesehatan yang mengkhawatirkan, warga sebaiknya segera mengakses fasilitas kesehatan yang telah disiagakan.

Dengan 113.336 kasus yang telah tercatat, pengendalian dampak asap menjadi kebutuhan mendesak di tujuh provinsi tersebut. Perlindungan diri, pemantauan kondisi udara, dan pemanfaatan layanan kesehatan merupakan langkah yang dapat dilakukan masyarakat selama ancaman kabut asap akibat karhutla masih berlangsung.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Kemenkes?

Kemenkes is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kemenkes matter?

Kemenkes matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.