AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Special Plan: Ini Penyebab Seseorang Tega Menganiaya Pasangan Berdasar Psikologi

Published Juni 23, 2026 · Updated Juni 23, 2026 · By Maya Kurniawan

Special Plan: Penyebab Kekerasan dalam Hubungan Berdasar Psikologi

Special Plan mengungkap fenomena kekerasan dalam hubungan pasangan yang semakin mendapat perhatian. Kasus seorang perempuan, YTR, berusia 29 tahun dari Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memicu diskusi tentang motivasi psikologis di balik tindakan penganiayaan. Setelah menghilang dari kehidupan keluarga hampir tiga tahun, keberadaannya terungkap melalui pesan WhatsApp yang menyebutnya berada di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dalam kondisi luka parah. Korban mengalami cedera serius di kepala, wajah, kaki, dan tangan, menunjukkan bahwa kekerasan ini bukan hanya kejadian spontan, tetapi mengandung pola yang terencana dan berkelanjutan. Dari pengakuan YTR, kekasihnya diduga melakukan penyekapan dan penganiayaan di beberapa lokasi di Cileunyi.

Kontrol Koersif: Strategi Dominasi dalam Special Plan

Dalam kerangka Special Plan, psikologi menjelaskan kekerasan sebagai bentuk kontrol koersif yang bertujuan mempertahankan kekuasaan dalam hubungan. Teori ini, yang dipopulerkan Profesor Evan Stark dalam buku

Coercive Control: How Men Entrap Women in Personal Life (2007)

, menekankan bahwa tindakan fisik hanyalah satu aspek dari strategi yang lebih kompleks. Pelaku memulai dengan membatasi akses korban ke lingkungan sosial, keluarga, atau sumber ekonomi, sehingga menciptakan ketergantungan emosional dan material. Proses ini menjadi bagian integral dari Special Plan, di mana korban akhirnya merasa terikat secara psikologis.

Special Plan juga menunjukkan bahwa kekerasan bisa dipicu saat korban menunjukkan tanda-tanda ingin merdeka. Pelaku merasa ancaman terhadap dominasinya, sehingga mengambil langkah ekstrem untuk mengembalikan ketertiban. Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam hubungan rumah tangga, tetapi juga di berbagai bentuk hubungan intim, seperti yang dialami YTR. Psikologi mengingatkan bahwa kita perlu memahami bahwa kekerasan dalam konteks Special Plan sering kali berlangsung secara tersembunyi, bahkan tanpa korban menyadari.

Siklus Kekerasan: Akar dari Pengalaman Masa Kecil

Special Plan juga mencakup siklus kekerasan yang terbentuk dari pengalaman masa kecil. Teori

siklus kekerasan

atau

cycle of violence

menjelaskan bagaimana trauma dari masa kecil bisa memengaruhi perilaku dewasa. Albert Bandura, melalui

Social Learning Theory

, menyatakan bahwa manusia belajar merespons konflik dengan mengamati lingkungan sekitar. Anak yang tumbuh di lingkungan penuh kekerasan lebih mungkin menganggap agresi sebagai cara penyelesaian masalah. Studi Cathy Spatz Widom menunjukkan bahwa individu yang mengalami kekerasan sejak kecil lebih rentan menjadi pelaku dalam Special Plan.

Di dalam Special Plan, pola kekerasan sering diakar pada pengalaman pribadi atau lingkungan sosial. Kekerasan dalam keluarga dianggap sebagai bagian dari kehidupan normal, sehingga membuat korban lebih mudah menerima tindakan serupa. Namun, faktor seperti kesulitan mengatur emosi atau sikap defensif terhadap kritik juga memperkuat kecenderungan melakukan kekerasan. Dengan memahami siklus ini, kita bisa mengidentifikasi tahapan awal dalam Special Plan sebelum kerusakan berlanjut.

Tipologi Pelaku: Gangguan Kepribadian dalam Special Plan

Special Plan menekankan peran tipologi pelaku dalam memicu kekerasan. Penelitian Amy Holtzworth-Munroe dan Gregory L. Stuart mengungkap bahwa pelaku sering menunjukkan gangguan kepribadian klaster B, seperti

narcissistic personality disorder (NPD)

dan

antisocial personality disorder (ASPD)

. Orang dengan NPD merasa harga diri terancam jika pasangan menolak atau mengkritik mereka, sehingga memicu

narcissistic injury

yang ekstrem. Sementara itu, ASPD membuat pelaku memiliki empati rendah, sehingga tidak merasa bersalah saat menyakiti orang lain, bahkan setelah tindakan mereka terungkap.

Special Plan menyoroti bahwa pelaku kekerasan bisa berperilaku dengan sengaja dan terencana. Mereka mungkin mengambil langkah-langkah kecil untuk membangun dominasi, lalu mengubahnya menjadi tindakan fisik yang mematikan. Dalam kasus YTR, kekerasan berlangsung selama tiga tahun, menunjukkan bahwa Special Plan sering kali mencakup tahapan perencanaan dan penyesuaian. Psikologi menekankan perlunya pengetahuan tentang jenis-jenis gangguan kepribadian agar kita bisa mengenali potensi tindakan kekerasan dalam Special Plan.

Special Plan juga menggambarkan bagaimana korban bisa terjebak dalam siklus kekerasan yang tidak terlihat. Dengan memahami alasan psikologis pelaku, kita dapat mencegah atau menghentikan kekerasan di awal. Kesadaran akan kecenderungan ini menjadi kunci untuk melawan kekuasaan yang tidak seimbang dalam hubungan. Dengan mempelajari konsep-konsep seperti kontrol koersif dan gangguan kepribadian, kita bisa memperkuat strategi pencegahan dalam Special Plan.