New Policy: Disindir ‘Cong’ di Depan Anak, Ruben Onsu: Lu Makan Duit Bencong!
New Policy: Ruben Onsu Sindir Sarwendah dan Giorgio Antonio atas Tuduhan 'Cong'
New Policy menjadi topik utama dalam wawancara Ruben Onsu terbaru di podcast Nanda Persada. Presenter kondang tersebut membuka pembicaraan mengenai konflik yang terjadi dengan Sarwendah, mantan istrinya, serta peran Giorgio Antonio dalam memperparah situasi. Dalam kesempatan itu, Ruben mengungkapkan kekecewaannya terhadap cara Sarwendah menggunakan istilah 'cong' dan 'bencong' untuk menyerangnya, terutama di depan anak-anak. Ia merasa bahwa tindakan tersebut bukan hanya merendahkan dirinya, tetapi juga memanfaatkan keuntungan finansial dari situasi yang terus memanas.
Sindiran di Depan Anak dan Keterbukaan Ruben
Ruben Onsu membeberkan bahwa dirinya pernah terluka saat Sarwendah menggunakan kata-kata hinaan di depan putrinya, Thalia. Ia menegaskan bahwa sebagai ayah, ia tak ingin anak-anaknya terkena dampak negatif dari konflik orang tua. "Jadiguecuman aduh, harusnya sudah biar itu jadi pribadi saja kalau elomenganggapgueseperti itu, tetapi kenapaelolakukan itu?" ungkap Ruben dengan nada kecewa. Menurutnya, kejadian tersebut terjadi di belakang layar dan sering memicu rasa syok pada dirinya.
“Depan anak gue pernah kok, depan Thalia pernah dia juga. Tetapigue enggakbisa berbuat apa-apa, ya sudahlah,” sambung Ruben Onsu.
Ketika ditanya tentang alasan Sarwendah dan Giorgio Antonio terus menyebarkan narasi tersebut, Ruben menjelaskan bahwa mereka terlihat menikmati dampak dari kecemburuan dan egois. Ia menilai bahwa istilah 'cong' menjadi alat untuk menurunkan citra dirinya, sementara mereka sendiri justru mengambil manfaat dari konflik yang semakin memuncak. "Sudah, elomau ngatain gue cong(bencong), elo ngatain gue ini, tetapi intinya elo makan duit (dari) bencong," tegasnya, mengungkapkan kekecewaannya terhadap cara mereka menangani masalah.
Proses Perceraian dan Narasi yang Dibangun
Menurut Ruben, perpisahan dengan Sarwendah bukanlah keputusan sembarangan, melainkan hasil dari proses yang matang. Namun, ia merasa bahwa Sarwendah dan keluarganya terus membangun narasi sebagai korban. "Mereka bilang kan gue yang ceraikan istri gue. Tunggu-tunggu, kita sebenarnya baik-baik, pada akhirnya siapa yang mau daftar (ke pengadilan), sudah aku saja maksud gue," kata Ruben. Ia juga menyebutkan bahwa setelah kesepakatan dibuat, berita tentang Sarwendah konsultasi ke pengadilan agama muncul, yang membuatnya merasa ada kejanggalan.
“Saya bertanya loh ini kok keluar. Banyak yang bilang gue ceraikan bini gue, ini gue jawab baru kali ini,” pungkasnya, menunjukkan kekecewaannya terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam menyebarkan fitnahnya.
Ruben menambahkan bahwa terdapat pihak yang sengaja memanfaatkan situasi keluarga untuk menaikkan popularitas. "Percakapannya dalam sebuah videolivebegitu ya itu seringbanget, mengucapkan hal, dipancing-pancing sama si lelaki itu. Harusnya sekeliling dia tidak boleh memancing, bukandipanasindemi sebuah jumlah penonton," sindirnya. Dengan adanya New Policy, ia berharap konflik ini dapat ditangani secara lebih profesional dan tidak mengganggu kehidupan anak-anak.
Permintaan untuk Kepedulian terhadap Anak
Dalam wawancara tersebut, Ruben juga menyampaikan keinginannya agar Sarwendah lebih peduli terhadap kesejahteraan anak-anak. Ia menilai bahwa ego dan keinginan pribadi Sarwendah membuatnya terus memperumit situasi. "Gue ingin bilang kan gue ini ayah untuk anak gue, jangan ditutup. Kalau elo sportif ke gue, asyik ke gue, nanti gue yang minta anak gue ikut mereka, kita bisa jadi keluarga yang fun," ujarnya. Permintaan ini menunjukkan bahwa Ruben masih membuka peluang untuk memperbaiki hubungan dengan Sarwendah, selama keterbukaan dan kepedulian terhadap anak-anak tetap diutamakan.
“Semuanya enggak ada urusan, tetap semangat, tetapi ketika saya kecintaannya dan sayangnya terhalang, mau ngomong apa? Saya enggak bisa apa-apa,” pungkas Ruben dengan pilu.
Ruben menegaskan bahwa meskipun ia berusaha tenang, kekecewaannya terus memuncak. Ia menilai bahwa Sarwendah dan orang-orang di sekitarnya tidak hanya menyakiti dirinya, tetapi juga merusak hubungan kekeluargaan. Dengan adanya New Policy, ia berharap agar semua pihak bisa lebih bijak dalam menyampaikan pendapat, khususnya di depan anak-anak. "Pengadilan itu jadi tempat untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk menyakiti," pungkasnya, menegaskan pentingnya menjaga harmoni keluarga meski dalam konflik.