Key Discussion: Harganas 2026: Ketika Ayah Ada, tetapi Tembok Fatherless Tetap Berdiri
Harganas 2026: Peran Ayah dalam Membangun Kualitas Keluarga Indonesia
Key Discussion - Pada perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 tahun ini, tema yang diusung oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) adalah "Ayah Wajib Hadir". Tema ini menyoroti isu penting mengenai peran ayah dalam kehidupan keluarga, yang selama ini sering diabaikan meski banyak dari mereka tinggal bersama anak-anak. Dalam era modern di mana teknologi berkembang pesat, muncul tantangan baru dalam struktur keluarga, khususnya terkait keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.
Kehadiran ayah yang secara fisik ada di rumah, namun tidak secara emosional atau psikologis terlibat, membentuk fenomena yang disebut "present but absent". Fenomena ini berdampak pada pertumbuhan anak, meski tidak selalu karena perceraian, kematian, atau perpisahan orang tua. Dalam beberapa kasus, ayah tetap tinggal serumah, tetapi kehadirannya tidak terasa dalam aspek pengasuhan. Masalah ini semakin populer dalam studi sosial dan psikologis, termasuk konsep "fatherless country" yang menggambarkan kondisi anak-anak yang tumbuh tanpa figur ayah yang aktif.
“Kehadiran ayah memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter, kepercayaan diri, dan kesehatan mental anak,” jelas Sekretaris Kemendukbangga sekaligus Sekretaris Utama BKKBN Budi Setiyono.
Tema "Ayah Wajib Hadir" dipilih karena Kemendukbangga melihat perlunya perhatian nasional terhadap peran ayah. Dalam banyak konteks, ayah hanya dianggap sebagai penjaga keuangan keluarga, sementara pengasuhan sehari-hari jatuh ke tangan ibu. Hal ini menciptakan ketimpangan dalam pengembangan anak, baik secara mental maupun sosial. Perubahan interaksi akibat digitalisasi, stunting, serta isu perlindungan anak menjadi alasan mengapa peran ayah semakin mendesak untuk diperluas.
Keluarga dianggap sebagai fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Dengan demikian, kualitas pengasuhan anak harus menjadi prioritas. Kemendukbangga menekankan bahwa ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga bagian aktif dalam proses pertumbuhan keluarga. Peran mereka mencakup mendampingi, memberikan rasa aman, serta menjadi contoh yang baik bagi anak.
Fenomena "Fatherless" dan Budaya Patriarki
Fenomena "fatherless" di Indonesia tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh konstruksi sosial tradisional. Budaya patriarki yang sudah lama mengakar membuat tugas utama ayah dianggap sebagai penyedia kebutuhan ekonomi. Studi berjudul "Konstruksi Sosial Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak di Indonesia" yang diterbitkan oleh Jurnal Psikologi Sosial Universitas Indonesia menunjukkan bagaimana pandangan ini mengakar dalam masyarakat.
Penelitian tersebut menegaskan bahwa banyak ayah memandang kewajiban mereka selesai saat kebutuhan finansial keluarga terpenuhi. Setelah bekerja sepanjang hari, rumah hanya menjadi tempat beristirahat. Sementara itu, tanggung jawab mendidik, membimbing, dan mendengarkan anak sepenuhnya diberikan kepada ibu. Pola pikir ini menjauhkan hubungan emosional antara ayah dan anak, membuat anak tumbuh tanpa kesempatan membangun kedekatan yang kuat.
Di sisi lain, peran ayah dalam mendukung pertumbuhan anak terbukti sangat signifikan. Kehadiran ayah tidak hanya memperkuat kesehatan mental, tetapi juga memfasilitasi pembelajaran sosial dan akademik. Masalah "fatherless" menjadi bukti bahwa kurangnya partisipasi ayah dalam pengasuhan bisa menghambat proses pembentukan individu yang sehat. Hal ini menunjukkan bahwa peran ayah tidak bisa dipandang sekadar sebagai penyelesaian kebutuhan ekonomi.
Momen Transformasi Masyarakat melalui Harganas
Harganas ke-33 menjadi momentum untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap peran ayah. Dengan tema yang menyoroti keharusan ayah hadir, pemerintah mengajak seluruh pihak merenungkan keterlibatan aktif ayah dalam keluarga. Tantangan seperti ketimpangan peran pengasuhan, tekanan digitalisasi, dan isu kesehatan mental anak memperkuat urgensi tema ini.
Stunting, yang merupakan masalah kesehatan fisik anak, sering kali dikaitkan dengan lingkungan keluarga yang kurang mendukung. Peran ayah dalam memberikan asupan nutrisi, mengawasi pola makan, dan menciptakan suasana rumah yang sehat sangat penting. Namun, banyak ayah belum menyadari bahwa keterlibatan mereka dalam aspek emosional dan psikologis sama pentingnya sebagai pencari nafkah.
Kemendukbangga menegaskan bahwa peran ayah tidak boleh dipandang sempit. Kehadiran mereka yang fisik tidak cukup, tetapi harus disertai kehadiran emosional dan mental. Dengan kebijakan yang lebih inklusif, diharapkan masyarakat bisa mengubah pandangan bahwa ayah hanya bertugas menghasilkan pendapatan. Perspektif ini perlu diubah agar anak-anak dapat berkembang secara utuh.
Dalam konteks ini, Harganas 2026 tidak hanya menjadi perayaan keluarga, tetapi juga kesempatan untuk mereformasi pola pengasuhan. Pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk institusi pendidikan dan media, untuk mempromosikan peran ayah secara lebih aktif. Fenomena "fatherless" yang semakin berkembang membuktikan bahwa perubahan ini diperlukan untuk menjaga kualitas sumber daya manusia di masa depan.