Gus Salam Kritik Tindakan Ben-Gvir yang Menyiksa Aktivis Global Sumud Flotilla
Kritik Kelakuan Ben Gvir – TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sejumlah tokoh Muslim dari berbagai belahan dunia menyoroti kecaman yang dilontarkan oleh Gus Salam, pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib, terhadap tindakan kekerasan yang dilakukan aparat keamanan Zionis Israel terhadap para aktivis kemanusiaan. Pembebasan para aktivis dari blokade militer Israel di Gaza, Palestina, menjadi momen penting, namun Gus Salam tetap mempertanyakan sikap Israel yang dinilai tidak menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan hukum internasional.
Penahanan 428 Aktivis Pro-Palestina oleh Israel
Sebanyak 428 aktivis pro-Palestina dari berbagai negara, termasuk sembilan warga negara Indonesia (WNI), ditahan oleh militer Israel di perairan internasional saat berusaha menerobos blokade ke Gaza pada Selasa (19/5/2026) lalu. Aksi ini dilakukan oleh Global Sumud Flotilla (GSF), yang bertujuan memperkuat solidaritas internasional terhadap rakyat Palestina. Para aktivis tersebut menunjukkan keinginan untuk menyampaikan dukungan moral dan menghimpun perhatian dunia terhadap krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Kritik terhadap penahanan ini tidak hanya terpusat pada kekerasan yang dilakukan oleh Israel, tetapi juga pada cara pemerintah Zionis mengambil keputusan di tengah situasi darurat. Gus Salam menyoroti bagaimana tindakan pihak berwenang Israel memperumit situasi, khususnya dengan memaksa para aktivis berlutut sambil tangan mereka diborgol. Video penahanan tersebut viral di media sosial, mengundang reaksi keras dari berbagai pihak.
Peran Gus Salam dalam Dorong Solidaritas Global
Setelah seluruh WNI yang terlibat dalam operasi tersebut dibebaskan, Gus Salam menyambut keberhasilan pembebasan tersebut. Namun, ia menekankan bahwa kebebasan tersebut tidak cukup untuk menggantikan keadilan yang dicari. Dalam sebuah wawancara pada Minggu (24/6/2026), Gus Salam menjelaskan bahwa tindakan Israel mencerminkan ketidakpedulian terhadap norma kemanusiaan. “Aspek kemanusiaan harus diutamakan dari ketentuan dan batasan yang wajib dilakukan seseorang,” tegasnya.
“Ketika sedang menjalankan salat wajib saja boleh dibatalkan, bahkan wajib dibatalkan bila kondisi darurat untuk menyelamatkan manusia,” tambah Gus Salam, yang menggarisbawahi bahwa keselamatan individu adalah prioritas utama dalam situasi kritis.
Dalam penjelasannya, Gus Salam juga mengkritik tindakan Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel, yang dinilai memperparah ketegangan. Pria yang terkenal sebagai pemimpin pesantren tersebut menilai bahwa perlakuan Ben-Gvir terhadap aktivis menunjukkan sikap dominan dan agresif yang bertentangan dengan prinsip solidaritas. Ia menyoroti bagaimana Ben-Gvir, dalam video yang menjadi perdebatan, memaksa para aktivis berlutut sambil mengibarkan bendera Israel, serta menyampaikan pernyataan provokatif.
Kritik Terhadap Kepatuhan Israel terhadap Hukum Internasional
Sejumlah aktivis yang telah dibebaskan mengungkapkan pengalaman menyedihkan selama ditahan. Mereka melaporkan bahwa diri mereka mengalami penahanan, penyiksaan, dan pelecehan, yang dianggap sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Gus Salam menilai bahwa kejadian ini menunjukkan Israel tidak lagi mematuhi prinsip hukum internasional, terutama dalam menghadapi isu-isu yang menyangkut keadilan antarbangsa.
Ia juga mempertanyakan apakah Israel benar-benar tunduk pada hukum internasional atau hanya menggunakan kewenangan untuk memperkuat dominasi politik. “Susahnya mengubah watak Yahudi, terlebih dengan politik Zionis yang membentuk Israel Raya,” kata Gus Salam, menunjukkan bahwa pemerintah Zionis terus memperluas kekuasaan dan mengabaikan nilai-nilai global.
“Krisis kemanusiaan di Asia Barat atau Timur Tengah akan terus berlanjut jika politik Zionis tidak dihentikan,” tambah Gus Salam, yang mengkritik kebijakan pemerintah Israel terkait penggunaan sumber daya alam wilayah tersebut.
Konflik Berkepanjangan dan Eksplorasi Global
Dalam konteks yang lebih luas, Gus Salam menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya berakar pada isu kemerdekaan Palestina, tetapi juga dipengaruhi oleh kepentingan kapitalisme global. Menurutnya, ekspansi kekuasaan Israel terkait dengan pengelolaan minyak dan gas bumi di wilayah Timur Tengah, yang memberi tekanan pada pihak-pihak lokal. “Politik Zionis dibangun atas dominasi dan kepentingan kekuasaan, bukan semata-mata keinginan untuk melindungi rakyat,” imbuhnya.
Hal ini memicu pertanyaan tentang peran global dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan keadilan sosial. Gus Salam menilai bahwa walaupun Israel telah membebaskan para aktivis, keputusan mereka tetap menunjukkan sikap tidak setia terhadap prinsip kemanusiaan. Ia menekankan bahwa solidaritas internasional harus tetap menjadi pendorong utama untuk menekan kebijakan yang mengakibatkan penderitaan rakyat Palestina.
Di tengah upaya global membangun konsensus tentang penindasan Israel, Gus Salam meminta para pihak untuk tidak hanya fokus pada peristiwa yang terjadi, tetapi juga menganalisis akar masalah. “Kita perlu berpikir tentang bagaimana kebijakan Zionis bisa terus berjalan tanpa memperhatikan aspirasi rakyat Palestina dan nilai-nilai internasional,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa kritik terhadap Ben-Gvir adalah bagian dari gerakan lebih luas untuk mengubah wajah Israel menjadi negara yang lebih adil dan kompetitif dalam hubungannya dengan dunia luar.
Langkah-langkah yang diambil oleh Israel dalam menghadapi Global Sumud Flotilla tidak hanya menggambarkan ketegangan di Gaza, tetapi juga mencerminkan upaya untuk mengendalikan narasi internasional. Gus Salam, sebagai figur yang konsisten dalam mengkritik tindakan Zionis, berharap bahwa aksi moral dari sipil global bisa menjadi penentu dalam mempercepat perubahan kebijakan Israel. Dengan memperkuat gerakan solidaritas, ia yakin bahwa dunia bisa memberikan tekanan yang signifikan pada pemerintah Zionis untuk memperhatikan keadilan dan hak asasi manusia.
Kebijakan Israel yang dianggap provokatif oleh Gus Salam dan kelompok-kelompok kemanusiaannya tidak hanya merugikan rakyat Palestina, tetapi juga mengancam kepercayaan masyarakat internasional terhadap nilai-nilai yang mereka yakini. Dengan adanya kejadian seperti ini, ia menekankan bahwa solidaritas global harus terus dipertahankan, sekaligus menjadi benteng untuk melawan penguasaan kekuasaan yang semakin besar oleh negara-negara besar.
