AmalZakat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

KPK Panggil Adik Eks Kepala BNPB dalam Kasus Dana Bencana

Published Oktober 30, 2026 · Updated Oktober 30, 2026 · By Fajar Hakim - amalzakat.com

Foto : Fajar Hakim - amalzakat.com

KPK Periksa Kerabat Mantan Kepala BNPB dalam Pengembangan Kasus Dana Siap Pakai

Amalzakat.com – Komisi Pemberantasan Korupsi menjadwalkan pemeriksaan terhadap Nera Susanto, adik mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen TNI (Purn) Suharyanto, pada Jumat, 30 Oktober 2026. Pemeriksaan ini berkaitan dengan penyidikan dugaan korupsi penggunaan dana siap pakai atau DSP kebencanaan di lingkungan BNPB.

Nera akan dimintai keterangan sebagai saksi di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan. Ia dipanggil bersama lima orang lain yang berasal dari unsur swasta dan pihak-pihak yang memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa di BNPB.

“Pemeriksaan dilakukan di Gedung Merah Putih KPK atas nama NER, wiraswasta sekaligus adik Suharyanto, mantan Kepala BNPB,” ujar Juru Bicara KPK Budi Prasetyo, Jumat (30/10/2026).

Pemanggilan ini menjadi bagian dari pendalaman perkara yang telah naik ke tahap penyidikan. Fokus pemeriksaan berada pada dugaan penyimpangan dalam pengadaan kebutuhan penanggulangan bencana serta penggunaan dana yang disediakan untuk situasi darurat.

Enam Saksi Dijadwalkan Hadir

Selain Nera, penyidik menjadwalkan pemeriksaan terhadap Direktur PT Integra Teknika Solusindo, Eka Andriyanto. Tari Oktavia juga dipanggil sebagai staf keuangan yang berkaitan dengan Richard Erlangga, PT Erlangga Jala Persada, dan PT TLS.

Tiga saksi lainnya ialah Vanessa Annisa Utami, seorang karyawan swasta; Monica Utari Mariana, wiraswasta yang disebut terlibat dalam tim media dan kebutuhan keluarga Kepala BNPB; serta Nursadriani yang berstatus karyawan swasta atau tenaga honorer.

KPK belum memaparkan secara rinci daftar pertanyaan atau materi yang akan dikonfirmasi kepada keenam saksi tersebut. Namun, pemeriksaan dilakukan dalam rangka memperjelas rangkaian kegiatan pengadaan yang dibiayai DSP BNPB.

Dana siap pakai merupakan anggaran yang digunakan untuk mendukung penanganan bencana dan kondisi kedaruratan. Karena berkaitan dengan kebutuhan yang harus dipenuhi secara cepat, mekanisme pemilihan penyedia, pelaksanaan pekerjaan, serta pertanggungjawaban penggunaan anggaran menjadi bagian penting dalam penelusuran penyidik.

Pemeriksaan Istri Tersangka

Sehari sebelum pemeriksaan Nera, KPK telah meminta keterangan dari Sri Endang. Ia merupakan istri Bima Setiawan, tersangka dalam perkara ini yang juga adik mantan Kepala BNPB Suharyanto. Sri Endang diperiksa sebagai Komisaris PT Alfa Pranata Yudha.

Penyidik menelusuri kemungkinan adanya konflik kepentingan dalam proyek pengadaan barang dan jasa yang memakai dana siap pakai kebencanaan. Perusahaan-perusahaan yang dikaitkan dengan Sri Endang tercatat memperoleh sejumlah proyek BNPB sepanjang 2024 hingga 2026 dengan nilai mencapai Rp148 miliar.

“Saudara SE yang diduga merupakan salah satu vendor atau penyedia pelaksanaan pengadaan barang dan jasa di lingkungan BNPB,” kata Budi, Kamis (29/10/2026).

Pemeriksaan terhadap Sri Endang diarahkan untuk memastikan hubungan antara posisinya dalam perusahaan dan proses penetapan proyek-proyek tersebut. Penyidik juga ingin mengetahui apakah terdapat unsur konflik kepentingan yang berkaitan dengan pemberian pekerjaan kepada perusahaan yang terafiliasi dengannya.

“Dalam pemeriksaan ini penyidik butuh mengonfirmasi, butuh meminta keterangan berkaitan dengan dugaan unsur-unsur konflik kepentingan sehingga unsur-unsur itu kemudian terkonfirmasi,” ujarnya.

Selain dugaan konflik kepentingan, KPK mendalami jenis paket pekerjaan yang dikerjakan perusahaan-perusahaan tersebut. Penelusuran mencakup proses penunjukan penyedia serta mekanisme pengadaan untuk kebutuhan tanggap darurat dan penanggulangan bencana.

“Juga paket-paket pekerjaan apa saja yang dikerjakan oleh saksi selaku swasta yang mengerjakan sejumlah proyek penanggulangan ataupun tanggap darurat dari bencana yang bersumber dari dana siap pakai atau DSP di BNPB, termasuk proses dan mekanismenya,” tutur Budi.

Penyidik turut menggali sejauh mana peran Sri Endang dalam perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengannya. Hal yang diperiksa mencakup kemungkinan bahwa ia tidak hanya tertera dalam susunan perusahaan, melainkan juga ikut mengendalikan kegiatan usaha atau pengambilan keputusan.

Rangkaian pendalaman tersebut juga menyasar pihak yang mula-mula menginisiasi pengerjaan proyek BNPB. Dalam konteks itu, penyidik menelusuri kemungkinan keterlibatan Bima Setiawan serta hubungan antara penyedia pekerjaan dengan pejabat atau pihak yang memiliki akses dalam proses pengadaan BNPB.

Bermula dari Operasi Tangkap Tangan

Kasus ini mencuat setelah KPK melakukan operasi tangkap tangan terhadap 15 orang di Jakarta pada Selasa, 13 Oktober 2026. Seusai pemeriksaan awal dan gelar perkara, penanganan perkara ditingkatkan ke tahap penyidikan dengan penetapan lima tersangka.

Lima orang tersebut adalah Bima Setiawan, tenaga ahli Kepala BNPB sekaligus adik Suharyanto; Richard Erlangga, tenaga ahli Kepala BNPB; dan Gabriel Purwaka Sigit, kepala serta pejabat pembuat komitmen pada Subdirektorat Pengelolaan Bantuan dan Dana Kedaruratan BNPB.

Dua tersangka lainnya berasal dari kalangan swasta, yakni Syifa Nrika Ghifarin dan Gery Prasetiawan. KPK juga sempat mengamankan Sekretaris Utama BNPB Rustian dalam operasi itu. Rustian kemudian dilepaskan karena penyidik belum menemukan perbuatan melawan hukum yang dapat disangkakan kepadanya.

Perkara dugaan korupsi dana bencana ini ditangani KPK dalam dua kelompok perkara. Pemeriksaan saksi-saksi dari lingkaran keluarga, perusahaan, serta pelaksana pengadaan menjadi bagian dari upaya mengurai peran masing-masing pihak dan memperjelas aliran proses pengadaan yang menggunakan dana siap pakai BNPB.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is KPK Panggil Adik Eks Kepala BNPB?

KPK Panggil Adik Eks Kepala BNPB is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does KPK Panggil Adik Eks Kepala BNPB matter?

KPK Panggil Adik Eks Kepala BNPB matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.